20 Desember 2018 By admin IUP

Dr. Gyne Pal

Dr. Gyne Pal

DIHI menyelenggarakan kegiatan rutin, diskusi bulanan bertajuk Central Asia in the XXIth Century. Diskusi pada periode Juli menghadirkan Prof. Gyene Pal dari Budapest Business School, Hungaria, sebagai pembicara. Prof. Gyene merupakan dosen tamu DIHI yang sedang melakukan penelitian mengenai pengaruh islam dalam kehidupan demokrasi di Indonesia.

Prof. Gyene Pal membahas mengenai studi komparasi negara-negara di kawasan Asia Tengah. Pemaparan bagaimana proses transisi negara-negara tersebut dari otoritarian ke demokrasi. Negara-negara yang dimaksud meliputi Kazakhstan, Turkmenistan, Uzbekistan, Tajikistan, dan Kirgizstan.

“Sebelum menjadi negara seperti sekarang, terdapat tiga entitas politis (Khanates) yang berkembang di Asia Tengah yakni Chiva, Buchere, dan Kokand”, penjelasannya. Lebih lanjut dari segi proporsi etnis, Uzbekiztan memiliki jumlah populasi terbesar disusul kemudian Kazakhstan, Tajikistan, Kirgizstan, dan Turkmenistan.

Prof. Gyene Pal juga menyebut karakteristik dari negara-negara Asia Tengah ini sebagai negara dengan ‘excessive presidential power and person-centered politics’. Hal ini dapat terjadi lantaran adanya defisit demokrasi yang diakibatkan terjadinya kediktatoran berdasarkan personal (presiden) dan besarnya kekuatan yang dimiliki oleh eksekutif.

Di negara Kazakhstan, Noor Bayev berhasil memimpin selama 30 tahun. Di Uzbekistan, Islom Karimov berada di puncak kekuasaan sejak 1989 hingga 2016 dan digantikan oleh Mirziyoyev, yang disebut Prof. Gyene Pal memiliki karakter yang sama dengan Karimov.

Turkmenistan, Niyazoy menduduki posisi presiden sejak tahun 1986 hingga 2006, sebelum akhirnya meninggal dan digantikan oleh gurbanguly berdimuhammedove. Nuyazoy dikenal sebagai pemimpin yang cenderung memiliki gaya kepemimpinan a la Stalin. Ia berusaha membangun agamanya sendiri dan disebut ‘Father of Turkmen’. Selain itu, ia juga berusaha mendirikan patung emas dirinya di pusat kota Turkmenistan.

Tajikistan, perang sipil terjadi antara tahun 1991 – 1997 dan Emomali Rahmon berhasil naik ke panggung pemerintahan di tahun 1993 hingga kini. Pada masa tersebut, Islam berhasil menguatkan posisinya dan berhasil menduduki posisi penting dalam politik. Anomali justru terjadi di Kirgizstan. Sebagai negara Asia Tengah, Kirgizstan justru menjalankan sistem politik parlementer republik dan terdapat dua partai yang berkompetisi untuk memenangkan pemilihan umum.

Pada kesempatan ini, Prof. Gyene Pal juga menjelaskan mengenai masyarakat berbasis klan, keadaan ekonomi negara-negara Asia Tengah yang banyak bergantung pada gas alam dan minyak, dinamika politik islam, hingga keterlibatan Uni Soviet (kini Rusia) dalam politik luar negeri kelima negara tersebut.

Setelah sesi pemaparan berakhir, dilanjutkan sesi diskusi tanya jawab. Banyak peserta yang antusias mengajukan pertanyaan sebab pembahasan mengenai Asia Tengah masih jarang dilakukan di DIHI UGM. Kegiatan ini diakhiri dengan sesi makan siang bersama dosen dan mahasiswa.