01 Desember 2017 By Publikasi IIS

Teknologi Geospasial, Pendekatan Alternatif dalam Riset Sosial dan Politik

Teknologi Geospasial, Pendekatan Alternatif dalam Riset Sosial dan Politik

Dalam arus utama riset sosial politik, kerap kali tidak memberi perhatian pada dimensi keruangan (spasial) sebuah fenomena sosial. Padahal, data-data spasial terbukti menghasilkan keluaran riset yang lebih efektif. Seperti yang dicontohkan oleh John Snow pada 1854 yang berhasil memetakan persebaran pengidap kolera untuk membuktikan bahwa penyebaran penyakit tersebut bermula di sumber mata air. Atau strategi tim kampanye Donald Trump dalam Pemilihan Umum Presiden Amerika Serikat di tahun 2016 yang memperhatikan profil psikologis suatu kawasan dalam perumusan materi kampanye.

Namun, penggunaan teknologi spasial melalui Geographic Information System (GIS) seringkali hanya diaplikasikan pada riset-riset ilmu eksakta karena periset sosial-politik kurang atau bahkan tidak memiliki pengetahuan mengenai teknologi tersebut. Institute of International Studies (IIS) Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) kemudian menyadari perlunya pelatihan kepada pelaku riset sosial-politik agar dapat memahami dan memanfaatkan teknologi spasial sebagai alternatif metode penelitian. Bekerjasama dengan Environmental System Research Institutes (Esri) Indonesia, salah satu institusi penyedia platform GIS melalui produk ArcGIS, IIS UGM menyelenggarakan workshop bertajuk “Changing the Game: Workshop on Geospatial Technology for Social and Political Research”. Lokakarya ini diselenggarakan pada 27-28 November 2017 dan diikuti oleh sekitar 17 peserta yang terdiri atas civitas akademika dari berbagai fakultas sosio-humaniora di UGM. Workshop ini dipandu langsung oleh Regina Maria Hitoyo, ST., Education and Community Development Leader di Esri Indonesia.

Di hari pertama, workshop difokuskan mengenai pengaplikasian ArcGIS secara daring atau online. ArcGIS online adalah salah satu produk GIS yang paling mudah dalam penggunaannya. Melalui program ini, kita dapat mengunggah data-data numerik di dalam table ke dalam peta. ArcGIS Online kemudian dapat memvisualisasikan data-data tersebut ke dalam dimensi spasial, dikenal dengan istilah overlay. Semakin banyak data yang dimasukkan tentu visualisasi menjadi lebih kompleks, namun melalui irisan-irisan yang terbentuk kita dapat mengambil kesimpulan. Adapun peta yang sudah di­-overlay­-kan dapat dijadikan webmap untuk kemudian diunggah agar bisa diakses semua kalangan. Materi lain yang diajarkan di hari pertama diantaranya survei untuk menghasilkan data-data spasial melalui program Survey123 serta pembuatan aplikasi berbasis data keruangan untuk sistem operasi Windows, Linux, Android hingga iOS melalui program AppStudio for ArcGIS.

 Adapun sesi di hari kedua ditujukan untuk melatih penggunaan ArcGIS Desktop, program utama untuk analisis data-data spasial dalam jumlah besar.  Regina memberikan dua studi kasus untuk dianalisa peserta, yakni analisa kekuatan politik kepala suku-suku Yoruba di Ife, Nigeria berdasarkan jarak pandang. Serta kasus kedua yaitu persebaran remaja tuna wisma di Miami, Florida, Amerika Serikat. Dari kasus pertama, dengan memasukkan data-data numerik yang tersedia dapat diketahui  bahwa semakin luasanya jarak pandang kepala suku tidak berpengaruh terhadap kekuatan politisnya diukur dari tingkat kepadatan populasi di wilayahnya. Adapun, dari analisa spasial ditemukan faktor kontur tanah di Ife yang berbukit-bukit lah yang mempengaruhi kekuatan politis tersebut. Sementara dari studi kasus di Miami, dengan melakukan overlay terhadap peta kota Miami, dapat dilihat wilayah mana saja dengan jumlah remaja tuna wisma tertinggi, wilayah mana yang berpotensi munculnya tuna wisma remaja paling tinggi, hingga hingga komposisi ras dari remaja tuna wisma di setiap kawasan di Miami.

Lebih lanjut, Regina menyampaikan bahwa data-data pendukung dalam menggunakan ArcGIS dapat diunduh baik dari situs Esri, portal resmi Banda Informasi Geospasial di tanahair.indonesia.go.id, serta situs-situs lembaga pemerintah seperti Kementrian Dalam Negeri Republik Indonesia maupun institusi riset yakni World Resource Institute (WRI). Regina juga berharap, pelatihan penggunaan teknologi geospasial dapat lebih sering dilaksanakan kepada periset sosial-politik dalam rangka menghasilkan keluaran riset seperti rancangan kebijakan yang lebih berdaya dan bertepat guna. Terlebih kepada civitas academica UGM yang telah mendapatkan akses untuk menggunakan produk-produk ArcGIS secara percuma. [ARY]