Menaut Waktu, Merekam Jejak: Membingkai Ulang Diskursus Disabilitas Melalui Pameran Kolaboratif

Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) UGM, melalui sayap riset dan advokasinya, Institute of International Studies (IIS), turut serta dalam pembukaan pameran Menaut Waktu. Merekam Jejak. pada Sabtu (22/8) di Art Gallery Zona D, Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Pameran ini merupakan kolaborasi Jay Afrisando, Ba(WA)yang Production, Teater Braile, SAPDA, dan Sedikit Terlibat, sebagai bagian dari program Atelier KITLV-Framer Framed Artist in Residence 2025–26. 

Selain didukung oleh DIHI, IIS, dan GIK UGM; pameran yang dibuka untuk umum hingga Rabu (2/9) ini terselenggara dengan dukungan dari University of California Santa Cruz.

Pameran Menaut Waktu. Merekam Jejak. berupaya menyajikan praktik arsip dan kontraarsip kolaboratif yang bertujuan untuk menggali persepsi terhadap disabilitas dari masa prakolonial ke pascakemerdekaan hingga sekarang. Temuan arsip resmi mengenai disabilitas pada tiap-tiap periode tersebut kemudian secara kolaboratif direspons dengan mengembangkan kontraarsip bersama sejumlah komunitas. 

Dengan mengedepankan pengalaman personal dan komunitas difabel, publik diajak untuk menelisik diskriminasi yang selama ini terjadi, sekaligus mendekonstruksi pengetahuan dan praktik yang selama ini penuh dengan ketimpangan demi membangun masa depan yang lebih inklusif.

Selain menampilkan pertunjukan tari yang dikoreografi oleh Yayas Christy pada sesi pembuka, pameran juga diisi dengan berbagai agenda pendamping. Agenda pendamping tersebut, di antaranya, (1) Tur Pameran bersama Jay Afrisaando selaku kurator utama serta diskusi dan peluncuran buku Cerita-Cerita yang (Tidak) Mungkin karya Slamet Thohari (23/8); (2) diskusi mengenai Disabilitas, Kesehatan Reproduksi, dan Inklusi Sosial bersama Global Humanities Alliance, serta diskusi tentang Arsip dan Kontraarsip dalam Kajian Disabilitas (24/8); (3) pemutaran film dan diskusi sebagai bagian dari rangkaian konferensi UN Women (27/8); (4) Talkshow dan Workshop oleh Korps Mahasiswa Hubungan Internasional UGM dengan tajuk Menuju Hidup Lebih Inklusif (29/8); (5) pertunjukan seni audio imersif bertajuk Sound Experience in the Dark bersama Teater Braille (30/8); dan (6) penutupan pameran yang diisi dengan pertunjukan seni oleh Ba(WA)yang Production (2/9).

Penulis : Lamtiar Nababan
Penyunting : Nurhawira Gigih Pramono
Foto dan Desain : Dian Adi Marianto dan Galih Fatria Akbar

Berita lainnya

Acara

Pengumuman