28 Desember 2018 By @dm1n

Performativitas Seni untuk Aktivisme Perdamaian: Bedah Buku Unjuk Rasa

Performativitas Seni untuk Aktivisme Perdamaian: Bedah Buku Unjuk Rasa

Unjuk rasa sering dianggap sebagai gangguan yang dilakukan sekelompok orang – terkadang melibatkan kekerasan – terhadap otoritas. Pemahaman yang dangkal ini terus didengungkan dan dipahami oleh awam sehingga menutup pemahaman yang lebih dalam terhadap tindakan ini.

Padahal, unjuk rasa jika dilakukan dengan cara non-kekerasan akan bisa menjadi jalan efektif dalam menekan otoritas. Apalagi jika dilangsukan dengan melibatkan berbagai metode non-kekerasan dan seni. Dengan demikian, unjuk rasa dapat membawa pesan yang dapat dinikmati semua orang.

Bayangan akan unjuk rasa seperti itu coba diwujudkan oleh Yayasan Kelola dengan menginisiasi Hibah Cipta Perdamaian sebagai wadah bagi para seniman untuk mengintervensi permasalahan sosial melalui karya dan kegiatan artistik mereka. Dengan dukungan Kedutaan Besar Denmark, Yayasan Kelola menyelenggarakan program Hibah Cipta Perdamaian sejak tahun 2016.

Cipta Perdamaian menyasar provinsi-provinsi di Indonesia yang tergolong sebagai wilayah rentan konflik dan mengalami pembangunan infrastruktur yang lambat, terlebih lagi dalam hal pembangunan infrastruktur kesenian. Para seniman yang mendapat dukungan hibah lalu ditantang mengangkat berbagai masalah, baik dalam lingkup keseharian maupun politik, sosial budaya, ekonomi atau sejarah. Pemahaman atas konflik tersebut kemudian diwujudkan melalui proyek kolaboratif antara seniman atau komunitas kesenian untuk menjembatani jarak antara seni yang menjadi karya dengan publik yang menjadi penonton.

Hasil akhir berupa intervensi artistik terhadap kehidupan dan wacana publik di daerah masing–masing kemudian ditelurkan dalam sebuah buku yang berjudul, Unjuk Rasa: Seni – Performativitas – Aktivisme yang pada Kamis (6/10) lalu resmi diluncurkan di Yogyakarta.

Acara peluncuran sekaligus bedah buku yang berlangsung di Digilib Café Fisipol UGM tersebut, menghadirkan Arham Rahman (kurator Galeri Lorong), Muhammad Al-Fayyadl (penulis, alumnus Arts, Philosophie, Esthétique, Univ. Paris-VIII) dan Lisistrata Lusandiana (Direktur Indonesian Visual Art Archive). Acara ini juga turut menghadirkan Brigitta Isabella selaku editor buku beserta Diah Kusumaningrum sebagai bagian dari kontributor isi dan merupakan peneliti Institute of International Studies UGM.

Brigitta dalam pembukaan mengatakan, “Bedah buku Unjuk Rasa seperti melakukan tindakan post-mortem, di mana kata–kata yang telah ditulis para seniman telah menjadi nisan yang dibedah kembali. Teman – teman di sini diajak melihat orang di dalamnya masih hidup dan berdinamika, setelah itu kita perlu sadar dengan apa yang kita inginkan.”

Buku ini menjadi sumbangan bagi politik Indonesia di mana di dalamnya terdapat kritik berbentuk estetika yang berusaha mengkritik pembangunan hingga gegar budaya. Ini diamini oleh Diah di mana dalam tulisannya ia mengatakan proses perdamaian tidak sekedar pertunjukan hitam di atas putih. Ada proses rekonsiliasi yang perlu dilakukan sepenuh hati dengan merangsang tercapainya performativitas lewat laku sehari–hari, salah satunya seni.

Lisistrata mengatakan bahwa buku ini merupakan unjuk pengalaman seniman yang berusaha membantah pameo “Asal membingungkan dan tidak paham, itu sudah menjadi seni”. Baginya, seni adalah milik semua orang. Tempat di mana semua orang bernapas dan memaknai karya dengan laku pengalaman hidup yang diisi konflik.

Al-Fayyadl menyambung dengan refleksi bahwa Unjuk Rasa telah berusaha melewati dikotomi pro-kontra, serta keterpisahan yang seolah – olah ada antara estetika dan politik. Walaupun begitu, menurutnya masih ada kekurangan bahwa buku ini hanya menawarkan cara pandang mengarah ke dalam (hanya kepada seni), tetapi tidak keluar (pemetaan struktur objek politik yang sedang berkuasa saat ini di Indonesia).

Refleksi di atas menjadi catatan penting bagi seni sebagai suatu ungkapan politis agar mampu memperdengarkan dan mempertontokan masyarakat yang rentan karena rezim ekstraktif dan logika kapitalistik. Performativitas yang diupayakan seniman diharapkan dapat menembus upaya narsisisme yang dapat berujung kepada pseudo-activity, kondisi yang lebih berbahaya daripada pasifisme dalam upaya mewujudkan perdamaian.


Penulis: Wilibrordus Bintang Hartono
Editor: Imas Indra Hapsari