17 Agustus 2016 By admin hi

Negosiasi di Balik Pembebasan 10 Sandera WNI di Filipina

Negosiasi di Balik Pembebasan 10 Sandera WNI di Filipina

 

Pendidikan itu seharusnya menitikberatkan pada sebuah proses, bukan hasil. Kata-kata dari Ahmad Baedowi tersebut menjadi pembuka kuliah umum yang diberikan beliau sekaligus menandai mulainya perjalanan mahasiswa Program Pascasarjana Departemen Ilmu Hubungan Internasional angkatan 2016/2017 dalam menimba ilmu di Universitas Gadjah Mada. Kuliah umum berjudul Negosiasi di Balik Pembebasan 10 Sandera WNI di Filipina” ini dilangsungkan pada hari Selasa (16/8) di Ruang BA 111 Fisipol UGM. Kurang lebih 100 mahasiswa dari Program Pascasarjana HI UGM, Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (UGM), serta mahasiswa Fisipol UGM mengikuti kegiatan ini.

Dalam kesempatan ini, Ahmad Baedowi menceritakan bagaimana sebuah proses negosiasi bisa berjalan hingga tuntas berdasarkan pengalaman langsung beliau. Bersama staf pengajar HI UGM Dr. Samsu Rizal Panggabean, Baedowi merupakan aktor kunci dari Tim Yayasan Sukma Bangsa dalam pembebasan 10 sandera warga negara Indonesia yang ditahan oleh kelompok Abu Sayyaf periode April hingga Mei lalu. Baedowi memaparkan berbagai tahapan yang beliau lalui seperti pemetaan peran negosiator, tracing terhadap jaringan yang bisa dibangun untuk mendukung negosiasi, memastikan lawan runding yang tepat, permintaan proof of life, dan membicarakan alat tawar negosiasi.

Salah satu aspek menarik yang bisa digarisbawahi adalah dimasukkannya poin pendidikan sebagai alat tawar negosiasi. Poin tentang pendidikan inilah yang selama ini luput dari pemerintah Filipina dan juga pihak lain selama masa negosiasi. Padahal sebenarnya, kelompok penyandera tersebut juga hanyalah manusia yang memikirkan masa depan generasi muda mereka. Kondisi Sulu yang jauh tertinggal di berbagai aspek membuat tindak kriminal seperti penculikan menjadi opsi untuk menunjang kehidupan. Menurut Baedowi, pendidikan merupakan pilar penting untuk memutus rantai kekerasan yang kerap kali menjadi bagian dari keseharian di daerah konflik, termasuk di Sulu.

Tim Yayasan Sukma Bangsa menawarkan beasiswa untuk 30 anak di Sulu untuk bisa menempuh pendidikan di Aceh. Penawaran seperti ini belum pernah dialami oleh kelompok penyandera dan justru tawaran ini pulalah yang meyakinkan penyandera bahwa tim negosiator memiliki niat baik untuk memberikan pendidikan bagi generasi muda di Sulu. Hingga saat ini, Baedowi dan Sekolah Sukma Bangsa terus memastikan proses aplikasi visa calon siswa dari Sulu. Pada hari yang sama dengan pelaksanaan kuliah, Baedowi mendapat kabar bahwa 7 orang telah berhasil mendapat visa, sedangkan 23 lainnya masih menunggu proses aplikasi hingga akhir minggu ini.