30 Juli 2021 By admin hi

DIHI UGM menumbuhkan semangat Go South dalam Perayaan HUT ke-64

DIHI UGM menumbuhkan semangat Go South dalam Perayaan HUT ke-64

Sejak berdiri pada tahun 1957, Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) UGM memiliki misi untuk terus berkontribusi terhadap pengembangan keilmuan hubungan internasional di Indonesia. DIHI UGM ingin membuat sebuah terobosan atau breakthrough agar keilmuan hubungan internasional terus menemukan relevansi seiring dengan berkembangnya zaman. 

Dalam kegiatan perayaan ulang tahun ke-64 yang dilaksanakan pada hari Kamis, 29 Juli 2021, DIHI UGM menjadikannya momentum untuk meluncurkan buku ‘The Global South: Refleksi dan Visi Studi Hubungan Internasional’ yang ditulis bersama oleh dosen-dosen DIHI UGM. DIHI UGM mengundang editor buku serta alumni dari berbagai latar belakang profesi untuk merefleksikan pandangan global south terhadap bidang pekerjaan yang mereka tekuni saat ini. 

Sesi pertama dibuka oleh Dr. Luqman-nul Hakim yang merupakan ketua tim editor. Beliau menyampaikan bahwa buku ‘The Global South: Refleksi dan Visi Studi Hubungan Internasional’ akan menjadi pintu gerbang untuk menata kembali keilmuan HI di masa mendatang dengan menempatkan Indonesia atau Global South dalam posisi subjek yang disesuaikan dengan perkembangan-perkembangan terbaru. Tujuannya adalah membuat ilmu hubungan internasional menjadi semakin dekat dan relevan dengan kehidupan kita.

Melanjutkan pemaparan mengenai buku, Drs. Muhadi Sugiono menekankan bahwa pandangan global south akan membuat HI semakin kaya sebagai sebuah disiplin ilmu, dan mampu memberikan ruang serta memperbanyak kemungkinan untuk menjalankan HI dengan sangat bervariasi. 

Melengkapi tim editor, Prof. Dr. Mohtar Mas’oed yang juga merupakan Guru Besar Ilmu HI bercerita mengenai perkembangan ilmu HI modern di Indonesia yang banyak dipengaruhi oleh pemikiran dari Eropa, sehingga dalam perkembangannya tidak sejalur dengan agenda politik Indonesia pasca Konferensi Asia Afrika. Tugas generasi selanjutnya adalah memikirkan pemecahan masalah mengenai ketidaksesuaian ini. Prof. Mohtar juga menekankan bahwa sesuai dengan amanat sila ke-2 Pancasila, seluruh pengetahuan seharusnya digunakan untuk emansipasi, sehingga ini adalah peluang bagi Ilmu HI untuk mengutamakan emansipasi dan memberdayakan manusia di Indonesia.

Sesi selanjutnya merupakan kesempatan bagi alumni untuk memberikan refleksinya. Di awali oleh H. E. Imron Cotan yang merupakan diplomat senior Indonesia, beliau mengutarakan bahwa poros dunia sudah mulai berubah sehingga penting untuk menyesuaikan diri supaya tidak kehilangan relevansi. Hal yang bisa dilakukan oleh DIHI UGM untuk menggali relevansi di masa mendatang adalah dengan adanya program internasionalisasi. Ni Made Ayu Marthini melanjutkan refleksi melalui perspektif seorang negosiator perdagangan, dan menyampaikan bahwa dalam bidang perdagangan internasional, negara-negara berkembang hingga saat ini berjuang untuk mengurangi kesenjangan dan mengimbangi berbagai peraturan yang dibuat oleh negara maju. Tak terkecuali Indonesia yang sudah memiliki kontribusi besar dalam berbagai forum-forum negosiasi perdagangan. Untuk memberdayakan negara berkembang dalam bidang perdagangan, Indonesia harus melakukan liberalisasi perdagangan, fasilitasi, dan pengembangan kapasitas. 

Bapak Aleksius Jemadu mewakili alumni yang berkarier di bidang akademik dan memberikan pesan kepada DIHI UGM untuk mempertahankan academic excellence serta tradisi yang berakar pada ke-Indonesia-an dan kerakyatan. Bapak Don K. Marut yang merupakan aktivis memberikan pesan bahwa DIHI UGM bahwa dalam upaya mengedepankan global south sebagai sebuah perspektif, DIHI UGM perlu mendalami konteks peran Indonesia dalam The Global South terlebih dahulu.

Okky Madasari memberikan pandangan sebagai seorang seniman bahwa saat ini dalam dunia seni dan literatur juga terdapat kontestasi antara Barat dan Timur. Tidak dapat dipungkiri pengaruh Barat sangat mendominasi seni dan literatur dunia, sehingga pemahaman terhadap kontestasi tersebut dapat memunculkan alternatif khas dari global south. Disusul oleh Juanita Wiratmaja yang akrab dipanggil sebagai Aline yang memberikan pandangan sebagai seorang jurnalis, bahwa bila mengamati tren yang berkembang, DIHI UGM harus bisa mengakomodasi kuliah khusus mengenai ekonomi digital dan ekonomi makro bagi mahasiswa karena hal ini tidak dapat dilepaskan dari perkembangan keilmuan HI.

Terakhir, refleksi disampaikan oleh Michel Raffy Sujono, alumni DIHI UGM yang berprofesi sebagai petani. Dengan menjadi petani, Raffy dapat menemukan cara untuk menyelesaikan krisis iklim yang dimulai dengan menyelesaikan permasalahan di bidang pertanian dan permasalahan struktural yang selama ini dialami oleh petani di Indonesia. Hal yang dilakukan oleh Raffy dapat menunjukan bahwa Ilmu HI bersifat semakin inklusif serta dapat menjadi solusi bagi berbagai permasalahan di masyarakat.

Kegiatan diakhiri dengan refleksi dari peserta kegiatan, salah satunya oleh Dr. Diah Kusumaningrum yang memberikan wawasan bahwa pandangan global south tidak boleh bersifat hipokrit untuk menguntungkan kaum penguasa. Apabila global south adalah panggilan untuk emansipasi, maka global south juga harus berani untuk memihak kelompok-kelompok yang termarginalkan. Usai refleksi singkat dari beberapa peserta, kegiatan yang dihadiri kurang lebih 116 orang  tersebut ditutup pada pukul 12.45 oleh MC.

___________

Penulis: Arlitadian Pratama

Editor: Melisa Rachmania