21 Februari 2018 By Publikasi IIS

Rantai Resistensi Nir-kekerasan dan Bina Damai: Sebuah Refleksi

Rantai Resistensi Nir-kekerasan dan Bina Damai: Sebuah Refleksi

Konflik merupakan bagian dari dinamika kehidupan dalam setiap jenjang interaksi, baik antarindividu hingga komunitas yang berskala besar, seperti negara. Konflik awalnya bersifat laten dan dapat termanifestasi dalam tindakan. Kehadiran tindakan kekerasan ketika berkonflik dapat menciptakan konflik yang berlarut. Untuk mencegah dampak negatif, konflik perlu dihadapi dengan perspektif transformatif. Persepektif tersebut hadir dari pemahaman bahwa konflik tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat diubah dengan cara merekayasa interaksi pihak yang berkonflik agar skala konflik tidak besar.

Kesadaran untuk memperkecil skala konflik memancing adanya sikap untuk merespons konflik. Perdebatan kemudian muncul ketika terdapat pihak yang menilai sikap pasif merupakan respons yang tepat terhadap konflik dan menilai beberapa tindakan aktif hanya menaikkan tensi konflik. Di sisi lain terdapat pihak yang berpikir bahwa tindakan aktif dalam menghadapi konflik dapat secara stategis dan aktual meredam atau menghindarkan konflik kembali terjadi. Tentu saja pada banyak kasus, tindakan aktif lebih terukur ketika berupaya meminimalisasi konflik daripada sekedar berdiam diri. Pemikiran ini sejalan dengan pemaparan Veronique Dudouet dalam kuliah umum yang bertajuk The Interplay between Non-violent Resistance and Peacebuilding yang diselenggarakan pada 20 Februari 2018. Pandangan dalam kuliah umum tersebut mengacu kepada elemen pada segitiga konflik yang dicetuskan oleh Johan Galtung, yaitu sikap, perilaku, dan kontradiksi.

Tindakan nyata untuk mengelola konflik di antaranya melakukan resistensi nir-kekerasan dan bina damai. Veronique melihat bahwa keduanya saling memengaruhi dan berjalan berkelindan dalam melakukan transformasi konflik menuju perdamaian. Baik resistensi nir-kekerasan maupun bina damai memiliki tujuan akhir menciptakan perdamaian yang berkeadilan dengan melibatkan elemen ekualitas, demokrasi, dan HAM. Secara normatif nilai perdamaian dijadikan pijakan, sedangkan secara pragmatis perubahan politik dijadikan sasara

Veronique pun menunjukkan bahwa resistensi nir-kekerasan dan bina damai memiliki karakter yang berbeda sehingga keduanya saling mengisi. Berdasarkan orientasi etik, resistensi nir-kekerasan mendukung keadilan dan cenderung toleran terhadap bias etik. Di sisi lain, bina damai bersifat imparsial dan memiliki etik mewujudkan stabilitas. Selain itu, dari segi metode intervensi resistensi nir-kekerasan cenderung menggunakan metode berselisih dan ekstra-konstitusional seperti beberapa aksi nir-kekerasan yang dirumuskan Gene Sharp dalam The Politics of Nonviolent Action. Metode tersebut berbeda dengan metode bina damai yang konvensional serta institusional. Penggunaan metode intervensi tersebut berpengaruh terhadap pola penggerakkan agen perubahan. Resistensi nir-kekerasan menggunakan pola bottom-up dengan mendorong akar rumput beraksi, sedangkan bina damai memiliki pola mendorong berbagai jalur agar dapat termobilisasi secara menyeluruh.

Sinergi antara resistensi nir-kekerasan dan bina damai terjadi melalui beberapa tahap. Veronique menyoroti empat tahap yang dilalui, yaitu konflik laten, konflik terbuka, penyelesaian konflik, dan terciptanya perdamaian yang berkelanjutan. Ketika konflik masih bersifat laten, resistensi nir-kekerasan mengambil peran untuk mengelola konflik dengan melakukan mobilisasi nir-kekerasan. Apabila konflik telah dilakukan secara terbuka, resistensi nir-kekerasan diwujudkan dengan aksi-aksi nir-kekerasan untuk mencegah kekerasan terjadi agar konfrontasi bersifat konstruktif. Pada tahap ini terjadi proses menyeimbangkan kedudukan dalam percaturan kekuasaan yang semula tidak berimbang antar pihak yang berkonflik. Kedudukan yang seimbang memberikan peluang untuk melakukan penyelesaian konflik. Masing-masing pihak memiliki kekuatan yang sama menyampaikan tuntutan dan kepentingan sehingga resistensi yang sebelumnya dilakukan berubah menjadi dialog untuk mencapai titik temu sehingga perdamaian dapat terwujud. Bina damai mengambil peran dalam mengelola perdamaian yang telah tercapai agar konflik tidak lagi terjadi dan perdamaian dapat berlanjut. Institusionalisasi dan kampanye untuk mempromosikan serta memproteksi bina damai secara transformatif dilakukan agar perdamaian berkelanjutan tercipta.

Di akhir kuliah umum Veronique menggarisbawahi sinergi resistensi nir-kekerasan dan bina damai yang dapat menjadi pelajaran bagi aktivis resistensi masyarakat sipil dan praktisi bina damai, pelatih dan pendidik nir-kekerasan, serta aktor bina damai internasional. Sinergi keduanya diharapkan dapat menjadi kerangka strategis bagi aktivis resistensi masyarakat sipil dan praktisi bina damai. Di sisi lain, pelatih dan pendidik nir-kekerasan diharapkan mengembangkan modul yang berisi peran negosiasi, dialog, dan mekanisme bina damai lainnya dalam kampanye nir-kekerasan serta mengembangkan kerja sama dengan praktisi atau lembaga pendidikan bina damai yang lebih dulu terjun.


Penulis: Selma Theofany
Penyunting: Imas Indra Hapsari