28 Desember 2018 By @dm1n

National Round Table Discussion on ‘Killer Robots’ dan Masa Depan Peperangan Modern

National Round Table Discussion on ‘Killer Robots’ dan Masa Depan Peperangan Modern

Senjata otonom penuh adalah senjata yang dibekali dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Ketika senjata ini diaktifkan, ia mampu memilih dan menyerang target berdasarkan algoritma yang membuat senjata dapat melakukan identifikasi serta penyerangan secara otomatis.

Keberadaan senjata ini menimbulkan polemik tentang sejauh mana intervensi manusia dihilangkan dalam penggunaan senjata tersebut. Karena dengan menghilangkan manusia dalam penggunaan senjata, pertimbangan moral pun turut diabaikan.

Seiring dengan perdebatan yang ada, Institute of international Studies (IIS UGM) mengadakan National Round Table Discussion di Ruang Sidang Dekanat, Kamis (20/12). Diskusi bertema Killer Robots dan Mada Depan Peperangan Modern ini dihadiri oleh dosen-dosen prodi Hubungan Internasional dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Diskusi ini juga bermaksud membahas dua isu utama, yakni dampak dan implikasi senjata otonom penuh serta apa saja prospek dan tantangannya.

Diskusi dipimpin oleh tiga pembicara yakni Ir. Nazrul Effendy, M.Eng., PhD. dari Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika UGM, Christian Donny Putranto –  Legal Advisor ICRC Regional Delegation for Indonesia dan Timor-Leste, serta Yunizar Adiputera, M.A dari IIS UGM.

Dalam sesi pertama, Nazrul Effendy membahas perkembangan senjata otonom penuh dan kaitannya dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Menurut Nazrul, di samping manfaat kecerdasan buatan bagi manusia, teknologi tersebut memiliki implikasi yang buruk terkait dengan penggunaanya pada senjata otonom penuh untuk membunuh.

Artificial Intelligence ini seperti pisau. Bisa untuk memotong buah tetapi bisa juga untuk membunuh”, jelas Nazrul Effendy.

Dengan mengandalkan kecerdasan buatan tanpa kontrol manusia di dalamnya, senjata otonom penuh ini dapat menimbulkan potensi kematian yang besar.

Di sesi kedua, perspektif hukum dan ethical question dari senjata otonom penuh dibahas lebih lanjut oleh Christian Donny Putranto. Donny menekankan bukan hanya peran penting konsiderasi hukum, tetapi juga konsiderasi etis dalam memandang masalah penggunaan senjata otonom penuh. Tanpa kontrol manusia di dalam penggunaan senjata otonom penuh, subjek hukum senjata ini menjadi tidak jelas. Itu artinya, siapa yang harus menerima konsekuensi hukum apabila senjata ini melakukan kesalahan target menjadi tidak jelas.

“Apabila ada suatu tindakan yang tidak secara spesifik diatur dalam hukum humaniter, tindakan itu tetap harus mengikuti prinsip kemanusiaan,” tukas Donny.

Pertanyaan berikutnya adalah seberapa besar peran manusia diperlukan dalam penggunaan senjata otonom penuh sehingga dapat tetap mengikuti Hukum Humaniter Internasional.

Yunizar Adiputera, dalam sesi terakhir, menyampaikan kemungkinan konflik berskala domestik maupun internasional akibat penggunaan senjata otonom penuh. Risiko stabilitas nasional bisa saja muncul ketika negara-negara mulai saling berlomba mengembangkan senjata. Proliferasi senjata dapat menjadi semakin serius.

Yunizar juga turut menekankan pentingnya pembahasan mengenai hubungan senjata dan konflik.. Menurut Yunizar, senjata memiliki ilusi the sense of power atau perasaan berkuasa yang dapat dirasakan hanya apabila digunakan.

“Kita hanya akan merasa memiliki power ketika kita mengeksekusinya” lanjut Yunizar.

Maka dari itu, demi meminimalisasi potensi konflik Yunizar berpendapat bahwa regulasi senjata otonom menjadi penting. Meskipun negara-negara belum tentu mau meratifikasi ataupun mematuhi traktat-traktat yang ada, keberadaan traktat-traktat tersebut dapat menginduksikan norma-norma baru kepada negara-negara yang tidak mematuhi traktat yang ada.

“Traktat dapat berfungsi bahkan ketika traktat tersebut tidak diratifikasi. Norma dapat bekerja secara langsung tanpa paksaan atau enforcement. Di titik ini, kita berharap regulasi ini dapat diberlakukan secara universal,” sambungnya.


Penulis: Novrisa Briliantina
Editor: Imas Indra Hapsari