29 November 2018 By Publikasi IIS

“Tidak sekedar menulis, wartawan juga harus mampu bertutur…”

“Tidak sekedar menulis, wartawan juga harus mampu bertutur…”

Dengan keberadaan internet, yang penetrasinya telah menjangkau lebih dari 50% populasi global dan terus meningkat, mencari berita tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu. Internet menyediakan alat bagi seseorang agar dapat berpartisipasi secara virtual terhadap suatu peristiwa dalam waktu bersamaan. Begitupun dengan penyediaan berita yang tak lagi dibatasi oleh medium dan kualifikasi sebagai jurnalis atau wartawan. Setiap individu bisa mengunggah video atau tulisan di media sosial yang memiliki nilai berita.

Guna bersaing sembari tetap menjaga kredibilitas di era internet, wartawan perlu beradaptasi dan menciptakan inovasi dengan menyusun berita yang dapat dinikmati lintas kalangan. Salah satu yang berhasil melakukannya adalah Trias Kuncahyono, eks-jurnalis senior harian Kompas yang kini menjadi peneliti di Middle East Institute Jakarta.

Trias menulis kolom Kredensial di harian tersebut. Kredensial merupakan refleksi bernas kondisi Indonesia dengan berkaca pada situasi internasional. Dari 175 tulisan dimuat dalam kurun waktu tahun 2014-2017, sebanyak 130 tulisan masuk dalam buku Kredensial: Refleksi 130 Kisah tentang Manusia dan Peradaban yang dibedah di Fisipol UGM, Jumat (16/11).

Kepada para hadirin, Trias yang juga alumni DIHI UGM tahun 1983 ini mengatakan bahwa menulis hal-hal serius perlu dilakukan dengan cara yang tidak serius. Bahkan harus dibentuk sebagai obrolan yang dikemukakan langsung.

“Kalau saya mau menulis tentang sosialisme, misalnya. Kalau hanya menulis teori, orang malas untuk membacanya. Tapi, kalau ditulis dengan cara bercerita itu berbeda,” ungkapnya.

Ini dilakukannya ketika membahas konflik internasional hingga tokoh mancanegara inspiratif yang ditemukannya lewat pencarian jeli dan perjalanan berkelana ke berbagai belahan dunia.

Jelas, hasilnya tidak sekedar lewat dibaca. Sebaliknya, pembaca kemudian menikmati tulisannya sebagai suatu cerita yang berkesan dan terasa dekat dengan pengalaman masyarakat Indonesia. Sebagai buku kedelapan yang ditulis Trias, Kredensial diapresiasi oleh Siti Muti’ah Setiawati – Dosen Hubungan Internasional UGM yang mengampu mata kuliah Timur Tengah.

Sebagai pembahas dalam bedah buku tersebut, Siti mengatakan bahwa kekuatan buku tersebut terletak pada kekayaan wawasan sejarah. Trias bisa menyajikan itu secara menarik tanpa menghilangkan nilai yang terkandung di dalam setiap peristiwa.

Ia menyebut buku ini sebagai tulisan yang secara akademik bisa dipertanggungjawabkan karena mengandung fakta sejarah di samping paparan isu-isu yang menjadi kegelisahan penulis.

“Apa yang terjadi saat ini selalu bisa dikaitkan dengan masa lalu. Buku ini menjadi cara yang jitu untuk memahami apa yang terjadi,” ucapnya.

Penulis: Willibrordus Bintang Hartono
Editor: Imas Indra Hapsari