12 Mei 2017 By admin hi

The Danish Experience: Keseruan Ambassador1Day dan Study Trip di Denmark!

The Danish Experience: Keseruan Ambassador1Day dan Study Trip di Denmark!

 

Hallo, salam kenal—aku Datu! Baru saja aku pulang dari Denmark, dalam rangka study trip #Ambassador1Day. Aku ingin berbagi cerita dengan kalian, tentang keseruan hari-hariku mengikuti acara ini.

Eits, tunggu dulu—sebelumnya apakah kalian sudah tahu apa itu #Ambassador1Day? Acara ini adalah program diplomasi publik hasil kerjasama Embassy of Denmark in Indonesia dan The Habibie Center, yang melibatkan anak muda dalam inner-workings Kedutaan Denmark. Untuk menjadi kandidat terpilih, kita diwajibkan untuk mengikuti dua tahap seleksi: menulis esai dan wawancara—aku menulis tentang potensi, realisasi, dan prospek ke depan kerjasama energi Indonesia dan Denmark.

Lantas, apa saja sih yang aku lakukan dalam program ini? Selama sehari, aku menggantikan tugas Duta Besar Denmark untuk Indonesia, Pak Casper Klynge! Aku menjadi partisipan langsung dalam diplomasi: melalui pengenalan staf dan office culture Kedutaan Denmark, kunjungan ke situs ekskavasi MRT, dan tentunya bertemu dengan pejabat—dari direktur korporasi energi PT Adaro Power, hingga Ibu Retno Marsudi sendiri. Oya, aku juga berkesempatan untuk duduk semeja dan ngobrol langsung dengan Eyang B. J. Habibie! Serunya, selama agenda #Ambassador1Day tersebut berlangsung, aku benar-benar diperlakukan sebagai seorang diplomat sungguhan—setara dengan Pak Casper, bahkan membicarakan hal-hal konfidensial dalam kooperasi G2G juga. Dengan terjun langsung menemani Pak Casper dalam melaksanakan tugasnya, aku mengalami berbagai protokol dunia diplomatik secara first-hand. Pengalaman inilah yang akan aku bagikan dengan kalian semua, melalui tulisan ini!

Asyiknya, program #Ambassador1Day tidak hanya berhenti pada sehari bersama Pak Casper. Masih ada agenda study trip ke Denmark, yang biayanya ditanggung Kedutaan Denmark—alias gratis. Selama dua minggu, aku muter-muter Kopenhagen dan sekitarnya dalam rangka mempelajari solusi Denmark di bidang energi dan maritim. Penasaran? Yuk, kita lihat satu-persatu.

Setelah tiba di Kopenhagen di hari pertama, aku mengunjungi Udenrigsministeriet (Kementerian Luar Negeri) di hari selanjutnya. Aku bertemu dengan Departemen Asia, Amerika Latin, dan Oseania (ALO), yang membawahi relasi internasional dengan Indonesia; Departemen Trade Council, dan mempelajari solusi public-private partnership Denmark yang mempermudah sektor privat bergerak di level internasional; Departemen Komunikasi, yang berada di balik upaya-upaya diplomasi publik—termasuk di antaranya program #Ambassador1Day di Indonesia; hingga membicarakan kebijakan luar negeri dengan Under Secretary of State Denmark, Susanne Hyldelund! Setelah sehari bersama kantor urusan luar negeri Denmark, aku menghabiskan dua hari dengan Kedutaan Indonesia dan belajar banyak: dari bagaimana Kedutaan Indonesia bekerja, hingga nilai pelayanan dan nasionalisme yang mendasari pengabdian staf-stafnya. Dengan anggaran yang tidak banyak, Kedutaan Indonesia tetap berusaha memberikan pelayanan yang terbaik bagi warga Indonesia di Denmark.

Di hari kelima, aku datang ke Lynetten untuk melihat ladang turbin angin offshore—yang jika ditotal keseluruhan produksinya memenuhi lebih dari setengah kebutuhan energi Denmark. Aku juga mengunjungi Amager Resource Center (ARC), dan mempelajari solusi Denmark terhadap sampah perkotaan: bukannya ditumpuk di situs landfill, sampah di sini justru dimanfaatkan sebagai sumber energi dan district heating! Inisiatif-inisiatif hijau tersebut dipayungi oleh State of Green, sebagai badan kerjasama publik-privat yang menjadi pusat informasi bagi solusi hijau Denmark. Oya, aku juga sempat bertemu dengan Lykke Friis, mantan Menteri Iklim, Energi, dan Kesetaraan Denmark—beliau sekarang menduduki posisi prorektor di Universitas Kopenhagen. Kami berdiskusi asyik soal isu-isu progresif, dari gender hingga proyek-proyek hijau yang di hari sebelumnya sempat aku kunjungi.

Di hari kesembilan, aku berkunjung ke Søfartsstyrelsen (Kementerian Kelautan)—lagi-lagi terkagum-kagum dengan solusi Denmark! Di sini, teknologi menjadi basis pengelolaan maritim, mulai dari penggunaan drones hingga sistem e-navigation. Aku juga sempat mengunjungi UN City—kantor pusat PBB di Kopenhagen—bertemu dengan badan kerjasama UNEP-DTU, dan membicarakan banyak hal: mulai dari kinerja PBB di Denmark hingga kultur kantornya. Di hari kesebelas, aku mengunjungi Energistyrelsen (Kementerian Energi)—dan berdiskusi soal kisah energi terbarukan Denmark, hingga proyeksi Denmark sebagai pionir energi hijau di masa depan. Kisah aku semakin paripurna dengan kunjungan ke badan-badan non-pemerintahan, seperti DIIS—badan riset independen terkemuka Denmark, dimana aku mendapatkan perspektif segar terkait isu sosiopolitik Denmark, relasinya dengan negara berkembang, hingga evolusi kesenjangan Utara-Selatan dalam politik internasional. Selain itu, aku juga menyempatkan hadir sebagai pembicara di Universitas Kopenhagen, dalam diskusi terkait #Ambassador1Day; dan tak lupa, mengikuti kelas seperti mahasiswa Denmark lainnya! Aku juga sempat berkunjung ke Vestas, korporasi multinasional Denmark yang bergerak di bidang energi angin—aku memanjat turbin multirotor setinggi 60 meter di sini! Dan terakhir, kisah ini tidak akan lengkap tanpa agenda jalan-jalan: dari Istana Christiansborg dan Rosenborg, Nationalmuseet, Christiania, hingga Louisiana MoMA, semuanya sempat aku kunjungi.

Meskipun singkat, dua minggu yang aku habiskan di Denmark sangat berkesan bagiku. Dari kunjungan ke berbagai institusi tersebut, aku memahami bahwa Denmark mengimplementasikan berbagai solusi yang sangat potensial diterapkan di Indonesia: dari kerjasama sektor publik-privat dalam governance, proyek-proyek hijau yang melibatkan masyarakat, hingga kultur politik khas berbasis konsensus—dihasilkan dari tingkat kepercayaan dan kesetaraan sosial yang tinggi. Dengan kasus Indonesia yang dihadapkan pada pertumbuhan pesat, solusi Denmark menjadi pilihan praktis dalam menjamin kesejahteraan masyarakat Indonesia. Kerjasama bilateral antara Indonesia dan Denmark nampaknya akan menjadi jalan menuju masa depan yang cerah bagi kedua negara tersebut.