05 Januari 2022 By admin hi

S-2 Ilmu HI UGM Sukses Gelar Lokakarya Kurikulum Master of Arts in Global Trade Diplomacy

S-2 Ilmu HI UGM Sukses Gelar Lokakarya Kurikulum Master of Arts in Global Trade Diplomacy

Program Studi S-2 Ilmu HI UGM, bekerja sama dengan Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM dan WTO Chairs Programme (WCP) Indonesia menyelenggarakan kegiatan lokakarya pada Kamis, 23 Desember 2021 lalu. Acara yang berlangsung secara daring ini dihadiri oleh 19 peserta dari berbagai latar belakang seperti dosen, pelaku usaha, dan Pemda.

Kegiatan ini diawali dengan sambutan dari Sekretaris Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM, Dr. Randy Wirasta Nandyatama. Dalam sambutannya, Dr. Randy menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari revitalisasi minat khusus MA in Global Trade Diplomacy (GTD). Hasil diskusi nantinya menjadi masukan bagi penyusunan kurikulum GTD, sekaligus masukan untuk mengeksplorasi peluang kolaborasi.

Lokakarya kemudian memasuki sesi diskusi dari tiga narasumber. Pertama, Dr. Muhammad Rum selaku Ketua Prodi S-2 mempresentasikan rancangan kurikulum GTD serta tiga mata kuliah yang nantinya akan diintegrasikan dengan riset PSPD UGM mengenai ekonomi sirkular di negara-negara berkembang sebagai studi kasus. Ketiga mata kuliah tersebut adalah Rezim Perdagangan Internasional; Tata Kelola Kebijakan Sektoral; dan Kebijakan Industrial Indonesia dan Rantai Nilai Global.

Pada sesi kedua, Dr. Riza Noer Arfani selaku Ketua WTO Chairs Programme Indonesia menyampaikan latar dan agenda mendatang dalam program Ekonomi Sirkular di Indonesia: Ide Global, Praktik Lokal. Program ini dirancang sebagai upaya penguatan daya saing sektor industri ataupun komoditas strategis. Selain itu, program ini diharapkan nantinya dapat mengoneksikan akademisi dengan para penyusun kebijakan dan pelaku usaha, khususnya UMKM. Oleh karena itu, tahap pengembangan kurikulum melalui pengajaran di GTD ini nantinya dapat melibatkan seluruh pemangku kepentingan perdagangan Indonesia.

Pada sesi ketiga, Dr. Maharani Hapsari selaku Wakil Ketua WCP Programme Indonesia menawarkan beberapa model kerja sama yang dapat dikembangkan di bawah program GTD. Di bidang pengajaran, para pemangku kepentingan dapat diundang sebagai bagian tim pengajar dan dosen tamu di kelas, atau sebagai narasumber kuliah tamu dan lokakarya. Di bidang riset, saat ini rancangan program GTD memungkinkan mahasiswa untuk magang atau menyusun tugas akhir berupa rekomendasi kebijakan. Sehingga, potensi kerja sama dengan para pelaku usaha atau Pemda untuk pengiriman mahasiswa magang menjadi lebih terbuka.

Para peserta lokakarya sangat antusias dalam menanggapi ketiga materi tersebut. Dari proses diskusi, terdapat beberapa isu yang digarisbawahi oleh para peserta. Pertama, para pelaku usaha menyambut positif kemungkinan untuk kolaborasi dengan menerima mahasiswa magang dari program GTD. Petrus Hapsoro (PT YPTI) dan Yuyun Yunastuti (GPEI DIY) setahun terakhir bahkan sudah rutin menerima mahasiswa magang melalui skema Merdeka Belajar dari Kemdikbud.

Kedua, pentingnya menyusun mata kuliah atau kurikulum yang lebih berorientasi pada praktik serta menggunakan pendekatan yang multidisiplin. Yuyun Yunastuti (GPEI DIY), yang juga alumni Program GTD, menyampaikan bahwa mahasiswa perlu didorong untuk langsung terjun ke lapangan. Sementara itu, Chandra Purnomo, M.E.,M.Eng, (PIAT UGM), Dr. Tri Sunarharum (FT UGM), dan Achmad Amin (FEB UGM) menceritakan pengalaman menyertakan konsep ekonomi sirkular dalam mata kuliah yang diampu. Pendekatan yang berbeda-beda ini dapat menjadi peluang bagi kolaborasi riset antar bidang ilmu, supaya mahasiswa dapat memahami ekonomi sirkular secara menyeluruh.

Ketiga, para peserta menekankan pentingnya pengetahuan tentang potensi keuntungan dan kerugian yang mungkin terjadi dari penerapan ekonomi sirkular. Netty Febriana (FFTI), Sri Budiningsih (Dinkop & UMKM Sleman), Fajaruddin Muharom (HIPMI DIY), dan Ni Luh Sandhi (PERWIRA DIY) sama-sama berharap para lulusan maupun mahasiswa magang dari GTD nantinya dapat berbagi ilmu tentang cost and benefit tersebut pada pelaku usaha. Tanpa memahami cost and benefit, sulit bagi komunitas pelaku usaha untuk menjalankan satu tujuan atau konsep yang ideal.

_____

Penulis: Nurhawira Gigih Pramono

Editor: Novi Dwi Asrianti