29 April 2019 By Publikasi IIS

Beyond the Great Wall #2: Membahas State-Building dan Miskonsepsi Mengenai Cina

Beyond the Great Wall #2: Membahas State-Building dan Miskonsepsi Mengenai Cina

Pada Jumat (26/4) forum akademik “Beyond the Great Wall” (BTGW) kembali hadir dengan tema diskusi State-Building di Cina. Edisi kedua dari forum akademik yang diselenggarakan Institute of International Studies (IIS) ini mendatangkan dua pembicara, yakni Randy Wirasta Nandyatama, M.Sc. selaku dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (DIHI UGM); dan Nuruddin Al Akbar, M.A., mahasiswa doktoral Ilmu Politik UGM. Kegiatan ini diadakan di Ruang Dekanat FISIPOL UGM dan dihadiri oleh peserta dari UGM maupun institusi lain di Yogyakarta.

Randy Wirasta membuka sesi diskusi BTGW edisi kedua dengan memaparkan direct election di Cina sebagai salah satu komponen state building. Menurut Randy,  State-building yang dilakukan oleh Cina merupakan hal yang menarik untuk dibahas. Salah satu alasannya adalah karena masih banyak miskonsepsi masyarakat Indonesia mengenai sistem politik Cina.  Karena ideologi komunisme yang dianut Cina, banyak asumsi bahwa Cina merupakan negara yang tidak demokratis dan represif terhadap Hak Asasi Manusia. Meski tidak sepenuhnya salah, Randy menyatakan bahwa hal ini merupakan pandangan yang simplistik. Terlepas dari berbagai persepsi mengenai demokrasi di Cina, Cina memiliki sistem Pemilihan Umum Langsung (direct election) yang diselenggarakan di tingkat desa sejak tahun 1979 dan diperkenalkan secara formal pada 1987.

Direct election juga dilakukan sebagai strategi Partai Komunis Cina (PKC) agar tetap dianggap demokratis oleh komunitas internasional. Karena pentingnya peran PKC sebagai elemen tidak terpisahkan dari Cina, penting pula untuk membangun legitimasi partai melalui direct election. Meski dalam pelaksanaannya terdapat beberapa permasalahan yang muncul, seperti ketidakseimbangan antara locally registered population dengan pendatang; diskrepansi antara kader desa PKC dan penduduk desa umum; mekanisme pemilu yang tidak sesuai dengan jenis profesi masyarakat; serta adanya praktik politik klan dan menyebabkankerusakan dan kecurangan dalam pemilu, direct election ini berkontribusi bagi terwujudnya akuntabilitas pegawai desa terhadap masyarakat, serta kecenderungan praktik demokrasi yang berjalan di tengah-tengah otokratisme Cina.

Menanggapi pemaparan Randy, Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, dosen DIHI UGM sekaligus ‘pencetus’ kegiatan BTGW menyatakan bahwa masyarakat Cina secara umum sangat menghormati Xi Jinping sebagai presiden, dan saat ini legitimasi PKC dapat dikatakan sangat kuat berkat indoktrinasi yang dilakukannya.

Masih dalam tema state-building, pembicara kedua, yakni Nuruddin Al Akbar mengemas paparannya dengan judul “China: (Always) Beyond the Great Wall”, dan memaparkan meski Cina seringkali dianggap sebagai bentuk kegagalan ideologi komunis, komunisme Cina yang dikonseptualisasikan oleh Mao membuatnya tidak terkungkung dalam ideologi komunisme a la Eropa. Karenanya, dapat dikatakan bahwa Cina memang selalu melampaui ‘Great Wall’ yang dianalogikan sebagai ‘standar’ tertentu. Menurut Nuruddin, bisa jadi, kegagalan bukan terletak pada ideologi komunisme Cina tetapi pada bagaimana kita memandang Cina dengan sangat ‘Weberian’ dan bertumpu pada konsep ideal bureaucracy, yakni melihat hal kecil yang tidak sesuai dengan ‘teori’ ideologi sebagai penyimpangan.

Sifat “melampaui standar” Cina ini juga dapat dilihat dari penerapan salah satu filosofi utama di Cina, yakni Taoisme. Taoisme, yang dicirikan dengan adanya sinkretisme, menjadikan tidak adanya kemelekatan pada standar tertentu sehingga memunculkan cara berpikir yang spontan dan mendobrak batasan.

“Karakteristik inilah yang turut mempengaruhi kemunculan ekonomi pasar bebas pada masa Deng Xiaoping”, tambah Nuruddin.

Selain itu, Nuruddin juga memaparkan bagaimana perubahan-perubahan yang terjadi di Cina merupakan hal yang alamiah. Misalnya, pada era Xi Jinping, muncul slogan “the Chinese Dream” yang sebenarnya telah menjadi ide lama Mao dan hanya mengalami rekontekstualisasi ala Xi. “Chinese Dream” sendiri menekankan pencapaian impian yang dilakukan secara kolektif namun tetap mempertahankan unsur individualitas, dan dianggap penting oleh mayoritas penduduk muda Cina.

Guna menutup kegiatan hari itu, Nur Rachmat kemudian menyimpulkan bahwa Cina memang memiliki cara state-building yang berbeda dari kebanyakan negara,

“China has its own way – Cina tidak harus menjadi demokrasi atau menjadi Barat itu sendiri”.


Penulis: Sonya Teresa Debora & Heidira Hadayani
Penyunting: Angganararas Indriyosanti