01 Juni 2018 By Publikasi IIS

Menakar Peluang Kerja Sama Lintas Sektor antara Indonesia dengan Amerika Serikat

Menakar Peluang Kerja Sama Lintas Sektor antara Indonesia dengan Amerika Serikat

Institute of International Studies, Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada (IIS-UGM) bersama Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertema Arah Kemitraan Strategis Republik Indonesia – Amerika Serikat. Acara ini diselenggarakan pada Kamis, 31 Mei 2018 di Ruang Sidang Dekanat, FISIPOL UGM, dengan menghadirkan sejumlah pakar di bidang keamanan, ekonomi, dan sosial–budaya dari Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) UGM.

Dihadiri oleh praktisi dan akademisi yang memiliki minat kajian Amerika Utara, forum ini memperbincangkan peluang dan tantangan kemitraan Indonesia – Amerika Serikat (AS) yang meningkat dari tahap komprehensif menjadi strategis. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, Ketua DIHI UGM, mengutip Joshua Kurlantzick mengatakan bahwa kerja sama keamanan antara AS dan Indonesia dapat diarahkan menuju yang bersifat transaksional (transactional issue based relations) atau yang berbasis kepentingan bersama. Pendekatan tersebut akan lebih efisien dibandingkan dengan pendekatan kedaulatan (sovereignty based relations) yang seringkali terjebak dalam jargon-jargon mulia.

“Penting untuk mempertimbangkan nilai-nilai masyarakat Asia Tenggara serta belajar dari tindakan masa lalu AS dalam menyikapi isu keamanan saat ini,” ujar Dr. Rachmat Yuliantoro.

Dalam sesi kedua, Dr. Dafri Agussalim menyampaikan pentingnya memperkuat kerja sama pendidikan antara Indonesia dan AS. Kerja sama dalam bidang ini dapat membantu dalam membangun pemahaman sosial-budaya, yang secara langsung maupun tidak langsung bisa menjadi penengah kepentingan keamanan dan ekonomi. Dr. Dafri Agussalim menjelaskan bahwa dalam praktiknya terdapat pasang surut kerja sama pendidikan AS dengan Indonesia. Merujuk kepada Laporan Pintu Terbuka yang dilansir Pemerintah AS, terdapat 50 ribu pelajar Indonesia di negeri Paman Sam sebelum krisis moneter 1998. Angka tersebut lalu turun drastis menjadi berkisar 8 ribu pelajar saat ini.

Mengacu hal tersebut, penting untuk memikirkan desain besar kerja sama pendidikan yang lebih berkarakter, sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan inklusivitas. Dalam sesi panel, muncul bentuk-bentuk pengemasan program yang bersifat timbal balik dengan menggunakan model seperti Colombo Plan+ dari Australia.

Di sesi terakhir FGD, Dr. Riza Noer Arfani membahas isu ekonomi beserta agenda penting dalam kemitraan Indonesia–AS. Melalui diskusi panel, dibahas bahwa kepentingan bisnis Presiden Trump dapat dijadikan perekat hubungan ekonomi keduanya. Melalui diplomasi multi-track,  program penting seperti negosiasi tarif dan perlindungan hak intelektual dapat segera diinisiasi. Selain itu, dengan mencermati nilai ekspor-impor, nilai investasi, serta rambahan sektor yang meningkat, maka kerja sama bilateral dan multilateral dengan AS penting dilindungi demi keuntungan kedua negara.


Penulis : Willibrordus Bintang
Penyunting : Imas Indra Hapsari