Apa itu aktivisme digital? Dalam edisi ini, Arindha Nityasari mendiskusikan apa yang dimaksud dengan aktivisme digital dan mengapa kita perlu terlibat di dalamnya. Di samping itu, Arindha juga membahas beberapa tingkatan aktivisme digital menurut Jordana J. George dan Dorothy E. Leidner, serta bagaimana membedakannya dengan slacktivism.
Arsip:
Terbitan
...in the context of a dominant extractivist regime, the global decarbonization agenda accelerates recarbonization and deepens fossil fuel dependency in mineral-rich countries, reinforcing social and environmental injustices associated with nickel extraction.
Pertanyaan penting yang muncul ketika membahas isu-isu terkait militer, dan tentu saja juga menjadi pertanyaan yang melatarbelakangi tulisan-tulisan pada edisi student working paper kali ini, adalah “apakah membahas perkara-perkara militer masih penting dalam studi sosial dan politik secara umum dan ilmu hubungan internasional secara khusus?”. Untuk menjawabnya, terdapat dua hal yang perlu dipertimbangkan; dari sisi keilmuan, isu-isu terkait militer dan fungsinya dalam konteks kemasyarakatan telah menjadi bahan kajian penting dalam studi-studi humaniora secara umum, termasuk ilmu politik. Sejarah literatur sejarah keilmuan mencatat setidaknya jejak-jejak diskusi mengenai relasi negara, militer dan masyarakat telah ada jauh sejak abad berabad-abad silam. Hal ini misalnya dapat terlihat dalam buah pemikiran filsafat politik Plato (2013) dan Hobbes (2016) tentang apa makna dan fungsi negara, Machiavelli (2019) yang membahas realisme politik, strategi militer oleh von Clausewitz (2003), serta teori-teori sosiologi Max Weber (2009). Setelah pengetahuan modern pesat berkembang pasca perang Dunia II, muncul pemikir-pemikir militer modern seperti Huntington (1981) dengan tipologi militer profesional, Janowitz (1988) yang membahas evolusi militer dalam masyarakat modern serta perkembangan militer terutama di negara-negara berkembang oleh Nordlinger (1977).




