28 Februari 2017 By admin hi

Mengurai Konflik di Kawasan Timur Tengah bersama Dr. Nadim Hasbani

Mengurai Konflik di Kawasan Timur Tengah bersama Dr. Nadim Hasbani

Institute of International Studies bersama Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM menggelar kuliah umum bertajuk “Geopolitics of the Recent Middle East Conflicts” pada Jumat, 24 Februari 2017 bertempat di Auditorium Gedung Mandiri Lantai 4, FISIPOL UGM. Kuliah umum yang dilangsungkan selama kurang lebih dua jam menghadirkan Dr. Nadim Hasbani, Kepala Urusan Regulasi PT HM Sampoerna Tbk yang juga pernah menjabat sebagai Direktur Komunikasi Pusat Kajian Timur Tengah di Carnegie Endowment of International Peace. Kuliah dipandu oleh Dr. Nur Rachmat Yuliantoro selaku Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM, mengumpulkan setidaknya 70 peserta yang antusias terhadap isu-isu seputar kawasan Timur Tengah.

Dalam kuliah umum kali ini, Dr. Hasbani dengan komprehensif mengurai konflik yang mewarnai kawasan Timur Tengah, dimulai dari revolusi Arab Spring yang memicu transformasi politik negara-negara di seantero kawasan; dilanjutkan dengan skenario instabilitas dari enam negara; kemudian dipaparkan denominator konflik, seperti: proxy war, pertarungan ideologi, terpecahnya etnis, aliran keagamaan, dan suku, serta kolapsnya ekonomi di negara-negara konflik tersebut. Konflik Suriah dibedah di penghujung kuliah dan diakhiri dengan sesi tanya jawab.

Hal-hal pemicu Arab Spring menurut Dr. Hasbani sedikit banyak juga dapat ditemukan di Indonesia, bedanya situasi di Timur Tengah berkali lipat lebih gawat. Krisis ekonomi dicirikan oleh ketimpangan begitu tajam antara yang kaya dan miskin, ditambah penguasaan modal di tangan segelintir orang yang dipadu dengan korupsi. Karena krisis yang tengah berlangsung, lapangan pekerjaan begitu sulit didapat padahal demografi di Timur Tengah berbentuk piramida dengan jumlah usia muda begitu banyak di banding usia tuanya. Faktor ekonomi dan demografi kemudian didorong oleh penggunaan teknologi yang masif oleh kalangan mudanya, melalui platform terkoneksi internet, anak-anak muda yang resah dengan kondisi negara ini mampu menghimpun massa dan mengorganisasi protes.

Pembahasan mengenai Arab Spring bermuara pada elaborasi singkat terkait negara-negara terdampak revolusi yang masih berjuang dengan instabilitasnya. Tunisia, sebagai negara lahirnya Arab Spring adalah pengecualian, revolusi berhasil menghadirkan pemilihan umum. Sayangnya, lima negara lain seperti Bahrain, Mesir, Libya, Yaman, Irak, dan Suriah masih melalui masa-masa sulit hingga kini. Di Bahrain, masalah mayoritas-mayoritas menjadi latar politik. Raja Bahrain berasal dari golongan Sunni, sementara mayoritas populasi ialah Syiah. Sebagai mayoritas, masyarakat Syiah termarjinalisasi secara ekonomi, Saudi Arabia tidak segan pula untuk menekan gelombang perlawanan dengan mengirimkan angkatan bersenjatanya ke Bahrain.

Lain Bahrain, lain pula yang terjadi di Libya. Muammar Gaddafi secara otoriter memimpin Libya dan menguasai laju distribusi minyak yang dimiliki negara. Sejak Gaddafi diadili, terjadi perebutan kuasa antara faksi dan partai politik, semuanya bertujuan mendapat bagian paling besar dari industri minyak negara. Sementara di Mesir, kepemimpinan yang berganti antara Nasser, Sadat, dan Mubarok tetap memiliki kebijakan yang sama. Ketika Mubarok diturunkan dan diganti oleh kepemimpinan El-Sisi dari kalangan militer, ia berencana membawa Mesir kembali ke dekade 1950-an. Di Yaman, perang sipil seakan tidak pernah usai. Revolusi tidak membawa keadaan lebih baik, justru, perang sipil kembali terjadi, dibumbui oleh konflik berbasis suku, agama, perbatasan, dan campur tangan internasional. Terakhir, Dr. Hasbani menyontohkan konflik di Irak, dimana sejak pendudukan Amerika Serikat dan Saddam Hussein yang berasal dari golongan Sunni dijatuhkan, tampuk kekuasaan diserahkan ke kelompok mayoritas Syiah. Sejak itulah, keadaan di Irak tidak pernah sama lagi.

Karena keterbatasan waktu, konflik di Suriah yang paling kompleks dipahami tidak mendapatkan porsi yang cukup untuk dibedah. Populasi Suriah disusun oleh etnis, agama, suku yang berbeda dan saling berkonflik. Ketegangan yang terbangun di dalam negerinya dididihkan oleh keterlibatan pihak asing sehingga proxy war tidak terhindarkan. Banyaknya kepentingan yang bersilangan di antara banyaknya tokoh yang terlibat, membuat konflik Suriah merumit, hingga melupakan alasan awal mengapa mereka angkat senjata. Perang yang berlanjut, mengirimkan gelombang pengungsi ke negara-negara tetangga bahkan Eropa. Dr. Hasbani menutup diskusi dengan pernyataan yang memantik renungan mengenai dimensi kemanusiaan dalam perang. Bagaimana perihal arus pengungsi selama ini didiskusikan negara-negara tujuan, khususnya Eropa, menggunakan analisis politik tingkat tinggi yang melibatkan aktor-aktor internasional dan pihak-pihak yang bertikai. Tetapi sejak merebaknya foto bocah pengungsi dari Suriah, perang mulai menyentuh sisi kemanusiaan dunia. (AN)