28 Juli 2021 By admin hi

Diskusi Bulanan DIHI UGM: Negotiating Resilience in Jakarta’s Climate Change Governance

Diskusi Bulanan DIHI UGM: Negotiating Resilience in Jakarta’s Climate Change Governance

Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) UGM kembali mengadakan Diskusi Bulanan pada hari Jumat, 23 Juli 2021. Diskusi Bulanan kali ini mengusung tema ‘Negotiating Resilience in Jakarta’s Climate Change Governance’ yang juga merupakan tema riset yang sedang dikaji oleh dosen muda DIHI UGM, Marwa, M.Sc.

Dalam risetnya, Marwa memilih untuk fokus pada kota, karena situasi kota menempatkannya pada dilema dalam penanganan perubahan iklim. Di satu sisi, kota berkontribusi terhadap 75% emisi karbon (data UNDP). Di sisi lain, isu urbanisasi, tata kelola ruang yang berantakan dan kurangnya akses terhadap fasilitas mendasar membuat kota menjadi tempat yang rentan terhadap perubahan iklim khususnya di kota-kota pesisir. Perubahan iklim juga akan berdampak terhadap pemindahan paksa jutaan orang serta menyebabkan kerugian finansial yang bisa mencapai lebih dari 1 triliun dolar setiap tahunnya. Menimbang hal-hal tersebut, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membuat New Urban Agenda 2016 yang membawa pergeseran paradigma untuk membuat kota yang lebih resilient, berkelanjutan, dan inklusif.

Resilient didefinisikan sebagai kemampuan sistem dan komunitas masyarakat untuk melawan, beradaptasi, dan pulih dari dampak bencana alam. Sudut pandang ini dibangun dari cara pandang bahwa ketidakpastian dan bencana alam adalah suatu hal yang tidak bisa terpisahkan dari lingkungan sehingga kita harus siap menghadapinya. Namun dalam implementasinya, resilient sering kali dihadapkan dengan tata kelola pembangunan di kota yang tidak merata. Kaika (2017) mengemukakan bahwa urban resilience alih-alih menjadi solusi yang dapat menyelesaikan masalah malah bertindak sebagai ‘vaksin’ masyarakat supaya mereka bisa menanggung beban yang lebih besar dari ketidaksetaraan dan degradasi di masa depan. Oleh sebab itu, ketika membicarakan urban resilience, penting untuk mempertimbangkan resilience itu untuk siapa, terhadap apa, kapan, di mana, dan mengapa.

Marwa mengambil studi kasus kota Jakarta yang disebut oleh berbagai media internasional sebagai salah satu kota yang paling cepat tenggelam di dunia. Percepatan laju tenggelamnya Jakarta disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya naiknya permukaan air laut, eksploitasi air tanah dan berbagai proyek pembangunan besar yang menambah beban permukaan tanah, dan air hujan tidak dapat ditampung lagi untuk menggantikan air tanah yang diekstraksi karena sebagian besar permukaan tanah Jakarta sudah ditutup dengan semen dan aspal.

Untuk membangun Jakarta yang resilient (proyek Ketahanan Jakarta), banyak aktor dari berbagai level terlibat di dalamnya mulai dari aktor internasional (developmet banks, philanthropy organizations, etc.), nasional, lokal, dan tentunya masyarakat kota itu sendiri, terutama kelompok masyarakat yang paling rentan. Dari tiga target proyek urban resilience Jakarta, Marwa memilih untuk mefokuskan kajiannya pada WellPrepared Jakarta. Untuk mengkaji topik ini, Marwa menggunakan konsep negotiating resilience (Harris, 2018) yang memungkinkannya untuk melihat resilient sebagai proses politik yang penuh perdebatan dan kontestasi, dengan banyak faktor yang terlibat dan banyak kepentingan yang berbenturan.

_______

Penulis: Melisa Rachmania

Editor: Arlitadian Pratama