09 Oktober 2020 By admin hi

Usulan Dr. Riza untuk Mitigasi Resesi Ekonomi Akibat COVID-19

Usulan Dr. Riza untuk Mitigasi Resesi Ekonomi Akibat COVID-19

Diskusi Bulanan DIHI hadir kembali di hari Selasa, 6 Oktober 2020. Diskusi kali ini menghadirkan Dr. Riza Noer Arfani, Dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM yang mendalami kajian ilmu Ekonomi Politik Internasional. Dengan tema besar diskusi ‘Protectionism par Excellence: How Covid-19 Recession Exacerbate Global Protectionism, How to Mitigate?’, Pak Riza mengajak untuk mendiskusikan resesi ekonomi akibat pandemi COVID-19 yang dialami oleh banyak negara di dunia, termasuk Indonesia.

 

Untuk membuka diskusi, Pak Riza mengajukan preposisi bahwa resesi yang terjadi saat ini memiliki kecenderungan untuk mendorong proteksionisme global. Pandemi COVID-19 dipandang sebagai disrupsi jenis baru terhadap perekonomian dan dampaknya diperkirakan akan semakin mendalam mengingat saat ini kondisi pandemi masih jauh dari kata selesai. Langkah-langkah yang diambil pemerintah seperti melakukan lockdown daerah menyebabkan kegiatan ekonomi yang tidak esensial terpaksa berhenti, dan ini memunculkan kontraksi yang hebat terhadap ekonomi terutama dari sisi permintaan konsumen. Selain itu, ada high level of uncertainty yang disebabkan oleh meningkatnya pengangguran. Jumlah pengangguran dalam 6 bulan terakhir jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah pengangguran saat krisis finansial global 2008. Negara-negara diprediksikan bisa pulih dari resesi ekonomi secepatnya di akhir tahun 2022, apabila vaksin COVID-19 sudah tersedia dan didistribusikan dengan baik.

Proteksionisme global sudah terlihat sebelum pandemic COVID-19. Kemudian, apakah COVID-19 akan semakin memperburuk kondisi ini? Di satu sisi, ini bisa menjadi kesempatan karena kita akan mencari cara baru untuk menangani COVID-19 dan memperkencang perang dagang. Di sisi lain, COVID-19 bisa memperkuat proteksionisme global karena negara-negara akan cenderung untuk menyelamatkan perekonomian nasionalnya. Respon proteksionis yang serupa pernah terjadi dalam sejarah, misalnya saat The Great Depression  (1929-1933).

Salah satu prediksi bentuk respon proteksionis negara-negara terhadap resesi dan COVID-19 adalah melambatnya proses negosiasi perdagangan, terutama di forum multilateral seperti WTO. Kedua, akan ada perubahan perilaku terhadap globalisasi. Penurunan level confidence terhadap globalisasi sebenarnya sudah menunjukkan penurunan sejak setengah dekade yang lalu, dan semakin memuncak saat Brexit. Globalisasi dianggap berkontribusi terhadap melebarnya ketimpangan upah terutama di negara-negara maju. Selama 14 bulan pasca krisis finansial global 2008 (November 2008 – Desember 2019), Global Trade Alert mencatat negara-negara G-20 melakukan setidaknya 390 tindakan yang merusak perdagangan. Dalam kurun waktu yang sama, G-20 hanya meloloskan 56 tindakan yang menguntungkan importir.

Dalam kasus Indonesia, mitigasi jangka pendek yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah strategi penanggulangan COVID-19 yang jelas dan efektif. Pemerintah harus berani untuk mendesain ulang target-target yang sudah pernah dibuat, seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). RPJMN harus ada modifikasi karena target-target tersebut dibuat dalam situasi normal. Untuk jangka panjangnya, perlu ada reorganisasi rantai suplai dan komoditas serta jaringan produksi, misalnya dengan mengalihkan kegiatan ekonomi yang menitikberatkan di sektor jasa menjadi ke sektor produksi.

Sementara untuk mitigasi ke luar, perlu ada perubahan dalam institutional setting diplomasi ekonomi. Saat ini, ITPC (International Trade Promotion Center) yang berada di bawah Kementerian Perdagangan tidak aktif melakukan perannya. Dulu sempat mencuat isu untuk menyatukan Kementerian Luar Negeri dengan Kementerian Perdagangan layaknya di negara-negara lain untuk meningkatkan efektivitasnya. Namun isu ini hilang begitu saja. Kemudian visi Poros Maritim Dunia yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi juga sudah tidak terdengar gaungnya lagi, kalah oleh Belt & Road Initiative milik Tiongkok. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah yang lebih berani untuk memperbaiki itu.

Seperti biasa, kegiatan Diskusi Bulanan diakhiri dengan sesi tanya-jawab yang disambut oleh peserta secara antusias dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan situasi terkini di Indonesia.


Penulis : Melisa Rachmania
Editor: Arlitadian Pratama