Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa tantangan dan peluang diplomasi kemaritiman Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga saat ini. Permasalahan atau tantangannya yang ditemukan mempunyai kemiripan dari waktu ke waktu yaitu : kekurangan infrastruktur kelautan, kelangkaan moral atau sikap bahari bangsa Indonesia yang menjadikan laut merupakan sumber utama kehidupan dan kedaulatan, negara tetangga yang mengklaim wilayah Indonesia, negara yang tidak mau menandatangani atau yang tidak taat pada Hukum Laut Internasional, dan minimnya Strategi politik ketahanan Laut.
Arsip:
Terbitan
Lanskap geopolitik Asia semakin didominasi oleh persaingan antara AS dan Cina. Persaingan strategis antara kedua kekuatan besar telah menempatkan negara-negara Asia pada posisi yang sulit sebagai konsekuensi dari opsi zero-sum, baik mereka harus jatuh ke orbit Cina atau AS. Diplomasi struktural merupakan alternatif dimana negaranegara Asia dapat menghindari posisi dilematis ini. Sebagai kekuatan menengah, Indonesia berada dalam posisi untuk melakukan diplomasi struktural. Indonesia memiliki pengalaman di masa lalu dalam membentuk perilaku negara di wilayah tersebut. Baru-baru ini, Pandangan ASEAN tentang Indo-Pasifik mencerminkan kapasitas Indonesia untuk melakukan diplomasi struktural.
This article examines the evolution of the concept of security - from traditional security to encompassing non-traditional security - and its relevance to Indonesia’s efforts in maintaining and strengthening its national security and resilience. Traditionally, public understanding, analysis and prescription of security tended to follow way of thinking of the Realists/Neo-realis which focused more on national or state security.




