21 September 2017 By Publikasi IIS

20 Tahun Studi Perdamaian di HI UGM

20 Tahun Studi Perdamaian di HI UGM

 Issue 05 | September 2017

Tulisan ini didedikasikan kepada guru, kolega, sahabat kami, Dr. Samsu Rizal Panggabean, perintis studi perdamaian di HI UGM. Pak Rizal berpulang dan beristirahat dalam damai pada tanggal 7 September 2017, di tengah proses penyelesaian artikel ini. Melalui tulisan ini, para murid, kolega, dan sahabatnya mengikat janji meneruskan agenda studi perdamaian, baik di HI UGM maupun secara luas. Kami membayangkan Pak Rizal naik sepeda dengan gembira bersama Pak Herb.

“Jika kita ingin damai, maka kita harus belajar tentang perdamaian – bukan tentang perang.”

Kutipan di atas diucapkan trio Samsu Rizal Panggabean, Herbert Feith, dan Lance Castle pada tahun 1997, saat pertama kali menawarkan kelas Pengantar Studi Perdamaian (PSP) di Departemen (dulu: Jurusan) Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (HI UGM). Ini adalah kritik mereka terhadap studi HI klasik, yang meskipun memberi perhatian besar terhadap persoalan perang dan damai, sangat menitikberatkan pada kajian perang – apa yang menyebabkannya, bagaimana mencegahnya, dan bagaimana menghentikannya. Mereka menggarisbawahi kecenderungan ilmu HI klasik memaknai perdamaian sekedar sebagai ketiadaan perang, bukan sesuatu yang secara akademik bisa dan perlu dikonseptualisasikan, didefinisikan, dipelajari, dan diperlakukan secara terpisah dari perang. Menurut mereka, kelas-kelas HI klasik sering sekali mendiskusikan pengertian perang, tetapi hampir tidak pernah memikirkan apa itu damai, meski mengklaim bahwa agenda utama belajar HI adalah mewujudkan perdamaian dunia.

Dua puluh tahun berlalu. Saat ini, “Studi Perdamaian dan Konflik” telah menjadi satu konsentrasi studi tersendiri di S-1 HI UGM. Ia tidak hanya menawarkan PSP, melainkan juga aneka mata kuliah seperti Studi Nirkekerasan, Konflik: Analisis dan Transformasi, Negosiasi dan Resolusi Konflik, Konflik Etnis, serta Binadamai. Di tingkat S-2, HI UGM membuka kelas Dasar-Dasar Studi Perdamaian, Operasi Perdamaian Internasional, dan Binadamai. Tulisan ini menelusuri filosofi pendidikan perdamaian di HI UGM, juga tiga ranah pengembangannya: kurikulum, riset, dan aksi.

Pendidikan Perdamaian: Beberapa Filosofi

Studi perdamaian bukanlah studi yang netral. Ia punya agenda spesifik, yaitu beremansipasi dari struktur, kultur, dan praktik kekerasan – dan agenda ini mensyaratkan pembelajarnya memihak kepada underdog. Karenanya, orientasi pendidikan perdamaian tidak terletak pada aspek kognisi saja, melainkan juga aspek afeksi dan aksi.

Agenda di atas hanya bisa dicapai dengan menempatkan mahasiswa dan refleksinya sebagai pusat kegiatan belajar-mengajar. Dari tahun ke tahun, PSP, sebagai kelas pertama yang diambil mahasiswa di antara mata kuliah konsentrasi perdamaian dan konflik lainnya, dibuka dengan mendengarkan bagaimana masing-masing mahasiswa memaknai perdamaian. Beragam cara pandang tersebut dieksplorasi, didiskusikan, dan dibingkai sedemikian rupa sehingga mahasiswa sendiri dapat mengidentifikasi aneka rintangan perdamaian di sekitar mereka, baik yang berbentuk kekerasan langsung, kekerasan struktural, maupun kekerasan kultural. Lebih jauh lagi, mahasiswa didorong mawas diri: apakah saya berkontribusi menciptakan dan melanggengkan kekerasan tertentu?

Proses refleksi di atas tentu tidak mudah. Beberapa mahasiswa mengemukakan bahwa justru sejak belajar perdamaian, hidup mereka menjadi “tidak damai”. Maksud mereka, sejak terpapar konsep, nilai, dan keterampilan kunci studi perdamaian, “zona nyaman” mereka terganggu. Tidak bisa tidak, mahasiswa jadi memikirkan ulang hal-hal yang sebelumnya tidak dianggap problematik. Apakah negara selalu benar dan karenanya tidak perlu minta maaf dan harus selalu dipatuhi? Apakah betul, jika digunakan sebagai last resort, perang bisa dijustifikasi? Apakah produk yang saya kenakan dan gaya hidup yang saya pilih mendukung penindasan di belahan bumi lain? Apakah saya, secara sadar maupun tidak, telah bersikap seksis, rasis, monis, atau militeristik? Apakah saya gagal bersolidaritas dengan yang kelas sosialnya, orientasi seksualnya, agamanya, dan identitas lainnya berbeda dari saya? Apakah toleransi itu cukup? Apakah saya, seperti kata Pink Floyd, hanyalah another brick in the wall?

Tentu saja, refleksi mendalam dan bermakna sulit dilakukan pada kelas-kelas model “datang-duduk-dengar-ujian”. Karenanya, kelas-kelas perdamaian di HI UGM menggabungkan permainan, permainan peran, drama, menggambar, membaca puisi, menonton film, esai foto, lagu, kunjungan lapangan, kunjungan dosen tamu, tutorial, curah pendapat, jajak pendapat, diskusi berpasangan, diskusi kelompok kecil, diskusi bertingkat, presentasi multimedia, ceramah, pameran, proyek kelas, dan aneka metode kreatif lainnya. Beberapa permainan yang menjadi langganan antara lain Vive la Difference dan Move along the Line, di mana mahasiswa bergerak dan berpindah sedemikian rupa mengilustrasikan identitas atau privilege masing-masing. Sepanjang permainan, mahasiswa diminta bercerita mengenai pengalaman mereka sebagai mayoritas dan minoritas, juga pengalaman didiskriminasi dan mendiskriminasi kelompok lain. Adapun tempat-tempat yang dikunjungi kelas termasuk pasar tradisional, perayaan Sekaten, terminal bis, rumah sakit, penjara, mall, Sunmor (pasar kaget mingguan di wilayah UGM), sekolah, pesantren, tempat ibadah, dan sebagainya.

Di akhir 1990-an, saat belum banyak mata kuliah menerapkan student-centered learning, PSP menonjol karena kehebohan dan kegaduhan yang ditimbulkannya. Padahal, ada kalanya proses belajar berlangsung dalam sunyi. Misalnya, ketika Pak Herb berkata, “Mari kita renungkan bersama!” warga kelas pun menenggelamkan diri dalam pikiran masing-masing dan kelas bisa hening selama lima menit penuh.

Kurikulum

Substansi pokok dari studi perdamaian adalah keyakinan bahwa tidak ada jalan menuju damai selain damai itu sendiri. Karenanya, sejak awal 2000-an, HI UGM menawarkan PSP bersama para “sepupunya” yaitu Konflik: Analisis dan Transformasi, Negosiasi dan Resolusi Konflik, Pengantar Studi Demokrasi, serta Studi Keamanan Internasional (yang menggeser perhatian mahasiswa dari keamanan militeristik versi negara ke keamanan manusia). Ini supaya mahasiswa memiliki ide konkret bagaimana menghadirkan perdamaian melalui cara-cara damai: mentransformasi konflik, mengutamakan negosiasi, mengkonsolidasikan demokrasi, dan memenuhi keamanan warga negara. PSP sendiri berfokus pada upaya mengasah sensitivitas mahasiswa akan kekerasan struktural dan kultural di sekitar mereka, meningkatkan keterampilan mereka menggunakan metode nirkekerasan, serta mempertajam kemampuan mereka merancang program emansipasi dari kekerasan.

Topik yang ditekankan PSP berubah sepanjang masa, menyesuaikan tidak saja dengan tren global studi perdamaian, tetapi juga dengan yang dianggap relevan dalam keseharian hidup mahasiswa. Di tahun-tahun awal PSP, energi kelas tercurah pada upaya mendekonstruksi nilai-nilai Orde Baru: militerisme, kepatuhan (buta) terhadap negara, dan keseragaman pendapat. Selanjutnya, di awal 2000-an, di tengah meningkatnya kekerasan komunal di beberapa kota di Indonesia, kelas memberikan perhatian lebih kepada perdamaian lintasagama dan lintasetnis. Di pertengahan 2000-an, saat organisasi-organisasi internasional dan lokal membuka banyak lowongan kerja sebagai peacebuilding officer, conflict worker, dan pekerja kemanusiaan, kelas secara intensif memikirkan upaya-upaya pemulihan pascakonflik dan pascabencana. Menjelang akhir 2000-an, mahasiswa lebih tertarik mengeksplorasi personal peace dan mengembangkan aktivisme nirkekerasan guna mewujudkannya. Belakangan, ketika yang menjadi peserta PSP adalah generasi yang tidak pernah merasakan hidup di bawah rezim otoriter, penekanan terhadap antimiliterisme menjadi kembali relevan. Kali ini, isu tersebut disajikan berjalinan dengan partriarki, monisme, dan kapitalisme.

Saat ini, PSP tidak hanya diajarkan besama para “sepupunya”, tetapi juga “anak-anaknya”. Topik-topik aksi nirkekerasan, kekerasan dan perdamaian komunal, serta pemulihan pascakonflik bukan lagi bahasan PSP, melainkan telah menjadi mata kuliah tersendiri, masing-masing berjudul: Studi Nirkekerasan, Konflik Etnis, dan Binadamai. Lahirnya kelas-kelas ini memungkinkan mahasiswa mengembangkan pemahaman dan keterampilan perdamaian yang lebih spesifik, yang pada akhirnya menghasilkan strategi emansipasi yang lebih konkret.

Riset

Ketika kelas-kelas secara intensif berdiskusi seputar perdamaian, tidak mengherankan jika mahasiswa muncul dengan banyak pertanyaan. Seringkali, keingintahuan ini difasilitasi di dalam kelas melalui riset mini dan proyek kelas. Ada yang mewawancarai sejarawan dan pelaku sejarah seputar narasi tandingan 1965; ada yang melakukan etnografi mengikuti kehidupan pengamen transgender; ada yang membuat survei mengenai stereotip terhadap kelompok lain; ada yang meneliti kurikulum perdamaian di tingkat taman kanak-kanak; dan sebagainya.

Di luar kelas, aneka pertanyaan mahasiswa diwadahi salah satunya melalui skripsi. Sejak pertengahan 2000-an, jumlah skripsi mahasiswa HI UGM di bidang perdamaian dan konflik meningkat pesat. Temanya sangat beragam, dari penggunaan musik sebagai alat kampanye antiperang, jurnalisme perdamaian, religious peacebuilding, operasi perdamaian PBB, menggulingkan diktator secara nirkekerasan, rekonsiliasi pascakonflik etnis, pemolisian masyarakat, hingga peran perempuan dalam perdamaian. Langkah lain menyalurkan minat riset mahasiswa adalah dengan melibatkan mereka dalam proyek-proyek penelitian mulitahun di tingkat departemen atau pusat studi, di antaranya mengenai hubungan sipil-militer (2000-2001), peran civic engagement dalam memoderasi konflik etnis (2004-2009), peaceable schools (2006-2008), dan radikalisme berbasis agama (2013-2014), serta membuat database aksi nirkekerasan di Indonesia pascareformasi (2016-sekarang).

Karena studi perdamaian menekankan agenda emansipasi, ia memandang riset lebih dari sekedar kegiatan mengakumulasikan pengetahuan yang berujung pada publikasi ilmiah. Karena itu pulalah, sebagian besar riset di atas terangkai dengan kegiatan-kegiatan advokasi, pelatihan, dan pendampingan masyarakat.

Aksi

Seperti disebutkan sebelumnya, studi perdamaian menekankan tidak saja pada aspek kognisi, melainkan juga aspek afeksi dan aksi. Dua yang terakhir ini biasanya diasah melalui proyek kelas. Bentuknya bermacam-macam, dari pameran perdamaian di Sunmor, diskusi apa itu perdamaian di atas bus TransJogja dengan para penumpangnya, membuat buku cerita anak, menciptakan lagu kampanye, hingga menggelar pemutaran film.

Yang menarik, tidak sedikit mahasiswa yang memutuskan melanjutkan proyek kelas mereka bahkan setelah kelas berakhir. Pada tahun 1998, mahasiswa “melanjutkan” komitmennya pada Indonesia damai dengan menjadi relawan di demonstrasi-demonstrasi anti-Soeharto. Mereka menyiapkan kebutuhan logistik – dari ikat kepala, poster, hingga teh kotak – dan ikut turun ke jalan. Di awal 2000-an, mahasiswa menyelenggarakan Youth Camp for Democracy and Peace. Mereka merancang kegiatan ini sebagai perlawanan terhadap mata kuliah Kewiraan yang sangat doktriner. Kemah perdamaian ini melahirkan Peace Generation, sebuah organisasi pemuda yang sepanjang dekade itu membantu menyelenggarakan aneka kemah perdamaian untuk siswa-siswi SMA, training of trainers untuk calon penyelenggara kemah perdamaian di Aceh, Maluku, Maluku Utara, Poso, dan enam kota lainnya, serta lokakarya reintegrasi untuk pemuda mantan kombatan di daerah pascakonflik.

Sebagai respon atas tsunami di Aceh dan gempa bumi di Yogyakarta, mahasiswa bergabung dengan tim relawan pendidikan yang dipimpin Pak Rizal. Sebelum terjun ke lapangan, mereka dibekali pengetahuan seputar hak anak, hak akan pendidikan, psikologi masyarakat pascakonflik dan pascabencana, student-centered learning, serta keterampilan fasilitasi. Mereka mengelola sekolah darurat di tenda-tenda dan membantu pemulihan kegiatan belajar mengajar di sekolah. Dalam perjalanannya, mereka mendampingi sekolah-sekolah menerapkan manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS) serta memfasilitasi transformasi mereka menjadi peaceable schools.

Pada tahun 2006, alumni kelas PSP merayakan Hari Perdamaian Internasional. Pada tahun berikutnya hingga saat ini, warga HI UGM menyelenggarakan rangkaian kegiatan Hari Perdamaian Internasional (21 September) dan Hari Nirkekerasan Internasional (2 Oktober). Mereka melakukan aneka kampanye, termasuk dengan human poster, free school, pameran, parade, konser, lomba, dan pemutaran film. Biasanya, rangkaian perayaan ini diselenggarakan berkolaborasi dengan civitas academica kampus lain, seniman, LSM, sekolah-sekolah, dan stasiun radio.

Di akhir 2000-an, mahasiswa dan alumni menginisiasi Cemara, sebuah pendampingan anak di bantaran Kali Code. Pendampingan belajar a la Cemara didasarkan pada prinsip-prinsip pendidikan perdamaian dan pengorganisasian masyarakat. Di satu sisi, relawan berusaha lebur dengan masalah keseharian warga – dari pendidikan, ruang publik, hingga penanganan banjir. Di sisi lain, mereka sadar bahwa keberhasilan program ditandai dengan kemampuan warga mengelola sendiri masalah-masalah tersebut. Karenanya, sejak awal mereka serius memikirkan strategi pemberdayaan warga dan exit strategy relawan. Semakin berhasil programnya, semakin relawan tidak lagi dibutuhkan kehadirannya.

Tidak sedikit alumni menyatakan bahwa kelas-kelas perdamaian dan konflik di HI UGM-lah yang menginspirasi mereka berkarya di bidang masing-masing. Anastasya Raditya Lezaic, yang kini tinggal di Kroasia, menjadi juru kampanye sustainable parenting, yang antara lain menyerukan normalisasi breastfeeding dan penggunaan disposable diaper. Joned Suryatmoko memanfaatkan seni pertunjukan guna mengungkap aneka kekerasan, termasuk terhadap warga tunanetra. Anastasia Dwirahmi menulis buku dan menjalankan tugasnya sebagai kurator sedemikian rupa sehingga mampu menggali aneka diskriminasi dan stereotip, termasuk terhadap warga peranakan. Hardya Pranadipa, melalui LSM tempatnya bekerja, mengurusi persoalan radikalisme dan rehabilitasi di penjara.

Penutup: si vis pacem …

Ilmu HI membayangkan dirinya sebagai studi yang, antara lain, punya agenda mewujudkan perdamaian dunia. Dalam kenyataannya, studi HI yang klasik mencurahkan energinya mempelajari perang dan bahkan menormalisasi pemikiran si vis pacem para bellum – jika ingin damai, bersiap-siaplah perang.

Studi perdamaian HI UGM menawarkan cara pandang alternatif: jika ingin damai, mari belajar damai. Lebih jauh, ia mengajak kita mengenali aneka kekerasan langsung, struktural, dan kultural, memutus kontribusi kita terhadapnya, menunjukkan pemihakan kepada underdog, dan merumuskan agenda emansipasi yang nirkekerasan. Si vis pacem cole justitiam – jika ingin damai, mari menyemai keadilan.

Diah Kusumaningrum
Penulis saat ini merupakan Ketua Program Studi S-1 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada. Ia adalah satu dari sedikit orang yang sangat beruntung berkesempatan mengikuti perkembangan Studi Perdamaian di HI UGM sejak 1997 hingga saat ini – awalnya sebagai mahasiswa, dan kini sebagai pengampu, mata kuliah Pengantar Studi Perdamaian (PSP).
diahkei@ugm.ac.id