10 April 2019 By Publikasi IIS

Aktor Non-Negara dalam Aktivisme Transnasional

Aktor Non-Negara dalam Aktivisme Transnasional

Dalam kajian Hubungan Internasional (HI) tradisional, negara memegang peran sentral dalam mempengaruhi dinamika politik internasional. Namun dewasa kini, peran aktor non-negara seperti perusahaan multinasional, non-government organization (NGO) dan organisasi masyarakat sipil, hingga individu mulai menunjukkan signifikansi. Khususnya dapat dilihat dari makin intensifnya aktivitas aktor-aktor non negara melewati batas hukum kedaulatan negara. Interaksi antar aktor non-negara tersebut kemudian dikenal sebagai hubungan transnasional. Pertanyaannya kemudian, apa sebenarnya transnasionalisme itu? Apa dan bagaimana peran aktor-aktor non-negara dewasa kini dalam mempengaruhi konstelasi politik global?

 Pertanyaan-pertanyaan tersebut berusaha dijawab oleh buku “Transnasionalisme: Peran Aktor Non-Negara dalam Hubungan Internasional” yang didiskusikan oleh Institute of International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan Yayasan Pustaka Obor Indonesia pada Kamis (4/4) bertempat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Diskusi buku ini menghadirkan langsung Dr. Ani W. Soetjipto selaku penulis buku yang juga merupakan dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Indonesia (UI). Serta Siti Daulah Khoiriati, M.A., dosen Ilmu Hubungan Internasional UGM sebagai pembahas.

Buku “Transnasionalisme: Peran Aktor Non-Negara dalam Hubungan Internasional” sejatinya merupakan buku editorial yang memuat kumpulan artikel mahasiswa bimbingan Ani Soetjipto dari program pascasarjana Ilmu Hubungan Internasional UI. Tulisan-tulisan tersebut dibingkai dalam 3 bagian; Indonesia yang memuat 3 studi kasus advokasi transnasional oleh organisasi masyarakat sipil Indonesia dalam self-determination Timor Timur, Bali Tolak Reklamasi, dan Pengadilan Rakyat Internasional 1965; Perspektif Komparatif mencoba membandingkan faktor keberhasilan advokasi transnasional oleh 3 aktor, meliputi WSPA yang mengkampanyekan isu kesejahteraan hewan; Greenpeace dengan kampanye anti polusi air di Cina; serta organisasi petani transnasional La Via Campesina dalam memperjuangkan hak-hak petani. Selain itu, ada pula satu tulisan khusus mengenai peran Information and Communication Technologies (ICT) dalam pergolakan Revolusi Mesir 2011.

Ani Soetjipto sendiri menulis bab pengantar dari buku ini guna memberi kerangka berpikir memahami transnasionalisme, khususnya bagaimana aktor-aktor non-negara melakukan relasi transnasional dalam mengadvokasikan kepentingannya. Ia menyebutkan bahwa titik berangkat dalam memahami transnasionalisme dapat dilihat melalui tulisan Nye dan Keohane dalam Transnational Relations and World Politics (1971), dimana hubungan transnasional dimaknai sebagai pergerakan benda atau jasa melewati batas-batas negara yang mana setidaknya salah satu aktor terlibat bukanlah pemerintah negara ataupun organisasi internasional. Kendati demikian, Nye dan Keohane tidak secara spesifik menyebut siapa saja yang dikategorikan sebagai aktor non-negara dan bagaimana mereka mempengaruhi struktur internasional. Mereka masih meyakini bahwa negara adalah akto utama dan aktor non-negara bekerja secara horizontal paralel dalam hubungan “inter-nasional” (antar negara bangsa).

Adapun referensi mengenai signifikansi peran aktor non-negara mulai muncul selepas Perang Dingin. Ilmuwan-ilmuwan HI mulai mengaitkan hubungan transnasional kelompok advokasi (NGO, media massa, kelompok keagamaan, diaspora, dll) yang mengkampanyekan isu domestik namun menjalin jejaring lintas negara dengan studi-studi gerakan sosial dan jaringan advokasi. Studi transnasionalisme dalam HI kontemporer kemudian akrab dengan istilah transnational social movement (TSM) dan transnational advocacy network (TAN). Salah satu kunci yang membedakan TAN dan TSM dengan gerakan sosial atau jaringan advokasi pada umumnya terletak pada bagaimana kelompok advokasi membingkai isu domestik yang diperjuangkan ke dalam norma-norma internasional. Sehingga akan menekan negara atau rezim internasional untuk lebih mematuhi apa yang menjadi tuntutan kelompok advokasi.

Memasuki sesi pembahasan, Siti Daulah Khoiriati memberikan tanggapannya mengenai buku yang didiskusikan. Sebagai pengampu mata kuliah “Transnasionalisme dalam Politik Dunia”, ia mengajarkan pendekatan yang cukup berbeda kepada mahasiswanya mengenai transnasionalisme. Ia memulai pembahasan awal di kelas dengan menjelaskan bahwa hubungan transnasional mulai dikonseptualisasikan manakala perusahaan-perusahaan multinasional (MNC) dianggap memiliki “power” yang setara dengan negara. Hal ini dicontohkan dari bagaimana kendati Cina dan Jepang secara politik tidak akur, intensnya relasi pasar antar perusahaan multinasional di kedua negara mampu menahan Cina dan Jepang dalam berperang sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Namun sejalan dengan buku, kelas “Transnasionalisme dalam Politik Dunia” juga mengkhususkan diskursus transnasionalisme dalam kerangka aktivisme lintas negara. Siti Daulah sendiri mengakui banyak mahasiswa S1 Ilmu Hubungan Internasional UGM yang menulis topik penelitian seputar hubungan transnasional. Mulai dari kampanye “Jogja ora Didolhingga dimensi kejahatan transnasional terorganisir seperti perdagangan manusia hingga penyelundupan satwa liar. Menurut Siti Daulah, riset-riset seputar Transnasionalisme selain dapat memperkaya studi HI melalui topik-topik yang semakin variatif, juga dapat menunjukkan bahwa sarjana Ilmu HI memiliki ketrampilan praktis yang membuka orientasi mereka ke pilihan profesi-profesi selain diplomat – semisal aktivis, jurnalis, pekerja kemanusiaan, dan pekerja perusahaan multinasional.

Kegiatan diskusi buku diakhiri dengan sesi diskusi yang membuka ruang bagi pandangan-pandangan kritis atas studi transnasionalisme dalam HI. Semisal argumen dari Muhadi Sugoiono (Dosen Ilmu HI UGM) yang melihat selama ini transnasionalisme baru dipandang sebagai fenomena – yang artinya mempertahankan status quo logika dasar HI bahwa negara adalah aktor utama dan relasi antar aktor non-negara tersebut sebagai anomaly. Transnasionalisme belum umum dipandang sebagai cara pandang/perspektif yang tentunya akan menghasilkan implikasi teoritis dalam studi HI itu sendiri. Diskusi menarik lainnya mengenai penghalang utama keberhasilan TAN dan TSM, yakni banyaknya aktor yang terlibat sehingga cenderung memunculkan konflik kepentingan dan bahkan segregasi dalam koalisi.


Penulis: Alifiandi Rahman Yusuf
Penyunting: Willibrordus Bintang Hartono