07 Oktober 2017 By Publikasi IIS

ICAN Meraih Penghargaan Nobel Perdamaian 2017 Atas Upaya Perlucutan Total Senjata Nuklir

ICAN Meraih Penghargaan Nobel Perdamaian 2017 Atas Upaya Perlucutan Total Senjata Nuklir

The International Campaign to Abolish Nuclear Weapon (ICAN) dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian 2017 dalam keberhasilannya mengupayakan Traktat Pelarangan Senjata Nuklir. Traktat ini secara langsung menyatakan bahwa senjata pemusnah massal tersebut ilegal, sehingga segala kegiatan termasuk pengembangan, pengujian, produksi, dan penggunaan senjata nuklir dilarang. Perjanjian historis ini diadopsi oleh PBB pada 7 Juli 2017 dengan dukungan dari 122 negara.

ICAN adalah koalisi kampanye global yang terdiri dari masyarakat sipil dan organisasi non-negara di 100 negara. ICAN senantiasa memobilisasi masyarakat di seluruh dunia untuk dapat menginspirasi, mempersuasi, dan menekan pemerintah masing-masing agar mendukung upaya pelarangan senjata nuklir.

Upaya ICAN selama satu dekade terakhir didasari oleh gagasan bahwa aturan pelarangan senjata nuklir seharusnya ditentukan oleh negara-negara non-pemilik. Paradigma bahwa senjata nuklir adalah sumber keamanan negara merupakan pemahaman yang salah kaprah. Senjata nuklir seharusnya dilihat dari kacamata konsekuensi kemanusiaan yang ditimbulkan. Ia menciptakan dampak yang destruktif dan tidak ada upaya pencegahan yang bisa dilakukan oleh umat manusia untuk mengelola dampaknya. Oleh karena itu, senjata nuklir harus dilarang secara total.

Institute of International Studies mengucapkan selamat atas pencapaian dan pengakuan yang diberikan kepada ICAN. Penghargaan ini bukan sebuah titik akhir, melainkan langkah awal mewujudkan dunia-bebas-senjata nuklir. Sebagai satu-satunya mitra resmi ICAN di Indonesia, IIS UGM mengemban misi untuk memastikan pemerintah Indonesia mendukung seluruh upaya perlucutan senjata nuklir, termasuk proses ratifikasi ke dalam Undang-Undang.



Beragam giat edukasi dan kampanye publik telah dilakukan oleh Kelompok Kerja Perlucutan Senjata IIS UGM melalui beragam media dan bentuk. Misalnya dengan menyelenggarakan kuliah umum di kampus Fisipol UGM, Universitas Budi Luhur, Universitas Udayana, Universitas Katholik Parahyangan, Universitas Andalas, Universitas Diponegoro, dan Universitas Muhammadiyah Malang. Selain kuliah umum, tim juga membuat booth edukasi dan penandatanganan petisi. Pada tahun 2014 dan 2015, tim ini juga menyelenggarakan kampanye publik berbentuk sepeda santai bertajuk “Bike Not Bombs”, di mana peserta beristirahat di titik keramaian Kota Yogyakarta sembari mengajak pengunjung berbincang tentang bahaya senjata nuklir. Kegiatan ini juga diiringi kampanye di media sosial.

Selain kegiatan publik, Muhadi Sugiono dan Yunizar Adiputera, dua peneliti IIS UGM, secara aktif berpartisipasi sebagai bagian dari ICAN dalam beberapa pertemuan tingkat tinggi. Keduanya secara bergantian hadir dalam tiga Konferensi Dampak Kemanusiaan Senjata Nuklir di Oslo (2013), Nayarit (2014), dan Wina (2014); serta pertemuan Kelompok Kerja Perlucutan Senjata Nuklir PBB di Jenewa (2016). Selain memastikan dukungan pemerintah Indonesia, mereka juga diberi mandat untuk memonitor sikap yang diambil oleh pemerintah di negara-negara Asia Tenggara serta melakukan lobi-lobi informal kepada perwakilan diplomat yang hadir.

Yunizar Adiputera turut hadir di New York ketika traktat tersebut secara resmi diadopsi PBB. “Dampak kemanusiaan yang ditimbulkan senjata nuklir mengantar pada satu kesimpulan: senjata nuklir adalah ilegal dan sudah sepantasnya dilarang penuh kepemilikan dan penggunaannya,” ujar Yunizar.

Menanggapi keraguan terhadap absennya negara pemilik senjata nuklir dalam penandatanganan Traktat, Muhadi dan Yunizar menegaskan bahwa Traktat ini akan mendorong perubahan norma internasional. Perlahan, status ilegal yang disematkan kepada senjata nuklir melalui Traktat ini akan mengubah standar moral masyarakat internasional

“Saat sebuah negara memiliki senjata nuklir, mereka sering sekali merasa dirinya istimewa. Munculnya traktat ini dapat menghilangkan perasaan tersebut dan membuat opini buruk. Karena nantinya, negara pemilik senjata nuklir akan dicap sebagai negara yang buruk karena memiliki senjata tersebut,” terang Yunizar dalam konferensi pers di IIS UGM 22 September lalu.

Muhadi menambahkan contoh bahwa satu abad lalu, penjajahan masih dianggap laku yang wajar dilakukan. Namun seiring dengan upaya menarasikan penjajahan sebagai tindakan amoral, praktik ini tidak lagi dilihat sebagai sebuah kebanggan.

“Ketika traktat ini secara penuh berlaku, maka penduduk negara-negara pemilik senjata nuklir akan malu karena tindakan negaranya dinilai ilegal dan tidak bermoral berdasarkan aturan internasional. Ini masalah wacana siapa yang beradab yang tidak. Amerika Serikat kedudukannya akan sama dengan Korea Utara, sama-sama buruk karena memiliki senjata pemusnah massal yang ilegal. Kelak, memiliki senjata nuklir bukanlah sebuah kebanggaan,” tambah Muhadi.


Lihat album kegiatan Kampanye Perlucutan Senjata IIS UGM di sini


Langkah Indonesia untuk menandatangani Traktat Pelarangan Senjata Nuklir pada seremoni di sesi Sidang Umum PBB 20 September lalu dipandang sebagai langkah yang tepat. Langkah tersebut menegaskan kembali keberpihakan moral negara kita terhadap kemanusiaan. Meski begitu, jalan Indonesia di isu perlucutan senjata nuklir masih panjang. Traktat Pelarangan Senjata Nuklir baru akan berlaku penuh dan mengikat setelah 50 negara meratifikasi ke dalam hukum domestik masing-masing.

Artinya, dukungan Indonesia terhadap dunia-bebas-senjata nuklir harus diwujudkan hingga ratifikasi Traktat ke dalam Undang-Undang. Sayangnya, Muhadi menambahkan, RUU mengenai perlucutan senjata seringkali tidak dianggap sebagai prioritas oleh DPR. Padahal ketika terjadi perang nuklir, dampak radiasi akan menyebabkan efek secara global. Misalnya penurunan rata-rata suhu hingga menyebabkan kegagalan panen dan krisis pangan. Ini tentu saja akan berdampak pula pada Indonesia.

“Saya harap bisa dimasukkan prolegnas dan bisa langsung diratifikasi paling lambat tahun depan, bersamaan dengan upaya ratifikasi pelarangan bom curah”, pungkas Muhadi Sugiono.

(AN/NGP)

.


Kompilasi opini dan keterlibatan tim peneliti IIS UGM dalam perundingan pelarangan senjata nuklir:

[Rilis Pers]

Konferensi Pers pasca seremoni penandatanganan Traktat 20 September di PBB:

Rilis Pers IIS UGM pasca disepakatinya pengadopsian Traktat di PBB.

[Pernyataan] Pernyataan Muhadi Sugiono dalam diskusi Kelompok Kerja Perlucutan Senjata Nuklir di Jenewa, PBB (4 Mei 2016)

[Artikel Opini]