04 Agustus 2017 By Publikasi IIS

Training Metodologi Riset dalam Ilmu Hubungan Internasional

Training Metodologi Riset dalam Ilmu Hubungan Internasional
Departemen Ilmu Hubungan Internasional bersama dengan Divisi Advokasi Institute of International Studies Universitas Gadjah Mada mengadakan pelatihan “Metodologi Riset dalam Ilmu Hubungan Internasional” selama dua hari Kamis dan Jumat (3-4/8) di Wisma MM UGM. Pelatihan ini dihadiri oleh 50 dosen serta peneliti Ilmu HI se-Indonesia, yang mana peserta terbanyak —17 orang— datang dari Malang.
Kegiatan dibuka di hari pertama oleh Kepala Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) UGM, Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, pukul 08.45 WIB. Beliau menyampaikan bahwa DIHI UGM berkomitmen untuk menyelenggarakan kegiatan Training Metodologi Riset yang harapannya dapat berlangsung secara rutin dengan topik yang semakin spesifik di masa mendatang. Penyelenggaraan pelatihan ini adalah wujud komitmen institusi untuk mendukung pengembangan akademik studi HI di Indonesia.
.
Sesi pertama difasilitasi oleh Prof. Dr. Mohtar Mas’oed, dengan topik “Posisi dan Peran Metodologi dalam Riset”. Prof. Mas’oed menjelaskan bahwa disiplin ilmu HI merupakan studi yang tumbuh dari berbagai sumber pengetahuan, utamanya studi mengenai hukum, filsafat, sejarah, strategi, dan ekonomi. Selanjutnya beliau secara singkat membahas berbagai karya dalam studi HI yang mewakili pertentangan cara pandang dan metodologi.
.
Sesi kedua, “Peta Metodologi” kembali difasilitasi oleh Prof. Dr. Mohtar Mas’oed. Sesi kedua ini membahas ontologi, epistemologi & metodologi dalam studi HI. Menurutnya, sebagai seorang peneliti kita perlu menggali terlebih dahulu mengenai posisi ontologis kita. Riset dimulai dengan apa yang kita percayai dan yakini. Metode bisa diganti-ganti maupun digabungkan, tetapi ontologi tidak bisa. Dalam konteks metodologi, studi HI sesungguhnya memiliki pilihan metode yang sangat banyak. Tantangannya adalah bagaimana meyakinkan orang terhadap klaim yang kita buat. Prof. Mas’oed lalu mengenalkan singkat dua tradisi yakni tradisi Positivis (Empirism/ Naturalism/ Explanation) dan tradisi Non-Positivist (Konstruktivis/ Interpretism/ Understanding).
.
Setelah dibekali dengan pemaparan fondasi ilmu HI dari Prof. Dr. Mohtar Mas’oed, peserta dibagi ke dalam dua kelas yang masing-masing membahas dua tradisi metodologi secara mendalam. Kelas ini juga berlanjut pada hari berikutnya dengan pembagian kelas A dan kelas B diberikan materi secara bergantian.
Kelas Non-Positivist dibagi ke dalam tiga sesi yakni: (1) “Non-Positivisme dalam Ilmu Hubungan Internasional: Sebuah Pengantar Singkat” oleh Dra. Siti Daulah Khoiriati; (2) “Analisis Wacana Kritis: Membongkar Dunia Melalui Bahasa”, oleh Ayu Diasti Rahmawati, MA; dan (3) “Etnografi: Membenamkan Diri dalam Politik Sehari-hari” oleh Dr. Diah Kusumaningrum. Sedangkan kelas Positivist memiliki tiga sesi yakni: (1) “Positivisme dalam HI: Sebuah Pengantar Singkat” oleh Dr. Nur Rachmat Yuliantoro; (2) “Ragam Metode-Metode Penelitian Positivis” oleh Yunizar Adiputera, MA; dan (3) “Mengumpulkan, Mengolah, dan Menyajikan Data” oleh Dr. Dedy Permadi, MA.
Pada penutupan kegiatan di hari kedua, Prof. Dr. Mohtar Mas’oed kembali hadir untuk merangkum proses pelatihan serta mengantar kepulangan para peserta. Dalam sambutan akhirnya, beliau mengingatkan para pengajar dan peneliti studi HI untuk tidak segan melakukan kajian interdisipliner, mendalami metode-metode penelitian yang lumrahnya tidak akrab dengan peneliti sosial politik. [NGP\AN]