24 Desember 2017 By Publikasi IIS

Peluncuran dan Diskusi Buku “Pelintiran Kebencian”: Penawar Wabah Intoleransi Agama

Peluncuran dan Diskusi Buku “Pelintiran Kebencian”: Penawar Wabah Intoleransi Agama

Karya “Hate Spin” dari Cherian George, seorang profesor jurnalisme dari Hong Kong Baptist University, kini tersedia dalam Bahasa Indonesia. Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Yayasan Wakaf Paramadina dan Institute of International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada menerjemahkannya dengan judul “Pelintiran Kebencian: Rekayasa Ketersinggungan Agama dan Ancamannya bagi Demokrasi”. Peluncuran dan diskusi bukunya diselenggarakan pada Kamis, 21 Desember 2017 di Ruang Auditorium Lantai 4 FISIPOL UGM.

Setelah meluncurkan buku secara simbolis, acara dilanjutkan dengan sesi diskusi panel yang menghadirkan Zainal Abidin Bagir (Ketua Program Studi Agama dan Lintas-Budaya (CRCS) UGM), Widiarsi Agustina (Redaktur Pelaksana TEMPO), dan Irsyad Rafsadie (Peneliti PUSAD Paramadina). Acara yang dimoderatori oleh Ayu Diasti Rahmawati (Manager IIS UGM) ini mengundang berbagai kelompok lintas-imanua, pegiat media massa, LSM, serta institusi pendidikan di Yogyakarta dan sekitarnya.

Dalam buku ini, George yang seorang akademisi dalam ilmu komunikasi mengajukan sebuah istilah baru. Hate spin atau “pelintiran kebencian” dipilih untuk menjelaskan sebuah strategi yang mengombinasikan ujaran kebencian (hasutan melalui tindak menyetankan kelompok lain) dengan rekayasa ketersinggungan (menampilkan luapan amarah yang dibuat-buat). Penyakit intoleransi, merasa tersinggung, dan kemarahan komunal sebagian besarnya melibatkan kampanye terorganisasi dari para oportunis politik, dengan tujuan memobilisasi pendukung dan menyingkirkan lawan. Kampanye ini direncanakan matang-matang oleh jaringan sayap-kanan yang memanfaatkan ujaran kebencian dan ketersinggungan agama sebagai instrumen identitas politik.

George juga memaparkan temuannya soal kecenderungan kelompok penebar kebencian ini mengeksploitasi ruang demokratis untuk mempromosikan agenda yang malah menggerogoti nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Sehingga, kiprah agen pemelintir kebencian kerap ditemui di masyarakat majemuk—tidak terkecuali di Indonesia. Maka dari itu, George meninjau tiga negara demokratis terbesar di dunia dengan masyarakatnya yang beragam. Kelompok-kelompok intoleran dalam Hindu sayap-kanan India, Kristen sayap-kanan Amerika Serikat, dan Muslim sayap-kanan Indonesia didapati menjadi pelaku pemelintiran kebencian. Diluncurkannya buku ini lantas menjadi momentum yang tepat untuk menyambut pesta demokrasi pada dua tahun ke depan.

“Buku ini dilatari oleh kegelisahan Cherian George melihat naiknya ancaman politik pertikaian agama yang dia sebut “pelintiran kebencian” terhadap demokrasi. Demokrasi terancam ketika kelompok rentan terus mengalami intimidasi/diskriminasi dan suara-suara yang dianggap melukai perasaan kelompok dominan semakin dibungkam. George menutup bukunya dengan mengajak berbagai pihak untuk lebih mendorong kesetaraan warga negara dan tidak gegabah dalam mempidanakan ujaran. Buku ini memberikan peringatan yang penting diperhatikan untuk menangkal pelintiran kebencian dan menyingkap kepentingan para aktor politik di baliknya,” papar Irsyad Rafsadie dari PUSAD Paramadina yang juga tergabung dalam tim penyunting buku.

Selain di Yogyakarta, karya terjemahan ini juga diluncurkan di Jakarta pada hari dan waktu yang sama. Mengusung format diskusi serupa, perhelatan di Jakarta dihadiri oleh Endy M. Bayuni (Kepala Editor The Jakarta Post), Alissa Wahid (Ketua Jaringan Gusdurian), dan Ihsan Ali-Fauzi (Direktur PUSAD Paramadina). Mendiskusikan buku ini menjadi penting karena dalam delapan babnya George menawarkan obat bagi wabah penyakit pelintiran kebencian. Agar demokrasi mampu bertahan, masyarakat perlu menemukan apa yang tengah menggerogoti tubuhnya. Kemudian, mencari obat yang mampu menyembuhkan.

Zainal Abidin Bagir, Ketua Prodi Agama dan Lintas-Budaya (CRCS) UGM menutup, “kelebihan penting George adalah menemukan istilah yang tepat, “pelintiran kebencian” atau hate spin, untuk menjelaskan modus politisasi agama mutakhir. Bahwa fenomena itu ditemukannya di negara-negara yang amat berbeda (India, Amerika Serikat, dan Indonesia), makin memperkuat efektivitas konsep ini.” [AN]