07 Maret 2017 By admin hi

Rapat Kelompok Kerja Internasionalisasi Gunungkidul

Rapat Kelompok Kerja Internasionalisasi Gunungkidul

Pada hari Senin (6/3), Kelompok Kerja Internasionalisasi dari tim Pengabdian Masyarakat Departemen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (DIHI UGM) mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) serta perwakilan kelompok masyarakat Gunungkidul guna merancang program internasionalisasi Gunungkidul. Rapat yang diselenggarakan di kantor Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan Gunungkidul ini dihadiri oleh 16 pegawai Pemkab dari berbagai dinas terkait, tim Geopark Gunung Sewu, serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Nglanggeran. Sedangkan tim DIHI UGM diwakili oleh Muhadi Sugiono (staf pengajar DIHI UGM), Agustinus Moruk Taek, Ganesh Cintika, dan Nurhawira Gigih Pramono (staf Institute of International Studies).

Diskusi dimulai dengan pengantar dari Muhadi Sugiono. Menurut Muhadi, DIHI UGM sejak tahun lalu merancang satu program pengabdian masyarakat yang disesuaikan dengan kepakaran dalam konteks ilmu Hubungan Internasional. Inisiatif ini telah disampaikan pada jajaran Bupati Gunungkidul dan menuai respon positif, dengan fokus pada empat kelompok kerja: (1) mekanisme penanganan konflik, (2) internasionalisasi Gunungkidul, (3) pengembangan koridor pariwisata, dan (4) pengembangan smart city. DIHI UGM akan memberi pendampingan, tetapi inisiatif perencanaan program dan eksekusinya tetap datang dari Pemkab dan kelompok masyarakat. Sehingga nantinya program yang dirancang DIHI menyesuaikan dengan apa yang telah dan sedang dikerjakan masyarakat Gunungkidul.

Terkait program internasionalisasi, Muhadi melanjutkan bahwa kekayaan geologis dan sosiologis setempat dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan Gunungkidul pada komunitas internasional. Terlebih lagi, sejak dua tahun lalu Gunungkidul mendapat status Geopark Gunung Sewu dari UNESCO bersama Kab. Wonogiri (Jawa Tengah) dan Kab. Pacitan (Jawa Timur). Oleh karena itu, Tim Internasionalisasi akan menggunakan status Geopark sebagai titik tolak perancangan program. Beberapa isu yang perlu dibahas ke depan adalah mengenai apa yang sudah dan akan dilakukan Pemkab serta masyarakat Gunungkidul terhadap status Geopark; lalu bagaimana masyarakat dapat ikut merasakan manfaat status Geopark dan bisa berkontribusi aktif dalam mempertahankan status tersebut.

Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan dari Budi Martono selaku General Manager Geopark Gunung Sewu. Budi menekankan bahwa Geopark bukan pariwisata, dan pariwisata bukanlah Geopark. Status Geopark meliputi berbagai macam komponen yang lebih luas daripada sekadar sektor pariwisata. Geopark memiliki tiga pilar utama yakni edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, Budi berharap Pemkab yang dibantu oleh DIHI UGM berhati-hati dengan konsep ‘internasionalisasi’. Menjadi ‘internasional’ tidak berarti Gunungkidul harus mendirikan hotel-hotel bintang lima di saat kebutuhan air masih menjadi persoalan di masyarakat.

Pertemuan lalu diakhiri dengan diskusi tanya-jawab serta perancangan agenda mendatang. Tim DIHI UGM akan melakukan riset untuk mengemas narasi brand Gunungkidul dan menerbitkannya melalui berbagai media seperti website resmi Pemkab Gunungkidul serta buku. Dalam sektor turisme, semua peserta sepakat untuk menghindari aktivitas turisme yang sekedar memenuhi kebutuhan selfie. Kegiatan turisme perlu diikuti dengan narasi edukatif yang mengenalkan Gunungkidul, salah satunya melalui paket Geotrack di sepanjang Gunung Sewu.

Selepas rapat, tim DIHI UGM didampingi oleh Ketua Pokdarwis Nglanggeran, Sugeng Handoko, mengunjungi Sekretariat Pokdarwis Nglanggeran dan Griya Cokelat Nglanggeran. Dari pembicaraan ini, kedua pihak sepakat untuk mengadakan satu diskusi terbatas di bulan April bersama 33 Pokdarwis dari Gunungkidul, Pacitan, dan Wonogiri yang mengelola situs-situs geologis di wilayah Geopark. (NGP)