Berkolaborasi Menjawab Tantangan Global dalam Raisina IE-Global Student Challenge 2026

Perkenalkan, saya Ernani Dewi Kusumawati, mahasiswa Magister Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (MIHI UGM), Konsentrasi Digital Transformation and Competitiveness (DTC) Angkatan 2024. Melalui tulisan ini, saya ingin berbagi pengalaman selama mengikuti kegiatan Raisina IE-Global Student Challenge 2026 yang diselenggarakan di New Delhi, India. Kegiatan ini merupakan bagian dari forum internasional Raisina Dialogue yang mempertemukan para pemimpin dunia, pejabat, akademisi, dan praktisi dari seluruh dunia untuk membahas isu-isu strategis seperti geopolitik dan geoekonomi.

Mengikuti kegiatan ini tidak pernah ada dalam rencana hidup saya sebelumnya. Pada bulan Oktober 2025, ketika saya sedang berkutat mengerjakan tesis, pihak prodi menginformasikan bahwa saya dinominasikan untuk mengikuti kegiatan ini. Saya sempat ragu mengingat latar keilmuan S-1 saya bukan dari disiplin ilmu Hubungan Internasional, melainkan dari farmasi. Namun, setelah mencoba memahami lebih dalam, saya justru melihat bahwa konsep kegiatan ini sejalan dengan cara saya memandang pengetahuan, yaitu secara interdisipliner. Saya percaya bahwa mengintegrasikan berbagai latar belakang keilmuan akan menjadi solusi masa depan untuk memahami sekaligus menjembatani kompleksitas berbagai isu global.

***

Presentasi bersama rekan satu tim (dokumentasi panitia, 2026)

 

Program ini dimulai dari fase kolaborasi daring yang berlangsung dari Januari hingga akhir Februari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh 86 mahasiswa dari seluruh dunia yang kemudian dibagi ke dalam 12 tim internasional dan didampingi oleh 1 pembimbing akademik dengan tujuan akhir menyusun proposal kebijakan yang akan dipresentasikan langsung di hadapan para pemimpin dunia di India.

Saya tergabung dalam tim bersama mahasiswa terpilih dari Kanada, India, Yordania, Polandia, dan Etiopia dengan tema “AI for Civilian Use” yang berfokus pada bagaimana akal imitasi (AI) dapat dimanfaatkan secara adil, khususnya di negara-negara Selatan atau Global South. Tim kami dibimbing oleh pembimbing akademik dari São Paulo School of Business Administration (FGV EAESP), Brazil.

Tantangan terbesar yang saya rasakan saat menyusun project secara daring adalah perbedaan zona waktu. Saya sering kali harus mengikuti diskusi yang dimulai pada malam hari hingga pukul 23.00. Apalagi, waktu itu bertepatan juga dengan bulan Ramadan. Selain itu, perbedaan latar keilmuan setiap mahasiswa juga membuat cara kami memandang suatu permasalahan menjadi sangat beragam. Setiap minggu, kami rutin berdiskusi menyusun proposal kebijakan. Menjelang batas akhir pengumpulan proposal, intensitas diskusi meningkat signifikan hingga hampir setiap hari. Meskipun melelahkan, fase ini justru menjadi salah satu bagian paling berkesan bagi saya.

Setelah menyelesaikan proposal pada akhir Februari 2026, saya mulai fokus mempersiapkan keberangkatan ke India. Tidak ada kendala berarti yang saya hadapi dalam proses ini karena semuanya dibiayai penuh oleh Observer Research Foundation (ORF), IE School of Politics, Economics & Global Affairs (SPEGA), dan Kementerian Luar Negeri India. Proses pengurusan visa juga sangat mudah karena menggunakan e-visa conference dan tidak ada biaya sama sekali.  Saya berangkat ke India pada tanggal 4 Maret 2026 sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia. Ada rasa antusias sekaligus tidak percaya diri mengingat ini adalah pertama kalinya saya akan mempresentasikan gagasan kebijakan di depan para pemimpin dunia.

***

Sesi presentasi (dokumentasi panitia, 2026)

Tibalah pada momen yang paling menegangkan sekaligus paling saya nantikan, yaitu saat harus mempresentasikan proposal di depan para tokoh penting dunia. Beberapa figur yang menjadi panelis, yaitu Stefan Löfven (Former Prime Minister of Sweden), Vina Nadjibulla (Vice-President, Research & Strategy Asia Pacific Foundation of Canada), Gautam Chikermane (Vice President Observer Research Foundation), dan Suzannah Jessep (Chief Executive Asia New Zealand Foundation).

Dalam presentasi tersebut, tim kami memperkenalkan kerangka kerja triad governance approach, yang berfokus dalam tiga sektor utama: pendidikan, kesehatan, dan pertanian. Kami memandang ketiga sektor ini sebagai fondasi yang saling terhubung dalam mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan bagi Global South. Pendekatan ini kami turunkan ke dalam enam intervensi kebijakan yang menekankan pentingnya asesmen sebelum dan sesudah implementasi AI, penguatan tata kelola data, serta pembangunan kapasitas lokal agar dampaknya benar-benar berkelanjutan dan inklusif. Proposal tim kami berhasil menjadi favorit Stefan Löfven karena secara spesifik menekankan aspek inklusivitas. Walau pada akhirnya tim kami tidak menjadi pemenang, tetapi bisa menyampaikan gagasan di depan tokoh penting dunia merupakan pencapaian tersendiri bagi saya sebagai mahasiswa. Di luar kegiatan student challenge, saya juga berkesempatan mengikuti beberapa sesi dalam Raisina Dialogue seperti diskusi tentang keamanan pangan, keamanan siber, dan dinamika geopolitik di Timur Tengah yang dihadiri para tokoh dunia.

Secara personal, pengalaman ini menjadi refleksi penting bagi saya. Saya berkesempatan bertemu dan berbagi wawasan dengan mahasiswa-mahasiswa terbaik dari seluruh dunia. Mereka sangat berwawasan luas, kooperatif, dan berusaha memberikan yang terbaik dalam pengerjaan project-nya. Di awal, saya sempat tidak percaya diri, tetapi dukungan supportif dari tim membuat saya lebih yakin untuk terus belajar dan berkontribusi secara maksimal. Tentunya ada masa-masa ketika saya merasa lelah namun saya berusaha konsisten dan disiplin menjalani setiap prosesnya. Saya akan selalu ingat pesan dari pembimbing akademik kepada saya dan teman-teman satu tim:

“Somebody else wants the opportunity you are holding right now. So do it tired. Do it drained. Do it without motivation. Showing up is already a win.”

***

Penulis: Ernani Dewi Kusumawati
Penyunting: Nurhawira Gigih Pramono
Desain Sampul: Galih Fatria Akbar

Berita lainnya

Acara

Pengumuman