PROGRAM SARJANA

PENGARUH POLITIK DOMESTIK TERHADAP PERUBAHAN KEBIJAKAN TAIWAN DALAM MERESPON DIPLOMASI PANDA CINA

Title PENGARUH POLITIK DOMESTIK TERHADAP PERUBAHAN KEBIJAKAN TAIWAN DALAM MERESPON DIPLOMASI PANDA CINA
Author(s) Bernadeta Gracia Lavitasari 13/345266/SP/25535 DEPARTEMEN
Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, MA(IR)
Areas of Interest International Politics
Publisher Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL UGM
Publishing Year 2019
Publishing Place Yogyakarta
Abstract/Notes ABSTRACT This research aims to analyse causes of the changes in Taiwan government’s response to China’s panda diplomacy. The case of panda diplomacy toward Taiwan has unique characteristics. Instead of renting them out, China presented two pandas to Taiwan as a symbol of friendship and improving bilateral relations after the Anti-Secession Law controversy. A message of reunification is tucked within procedures of naming and delivering the two pandas. This caused different responses in two different periods of government. While President Chen’s regime flatly refused the panda diplomacy, President Ma’s administration welcomed the offer. Using Robert Putnam’s theory of two-level games and William Coplin’s categorization of policy influencers as analytical frameworks, this paper argues that Taiwan’s different responses are caused by the contestation of domestic level actors, which are dominated by the president as the main decision-maker. President Chen considered panda diplomacy as China’s diplomatic tool to claim for unification. His rejection was supported by his past political experience, the ideology of DPP, and the support of pro-independence groups. President Ma’s consideration that panda diplomacy as a media for reconciliation with China was driven by the closeness of his political party, KMT, with the Chinese government, Taishang business groups, and public opinion concerning the improvement of Taiwan’s economy. Both refusal and acceptance of panda diplomacy in Taiwan had affected the cross-strait relations. Keywords: panda diplomacy, China, Taiwan, Chen Shui-bian, Ma Ying-jeou. ABSTRAKSI Skripsi ini menganalisis penyebab perubahan respon pemerintah Taiwan terhadap diplomasi panda Cina. Diplomasi panda dari Cina terhadap Taiwan memiliki karakteristik unik. Alih-alih menyewakan, Cina menghadiahkan dua panda kepada Taiwan sebagai simbol persahabatan dan memperbaiki hubungan keduanya pasca kontroversi Undang-Undang Anti Pemisahan. Terselip pesan reunifikasi melalui penamaan dan prosedur pengiriman kedua panda. Hal ini menimbulkan perbedaan respon dalam dua periode pemerintahan yang berbeda. Jika rezim Presiden Chen tegas menolak diplomasi panda, administrasi Presiden Ma justru menyambut baik tawaran dari Cina. Dengan menggunakan teori Robert Putnam tentang two-level games dan kategorisasi policy influencer oleh William Coplin sebagai kerangka analisis, skripsi ini berargumen bahwa perbedaan respon Taiwan disebabkan oleh kontestasi aktor-aktor di level domestik, yang didominasi oleh presiden sebagai pengambil keputusan utama. Presiden Chen menilai diplomasi panda merupakan alat politik dari Cina untuk mengklaim unifikasi. Keputusan Chen didukung oleh pengalaman politiknya di masa lalu, ideologi partai asalnya DPP, dan dukungan kelompok kepentingan pro-kemerdekaan. Keputusan Presiden Ma bahwa diplomasi panda sebagai media rekonsiliasi dengan Cina didorong oleh kedekatan partai asalnya, KMT, dengan pemerintah Cina, kelompok pebisnis Taishang, dan opini publik yang berkepentingan untuk memperbaiki kondisi perekonomian Taiwan. Penolakan maupun penerimaan Taiwan terhadap diplomasi panda telah berdampak pada situasi hubungan lintas-selat. Kata-kata kunci: diplomasi panda, Cina, Taiwan, Chen Shui-bian, Ma Ying-jeou
File Attachment Download File
S1-2019-345266-abstract.pdf