20 Mei 2017 By admin hi

Rangkaian Acara World Fair Trade Day 2017: Saatnya Berlaku Adil dalam Perniagaan

Rangkaian Acara World Fair Trade Day 2017: Saatnya Berlaku Adil dalam Perniagaan

Bulan Mei menandai peringatan Hari Fair Trade di seluruh dunia. Organisasi yang menaungi komunitas Fair Trade, World Fair Trade Organization (WFTO) mengusung tema “Be An Agent for Change” untuk peringatan tahun ini. Melalui tema tersebut, pengusaha, komunitas, bisnis, maupun individu diajak untuk menjadi bagian dari perubahan yang membawa kesetaraan di rantai pasokan dalam aktivitas perdagangan. Hari Jumat (19/5) lalu, Institute of International Studies bersama dengan Pusat Studi Perdagangan Dunia UGM dan Forum Fair Trade Indonesia, perwakilan WFTO di Indonesia, mengadakan serangkaian acara dalam rangka memperingati World Fair Trade Day 2017. Tiga mata acara yang dilangsungkan antara lain, kegiatan seminar, bazar Pasar Kreatif Berkeadilan, dan Workshop Ecoprinting bersama Yayuk Sukardan dari Galeri Joglo Ayu Tenan.

Seminar dibagi menjadi dua bagian dengan masing-masing sesi menyoroti fokus yang berbeda. Sesi pertama mendiskusikan konsep Fair Trade dari perspektif kebijakan dan pemerintahan, komitmen perusahaan dalam menjaga prinsip-prinsip Fair Trade serta regulasi pemerintah dalam menjamin dan mengupayakan terlaksananya prinsip tersebut dibahas. Secara kritis, sesi ini mengevaluasi status quo regulasi Fair Trade di Indonesia. Sesi pertama diisi oleh Agung Alit dari Mitra Bali, Dr. Rimawan Pradiptyo selaku Kepala Tim Ekonomi KPPU Indonesia, dan dosen dari Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM Dra. Siti Daulah Khoiriati, M.A.. Dr. Maharani Hapsari, dosen Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM yang memiliki fokus penelitian tentang lingkungan hidup serta ekonomi politik dan pembangunan, berperan sebagai moderator.

Agung Alit, seorang aktivis Fair Trade dan pendiri Mitra Bali, menyampaikan materi mengenai bagaimana konsep Fair Trade mampu menyetarakan pengrajin dan pekerja industri kreatif yang selama ini aktif dalam dunia pariwisata di Bali. Nyatanya menurut beliau, masyarakat hanya melihat Bali dari sisi yang indahnya saja, sementara banyak sekali masalah seperti kesenjangan, kemiskinan, diskriminasi yang seringkali diredam demi mendongkrak reputasi Bali sebagai garda depan Indonesia di mata turis asing. Dengan perdagangan berasaskan Fair Trade, problem sosial tersebut dapat diselesaikan. Mitra Bali sendiri berperan sebagai gerakan advokasi dan pemberdayaan pengrajin.

Di sisi lain, Dr. Rimawan Pradiptyo mengeluhkan bahwa di Indonesia sendiri semuanya serba tidak teregulasi, kalaupun diatur dalam undang-undang, pemerintah dinilai kurang cermat menyusun kebijakan sehingga tidak berkelanjutan, bahkan merugikan. Di akhir sesi, Dra. Siti Daulah Khoiriati, M.A. mengusulkan strategi yang perlu dilakukan pelaku Fair Trade agar dapat menaklukkan Free Trade, antara lain, menggunakan cara-cara Free Trade dengan ideologi Fair Trade (mengikuti standarisasi dan branding dari organisasi sertifikasi Fair Trade; serta menjadikan Fair Trade sebagai norma (dijalankan melalui bentuk social entrepreneurship), bukan hanya sebagai konsep alternatif.

Sesi dua seminar membahas mengenai betapa pentingnya melihat Fair Trade sebagai sebuah gerakan sosial untuk mencapai perdagangan berkeadilan yang mampu dipenuhi lewat cara-cara kreatif. Tiga pembicara berasal dari kalangan praktisi: Mie Cornoedus, pendiri Via-Via di Yogyakarta; Lastiana Yuliandari, pendiri Aliet Green; dan Andre Suryaman, seniman dan pemilik Natural House HomeDeco, dan satu pembicara lainnya dari kalangan akademisi, Awan Santosa, M.Sc., peneliti di Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM. Posisi moderator seminar sesi dua dijalankan oleh I Komang Adiartha, desainer dari Mitra Bali.

Didirikan 22 tahun lalu, Via-Via Yogyakarta bergerak di bidang wisata berkelanjutan, sekaligus menempatkan diri sebagai ruang seni kreatif bagi seniman lokal muda dan rintisan. Seniman, pengrajin, dan aktivis yang menjadi rekanan Via-Via Yogyakarta dapat menjual karya dan hasil kerajinannya di sana, dengan bagi hasil yang adil dan transparan. Via-Via Yogyakarta menerapkan 10 prinsip Fair Trade dengan cara menginternalisasikannya menjadi tiga nilai perusahaan, fairness, respect, dan creativity. Sementara itu, Lastiana Yuliandari dari Aliet Green memberdayakan petani dengan cara meningkatkan kualitas produk mereka sehingga mencapai kualitas ekspor. Selain upaya tersebut, Lastiana Yuliandari mendirikan sekolah, pelatihan, dan menyedikan asuransi jiwa bagi desa di mana kelompok petani tersebut tinggal.

Ketika tiba giliran Andre Suryaman memaparkan materinya, beliau menunjukkan hasil-hasil karya seni yang dihasilkan dari barang-barang bekas yang seringkali dilupakan orang. Dari kreativitasnya ini, Andre Suryaman beberapa kali mendapat nominasi dan penghargaan internasional atas buah tangannya. Mengakhiri sesi kedua, Awan Santosa, M.Sc. menyampaikan keprihatinannya atas situasi industri kreatif Indonesia, khususnya di Yogyakarta yang sama sekali tidak berpihak pada buruh dan pengrajin. Kegelisahan Awan Santosa, M.Sc. dibenarkan oleh temuan risetnya yang mendapati buruh tas rajut di Kulon Progo menjadi korban eksploitasi, nasib serupa dialami pula oleh buruh industri batik, dan kerajinan kulit. Beliau menyatakan bahwa temuan-temuannya tadi adalah tanda kegawatan industri kreatif di Indonesia saat ini. Ketika masyarakat telah terdesak oleh perusahaan-perusahan kapitalis besar, seharusnya industri kreatif menempuh cara yang lebih etis. Bahkan menurutnya, ketidakadilan kini sudah marak ditemui bahkan di level niaga yang paling kecil, yakni pasar tradisional.

Sepanjang seminar, bazar Pasar Kreatif Berkeadilan 2017 berlangsung di Selasar Barat, FISIPOL UGM. 40 stan dari komoditas makanan, minuman, kerajinan, busana, mebel, dan hasil tani berasas Fair Trade tumpah ruah menjajakan barang dagangannya sembari mengedukasi audiens tentang pentingnya menjaga kesetaraan relasi antara produsen dan konsumen. Beberapa pionir Fair Trade, seperti Komunitas Pasar Organik Jogja, Via-Via Yogyakarta, Batik Lawe, dan pedagang dari Asosiasi Pengembagan Industri Kerajinan Rakyat Indonesia (APIKRI) terlihat hadir membuka stan. Selain aktivitas jual-beli, bazar juga diramaikan oleh Workshop Eco-printing yang dipandu langsung oleh Yayuk Sukardan, pengrajin perhiasan dan kain ramah lingkungan yang masuk jajaran Wanita Wirausaha Majalah Femina, karyanya pernah dinobatkan sebagai Produk Pilihan Inacraft. Yayuk Sukardan memberi pelatihan seputar teknik pewarnaan kain sutra menggunakan bahan pewarna alami dari daun dan kayu-kayuan. [AN]