Negara-negara dari Global South dalam dua dekade terakhir menunjukkan keaktifan yang cukup signifikan dalam kerja sama pembangunan internasional terutama melalui pemberian bantuan asing. Sebagai pendonor baru atau yang kerap disebut sebagai emerging donors, negara dari Global South menghadapi tantangan yang berbeda dengan negara-negara Utara yang merupakan pendonor tradisional. Tantangan yang paling nyata yang dihadapi oleh emerging donors adalah memastikan dukungan domestik dalam menjalankan fungsinya sebagai pendonor. Artikel ini bertujuan mendiskusikan strategi apa yang dikembangkan negara pendonor dari Global South dalam mengelola peran sebagai negara donor yang pada saat bersamaan juga masih tergolong negara berkembang. Artikel ini juga ingin memahami bagaimana emerging donor merekonsiliasi kebutuhan memperoleh dukungan domestik dengan kepentingan untuk memainkan peran yang krusial dalam politik global dalam mengelola bantuan luar negerinya. Untuk itu, artikel ini mencermati pengalaman Turkish Cooperation International Agency (TIKA) dan Thailand International Cooperation Agency (TICA) sebagai contoh praktik pembangunan internasional oleh Global South. Dengan memanfaatkan pendekatan yang menekankan pada interplay antara kepentingan material dan kontestasi aktor politik domestik, artikel ini beragumen bahwa untuk mendapatkan dukungan domestik, emerging donorsperlu menyesuaikan program bantuan internasionalnya agar selaras dengan kepentingan aktor politik domestik yang dominan.