05 Desember 2018 By Publikasi IIS

NOHA – UGM School: Membentuk Tanggap Bencana lewat Manajemen Bantuan Kemanusiaan

NOHA – UGM School: Membentuk Tanggap Bencana lewat Manajemen Bantuan Kemanusiaan

Asia dan Asia Tenggara selama dekade terakhir semakin rentan terhadap bencana alam, baik disebabkan perubahan iklim, dampak perbuatan manusia atau kondisi geologi. Semakin besar potensi bencana, semakin besar pula kehidupan jutaan orang terpengaruh olehnya. Ini mengapa penting untuk meningkatkan respons dan tanggap kebencanaan.

Indonesia merupakan contoh yang baik untuk mengenali manajemen bencana. Selama satu dekade terakhir, bantuan kemanusiaan internasional ke Indonesia rata-rata mencapai US$242 juta setiap tahun. Angka tersebut masih belum termasuk dana yang dihabiskan pemerintah Indonesia untuk pengurangan risiko bencana, kesiapsiagaan, hingga upaya tanggap bencana itu sendiri. Mengingat luasan geografis, kondisi infrastruktur dan aksesibilitas, menjadikan pengelolaan bantuan kemusiaan sangat penting untuk diperhatikan.

Salah satu bagian penting dari bantuan kemanusiaan adalah manajemen rantai pasokan. Manajemen rantai pasokan dapat didefinisikan sebagai upaya memperoleh dan mengirimkan persediaan dan layanan yang diminta di tempat dan waktu yang diperlukan sambil memastikan efektivitas penggunaan material segera setelah bencana terjadi.

Penelitian terbaru menunjukkan perlunya pemahaman multidimensi akan manajemen rantai pasokan, baik dari perspektif teknis (logistik, pengumpulan informasi, pergudangan, pra-posisi, transportasi, distribusi) maupun dari perspektif strategis (pengambilan keputusan, koordinasi, kerjasama antar-organisasi, kemitraan publik-swasta, kontribusi untuk pemulihan jangka panjang melalui transfer pengetahuan). Hal ini semakin krusial di mana US$19 miliar dihabiskan pada tahun 2016 untuk bantuan kemanusiaan (laporan GHA 2017; perhitungan berdasarkan pengeluaran publik maupun pribadi).

Menyikapi tantangan di atas, Network of Humanitarian Action (NOHA) bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan NOHA AISBL – UGM School on Humanitarian Supply Chain Management and Logistics, including Regional Perspectives pada 26-30 November 2018. Sekolah ini merupakan kolaborasi yang sudah memasuki kali ke-6 dan ditujukan bagi pelajar, akademisi, pejabat dan praktisi, baik yang sudah berkecimpung maupun baru mengenal manajemen rantai pasokan, dari Indonesia, Asia, dan organisasi internasional lainnya.

Melalui kegiatan ini diharapkan peserta mendapat pengetahuan dan pemahaman kritis tentang konsep dan teori manajemen rantai pasokan kemanusiaan dan logistik; keahlian inovatif dalam manajemen rantai pasokan dan logistik dengan pemahaman interdisipliner termasuk aspek politik, hukum, antropologis, kesehatan masyarakat dan manajemen; keterampilan khusus untuk membuat konsep, menafsirkan dan menganalisis secara kritis manajemen rantai pasokan kemanusiaan yang kompleks dan logistik; serta sikap terbuka untuk memperoleh pengetahuan baru dalam dunia yang bergerak semakin cepat.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Joost Herman – Presiden Internasional dari Asosiasi NOHA – mengatakan bahwa tahun ini merupakan tahun yang istimewa mengingat NOHA menginjak umur 25 tahun. Joost yang juga merupakan residen University of Groningen mengatakan bahwa kolaborasi ini penting bagi Indonesia dan UGM sebagai komunitas yang vibran dan membutuhkan resiliensi yang tinggi dan respons cepat dan tanggap terhadap bencana. Di sisi lain, Eropa menjadi partner belajar dan begitu juga sebaliknya.

Para peserta kemudian berproses di Auditorium Lantai 4 Gedung BA Fisipol UGM dan dipandu oleh Joost beserta Dr. Muhadi Sugiono sebagai peneliti senior Programme on Humanitarian Action (POHA) dan staf pengajar Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM. Pembicara tamu yang hadir mencakup Nurmala, M.Sc (Universitas Indonesia); Paolo Vaggi (eks-Manajer Operasi Humaniter, Save the Children Myanmar); Letkol (Pnb.) Ali Sudibyo (TNI-AU); Ton Strik (Purnawirawan Angkatan Bersenjata Kerajaan Belanda); Cheryl Chen (Representasi DHL Asia Tenggara); Dra. Prasinta Dewi, MAP (BNPB Indonesia); dan Tia Kurniawan (Palang Merah Indonesia).

Di akhir program, peserta yang telah terbagi dalam kelompok – kelompok melakukan presentasi studi kasus terkait manajemen rantai pasokan bantuan kemanusiaan setelah mendapat pembelajaran komprehensif. Mereka dievaluasi oleh Prof. Pat Gibbons, PhD yang sekarang menjabat sebagai Direktur Centre for Humanitarian Action, University College Dublin dan pernah memangku posisi Presiden Internasional dari Asosiasi NOHA pada 2007-2014.

“Program ini telah berhasil menjembatani dialog antara akademisi, praktisi, dan pihak berkepentingan yang menghasilkan pemahaman akan pentingnya manajemen bantuan internasional yang berguna di masa mendatang,” jelas Pat di akhir sesi.


Penulis: Willibrordus Bintang Hartono
Editor: Imas Indra Hapsari