21 November 2018 By Publikasi IIS

Potensi Riset Survei dan Jajak Pendapat dalam Studi Hubungan Internasional

Potensi Riset Survei dan Jajak Pendapat dalam Studi Hubungan Internasional

Institute of International Studies (IIS) mengadakan sharing sessionmengenai peran survei pemilu dalam sudut pandang ilmu hubungan internasional (8/11). Acara tersebut menghadirkan Agus Trihartono – pengajar Ilmu hubungan Internasional di Universitas Negeri Jember – sebagai pembicara.

Asal mula survei di Indonesia terinspirasi dari gerakan politik berbasis ilmiah Michigan Movement di Amerika Serikat. Gerakan tersebut  semakin menguat dengan dibentuknya Lembaga Survei Indonesia yang dimaksudkan untuk membantu pengembangan politik Indonesia. Survei di Indonesia sendiri sudah dimulai sejak tahun 1967 dan telah melalui tiga periode hingga saat ini

Agus Trihartono menjelaskan salah satu contoh survei yang dilakukan menjelang Pemilu Presiden tahun 2004. Pada saat itu, salah satu survei dilakukan untuk mengetahui kriteria presiden ideal menurut masyarakat Indonesia. Hasilnya menunjukkan fitur kulit putih, tinggi, tegap dan meiliki gaya bicara yang jelas. Berbekal kriteria tersebut, survei lanjutan menunjukkan sebanyak 2% masyarakat condong kepada figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai presiden. Hal tersebut menjadi basis yang memprediksi kemenangan SBY di Pilpres waktu itu.

Serupa tapi tak sama, Agus juga menjelaskan bagaimana polling atau jajak pendapat ikut mempengaruhi kebijakan internal partai politik. Menurutnya, jajak pendapat adalah hal yang sangat dasar dan penting.

Just what democracy is supposed to produced, an equal representation of the voice of the people (Demokrasi pada dasarnya harusn mewakili suara masyarakat secara adil,” jelas pengajar yang juga memiliki ketertarikan di isu keamanan manusia ini.

Kelompok yang melakukan jajak pendapat dan menganalisisnya atau pollsters kini ikut menjadi aktor politik yang menghubungkan pengusaha, kandidat pemimpin dan partai politik. Pollsters membantu aktor-aktor politik memetakan gagasan yang kemudian menjadi basis menentukan strategi politik. Sama seperti contoh kasus Pilpres 2004, jajak pendapat juga bisa dilakukan untuk mencari kandidat pemimpin potensial.

Di sisi lain, jajak pendapat juga dapat digunakan sebagai instrumen pemetaan. Dalam mekanisme pencegahan konflik, metode ini dapat digunakan untuk memetakan derajat toleransi suatu daerah.

Namun perlu diingat, data dari survei dan jajak pendapat perlu diregresi dengan tepat. Hal ini penting karena dua subjek yang saling berpengaruh tidak serta-merta memiliki korelasi yang positif.

Menurut Agus, jajak pendapat mengenai pengaruh soft power (kekuatan lunak) sangatlah menarik dipelajari dan potensial untuk dilakukan ke depan. Konsep kekuatan lunak sendiri cukup luas sehingga ada begitu banyak hal yang bisa diangkat menjadi topik riset. Salah satu contoh menarik adalah bagaimana kopi Indonesia dapat digunakan sebagai national branding dan bagaimana pemanfaatan jajak pendapat dalam politik negara berkembang.


Penulis: Novrisa Briliantina
Editor: Imas Indra Hapsari