Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Jepang muncul sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar dunia setelah Amerika Serikat (AS). Keberhasilan Jepang dalam melakukan pembangunan ekonomi dalam waktu yang relatif singkat dianggap sebagai suatu keajaiban (miracle). Banyak negara (khususnya negara-negara berkembang) menganggap Jepang sebagai model yang ideal bagi pembangunan ekonomi di Negara-negara yang terlambat melakukan modernisasi (late comers). Apa saja kondisi ekonomi-politik dan hubungan internasional yang telah memungkinkan Jepang mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi dan menjadi Negara non-Barat pertama yang berhasil melakukan industrialisasi? Bagaimana Jepang merespon kesempatan dan tantangan yang dihadapinya dalam tata ekonomi-politik dan hubungan internasional? Mengapa pada era 1990-an model Jepang mengalami kegagalan dalam merespon berbagai perubahan dalam ekonomi-politik global? Dan mengapa pada era 2000-an Jepang akhirnya tergantikan oleh China sebagai kekuatan ekonomi ke-2 dunia, dan Jepang berada pada posisi ke-3?
Arsip:
Mata Kuliah
Kelas ini menawarkan pengantar luas tentang metode penelitian dalam Hubungan Internasional (HI), dengan fokus pada perspektif dari Global South (Negara-negara Selatan). Kelas ini secara kritis menginterogasi paradigma penelitian yang dominan, hierarki produksi pengetahuan, dan politik penelitian yang lebih luas dalam HI. Kelas ini memperkenalkan siswa pada perspektif unik di luar dunia Barat dengan memusatkan perhatian pada pandangan dari Global South. Kelas ini menantang sifat kajian HI yang sering kali Eurosentris dan mendorong siswa untuk secara kritis terlibat dengan metodologi yang lebih mencerminkan keberagaman pengalaman global.
Para mahasiswa Fisipol UGM yang akan bergabung dalam kelas ini pada semester genap tahun ajaran 2024/2025 adalah calon-calon praktisi dan ahli dalam bidang ilmu hubungan internasional, politik, komunikasi, sosiologi, kebijakan publik, dan kesejahteraan sosial. Pengetahuan tentang sistem sosial-politik dan aktor-aktor utama di level domestik sangat krusial untuk dikuasai. Pemahanam terhadap konteks sosial politik bukan dijadikan sebagai limitasi dari suatu kebijakan tetapi justru sebagai konteks yang memungkinkan perubahan dan perbaikan sistem sosial dan politik. Politik domestik juga besar pengaruhnya terhadap arah kebijakan luar negeri kita.




