03 Oktober 2019 By admin hi

DIHI Mempromosikan Konsep ‘Climate Justice‘ melalui Pengelolaan Sampah Plastik menjadi Ecobrick ke Desa Ngombak

DIHI Mempromosikan Konsep ‘Climate Justice‘ melalui Pengelolaan Sampah Plastik menjadi Ecobrick ke Desa Ngombak

Pada hari Sabtu (21/9), Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Ngombak, Kedungjati, Grobogan, Jawa Tengah. Pengolahan sampah plastik yang dilakukan oleh masyarakat Desa Ngombak dapat dijadikan percontohan terkait pengelolaan sampah plastik.

Melihat adanya potensi untuk membantu menyelesaikan permasalahan lingkungan, DIHI tertarik untuk melakukan Pengabdian Masyarakat dengan tema “Mempromosikan Konsep ‘Climate Justice‘ melalui Pengelolaan Sampah Plastik menjadi ecobrick oleh Masyarakat Desa Ngombak, Kedungjati, Grobogan, Jawa Tengah”. Dengan adanya Pengabdian Masyarakat ini, diharapkan DIHI dapat membantu menyelesaikan permasalahan sampah serta membantu menemukan potensi yang lebih besar dari pembuatan ecobrick tersebut.

Rombongan DIHI didampingi oleh dua Dosen dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan UGM, yaitu Dr. Inggar Septhia Irawati, S.T., M.T. dan Angga Fajar Setiawan, S.T., MEng., Ph.D, bertolak dari Yogyakarta pada pukul 08.00. Rombongan tiba di Desa Ngombak pada pukul 12.00 siang.

Kegiatan diawali dengan sambutan oleh Ketua RW, Lurah, beserta ibu-ibu Dasa Wisma Dusun Metuk. Kegiatan selanjutnya adalah presentasi oleh Siswoyo, inisiator ecobrick yang juga merupakan seorang guru yang mengajar di SMP Negeri 1 Kedungjati. Beliau menceritakan bagaimana ide mengenai ecobrick ini muncul.

Ide awal pengolahan plastik menjadi ecobrick ini muncul karena Siswoyo telah lama merasa kesulitan untuk membuang sampah di lingkungan tempat beliau tinggal ataupun di sekolah tempat beliau mengajar. Hal tersebut dikarenakan sampah plastik tidak dapat dengan mudah untuk ditumpuk, ditimbun, atau dibakar. Awalnya muncul ide untuk mengolah sampah-sampah plastik tersebut menjadi kerajinan tangan yang berupa bunga plastik, namun kurang memiliki nilai ekonomi karena menggunakan plastik bakas sehingga bentuk dari bunga tersebut kurang menarik.

Setelah melihat beberapa informasi dari internet, Siswoyo memiliki ide untuk mengolah sampah-sampah plastik tersebut menggunakan metode pirolisis, yaitu pemrosesan sampah plastik menjadi minyak. Dari minyak tersebut, plastik dapat dimanfaatkan kembali menjadi berbagai hal. Kualitas dari plastik pun menentukan kualitas minyak yang dihasilkan.

Alat yang digunakan oleh Siswoyo pun masih cukup sederhana, yaitu menggunakan drum/barrel besar yang dapat digunakan untuk membakar sampah plastik sekira 10 kilogram. Hasil pembakaran telah melalui proses penyulingan sehingga dapat dihasilkan minyak bersih dan murni.

Proses pengembangan ecobrick dari plastik ini pun bertahap. Setelah melalui berbagai percobaan, akhirnya Siswoyo menemukan kombinasi bahan yang cukup kuat dan kokoh untuk mambuat ecobrick dalam bentuk paving. Paving hasil produksi Siswoyo telah diuji berkali-kali dengan cara dibantingkan ke tanah dan ditumbuk, namun paving tersebut tidak pecah atau retak, sehingga Siswoyo optimis bahwa paving tersebut dapat memiliki nilai guna yang tinggi, termasuk menjadi bahan bangunan permanen. Namun masih ada beberapa permasalahan terkait paving ecobrick tersebut.

Permasalahan utamanya adalah bahwa Siswoyo beserta timnya belum mengetahui secara pasti kualitas dan kekuatan dari paving tersebut. Untuk memiliki nilai komersial, paving tersebut harus melalui uji struktur untuk memastikan bahwa paving-paving tersebut layak dan memenuhi standar untuk dijadikan sebagai bahan bangunan permanen. Untuk mengetahui hal tersebut, DIHI bekerja sama dengan Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan serta Laboratorium Struktur UGM berusaha untuk melakukan pengujian terhadap kualitas ecobrick buatan Siswoyo tersebut.

Dr. Inggar Septhia Irawati, S.T., M.T. dan Angga Fajar Setiawan, S.T., MEng., Ph.D. membantu memberikan masukan dari segi struktur. Mereka mengatakan bahwa kekuatan dan kualitas bahan bangunan terletak pada material penyusunnya, sehingga sangat penting untuk mencatat setiap detail material yang digunakan beserta takaran material untuk membuat paving tersebut. Untuk menghindari masalah lingkungan dan kesehatan yang dihasilkan dari asap pembakaran, maka proses pembakaran harus dilakukan dengan kondisi barrel tertutup.

Untuk memastikan kekuatan dari paving-paving tersebut, beberapa sample paving akan dibawa ke Laboraturium Struktur untuk pengujian lebih lanjut di Yogyakarta. Sebelum tim Dosen dari DIHI dan DTSL kembali ke Yogyakarta, Siswoyo memberikan sekitar 25 sampel paving.

Setelah cukup puas mendengarkan dan melihat langsung tempat pembuatan ecobrick, rombongan Dosen HI dan Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan kembali Yogyakarta pada pukul 16.00. Harapannya, kualitas paving ecobrick tersebut dapat segera diketahui dan memberikan nilai ekonomi bagi warga Desa Ngombak dan sekitarnya.