29 Mei 2019 By Publikasi IIS

Indo-Pasifik Sentral bagi Politik Luar Negeri India Kontemporer

Indo-Pasifik Sentral bagi Politik Luar Negeri India Kontemporer

Jumat (24/5), Institute of International Studies menyelenggarakan forum CANGKIR TEH (Berbincang dan Berpikir tentang Hubungan Internasional) untuk ke-2 kalinya. Pada kesempatan kali ini, tema yang diangkat ialah “Konseptualisasi Indo-Pasifik: Visi India Melampaui Batasan Geografis” dengan menghadirkan Habibah Hermanadi, S.I.P., peneliti Institute of International Studies yang sedang melaksanakan studi master di University of Delhi, India. Kegiatan ini diselenggarakan di Ruang BA-504 FISIPOL UGM dan secara garis besar mencoba membahas mengapa India mengkonstruksikan kerangka Indo-Pasifik dan bagaimana India menggunakan konsep tersebut dalam konteks kebijakan luar negerinya.

Indo-Pasifik merupakan ide yang sentral bagi India. Berdasarkan paparan Habibah, berbagai forum akademisi maupun praktisi di India belakangan ini selalu melakukan pembahasan seputar konsep Indo-Pasifik yang berupaya menyatukan dua Samudera; Hindia dan Pasifik. Hal ini merupakan sebuah upaya counter-discourse India atas konsep Asia Pasifik yang seringkali mengeksklusi India, di mana Asia Pasifik kerap diasosiasikan dengan negara-negara Asia Timur dan Tenggara. Selain itu Habibah menyatakan, setidaknya terdapat tiga faktor lainnya yang mendorong sentralitas konsep terkait. Pertama, India memiliki klaim historis, fokus konsep ini untuk “membebaskan” lautan penting bagi India karena dipercaya merupakan kondisi yang terjadi di peradaban masa lalu. Kedua, hal ini merupakan konsiderasi geostrategis di mana melalui Indo-Pasifik, India digadang-gadang dapat membangun sphere of influence geopolitik, serta ketiga, menjadi manajemen persepsi, yakni membentuk konsep Indo-Pasifik alih-alih Asia Pasifik yang selama ini kental dengan negara Asia Timur dan Tenggara agar melibatkan India di dalamnya; membentuk persepsi Indo-Pasifik sebagai regional architecture building; membentuk persepsi Indo-Pasifik sebagai model pembangunan; serta membentuk persepsi Indo-Pasifik sebagai alternatif dari model lain yang sedang populer kini, yakni Belt and Road Initiative milik Cina.

Dalam konteks kebijakan luar negeri, India menggunakan Indo-Pasifik melalui beberapa cara. Pertama, melalui kebijakan multilateral “NAMO’s Bouquet”. NAMO adalah akronim di mana huruf N merupakan inisial “North-South Transport Corridor (INSTC)” atau koridor dagang multimodal yang terbentang dari negara di belahan bumi Utara hingga ke Selatan; ‘A’, merupakan singkatan dari inisiasi ‘Asia-Africa Growth Corridor’ (AAGC) yang mempromosikan perdagangan maritim dengan bentang wilayah Timur (Asia) hingga ke Barat (Afrika); ‘M’, merujuk pada proyek MAUSAM yang merupakan koridor dengan fokus kultural Hindu, Budha, dan Islam di antara negara-negara Indo-Pasifik; serta, ‘O’, yang berarti Open atau keterbukaan dan inklusivitas . Tak hanya melalui NAMO’s Bouquet, India juga mengimplementasikan kebijakan yang berorientasi ke sektor maritim, mempromosikan Indo-Pasifik sebagai tren pengetahuan baru yang menjunjung prinsip adjustable and adaptable .

Sayangnya, karena Indo-Pasifik masih merupakan konsep yang tergolong baru, cukup sulit untuk mendefinisikan Indo-Pasifik sebagai konsep tunggal. Masih ramai perdebatan dengan berbagai cara pandang dalam melihat Indo-Pasifik, baik sebagai model, konsep, perspektif, rezim, sphere of influence, maupun alternatif. Hal ini sendiri baru akan terjawab setelah proses implementasi sepenuhnya berjalan dengan selesai.


Penulis: Sonya Teresa Debora
Penyunting: Angganararas I. & Alifiandi R. Y.