06 Maret 2018 By Publikasi IIS

Memperkuat Peran dan Kepemimpinan Indonesia dalam Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST)

Memperkuat Peran dan Kepemimpinan Indonesia dalam Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST)

Berakar dari Konferensi Asia Afrika tahun 1955, Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular (KSST) lahir untuk mengakomodasi kerja sama pembangunan antar negara-negara berkembang. KSST dilandasi oleh prinsip solidaritas, kesetaraan, dan saling menguntungkan. Sebagai pelengkap dari Kerja Sama Utara-Selatan, KSST menjadi bentuk komitmen negara-negara berkembang untuk mencapai kemandirian bersama dan berkontribusi bagi kesejahteraan global. Indonesia selaku pasar berkembang (emerging market) dan anggota G20 perlahan-lahan beralih peran dari negara penerima bantuan menjadi negara penyedia bantuan.

Sejauh apa kiprah Indonesia di KSST? Mengapa KSST penting bagi Indonesia? Apa yang dibutuhkan untuk memperkuat kepemimpinan Indonesia di KSST? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi pokok bahasan dalam seminar “Memperkuat Kepemimpinan Indonesia Melalui Inisiatif Kerja Sama Selatan-Selatan dan Triangular” pada 28 Februari 2018 yang diselenggarakan oleh Institute of International Studies Universitas Gadjah Mada (IIS UGM), bekerja sama dengan Tim Koordinasi Nasional Kerja Sama Selatan-Selatan (terdiri atas Kementerian Luar Negeri, Bappenas, Kementerian Sekretariat Negara, dan Kementerian Keuangan) serta didukung oleh United States Agency for International Development (USAID). Jalannya diskusi yang dihadiri oleh 145 peserta ini dipandu oleh Mochamad Achir (Produser Eksekutif dan Pembawa Berita SCTV)

Dari Traktor Hingga Beasiswa

Kiprah Indonesia dalam Kerja Sama Selatan-Selatan (KSS) kini semakin aktif dan diakui oleh masyarakat internasional sebagai negara yang berkapasitas menjadi penyedia bantuan bagi sesama negara-negara Selatan. Berbagai pengalaman dari pelaksanaan program KSST membuat Indonesia memiliki keunggulan komparatif, terutama di tiga bidang, yakni pembangunan, tata kelola pemerintahan, dan ekonomi. Hendro Widjayanto, Presiden Direktur Quick Tractor Indonesia, membagi kisah pengalaman suksesnya dalam pelaksanaan program KSST Indonesia. Traktor yang diproduksi Quick Tractor Indonesia telah mencapai Panama, Dominika, Tanzania dan Namibia. Pabrik milik Hendro Widjayanto tersebut juga melatih pelaku-pelaku usaha dari Timor Leste.

Sementara itu, Prof. Dr. Gati Gayatri, MA., Plt. Ketua Sekolah Tinggi Multi Media “MMTC” mengutarakan kiprahnya dalam melakukan pelatihan penyiaran kepada sejumlah peserta dari negara-negara di Asia, Afrika, dan Pasifik. Pelatihan oleh “MMTC” menghasilkan karya-karya dalam bentuk digital yang selanjutnya didiseminasikan ke negara asal masing-masing peserta. Salah satunya adalah film dokumenter tentang manajemen bencana dan ekowisata di Indonesia.

Tidak hanya traktor dan pendidikan multimedia, program KSST Indonesia menelurkan berbagai kemajuan lainnya, seperti: ekspansi produk Indofood dan sabun colek di Afrika Selatan dan Afrika Tengah; pembinaan kapasitas usaha rumput laut di Kepulauan Solomon; dan pemberian beasiswa bagi mahasiswa dari negara-negara anggota Gerakan Non-Blok untuk berkuliah di Indonesia. Kisah-kisah tersebut hanyalah segelintir dari banyak pencapaian program KSST Indonesia dalam proses pertukaran pengetahuan dan teknologi dengan negara-negara Selatan di penjuru Afrika dan Asia Pasifik.

Pentingnya KSST bagi Indonesia

KSST krusial bagi Indonesia karena setidaknya dua alasan. Pertama, KSST membantu Indonesia untuk memajukan kepentingan nasionalnya sembari tetap menjunjung prinsip solidaritas, kesetaraan dan saling menguntungkan. KSST menghasilkan manfaat politik, ekonomi, dan sosial budaya bagi Indonesia. Kisah Hendro Widjayanto merupakan salah satu contoh dari manfaat ekonomi yang dirasakan oleh pelaku usaha di Indonesia. Melalui KSST, Indonesia dapat mengenalkan dan memperluas jangkauan produk nasionalnya ke pasar luar negeri. Sayangnya, sejauh ini produk-produk yang disalurkan Indonesia belum sepenuhnya memanfaatkan produk buatan dalam negeri. Sejalan dengan persoalan ini, Dr. Poppy Sulistyaning Winanti, M.P.P., M.Sc., Wakil Dekan II Bidang Kerja Sama, Alumni dan Penelitian FISIPOL UGM, mengutarakan bahwa pemanfaatkan produk nasional dalam program KSST masih perlu ditingkatkan lagi supaya menghasilkan “trickle down effect” bagi masyarakat Indonesia.

Meskipun KSST dapat mengoptimalkan perolehan manfaat politik, ekonomi dan sosial budaya bagi Indonesia, pemerintah tetap harus memegang teguh prinsip solidaritas, kesetaraan, dan saling menguntungkan. Pertimbangan ini ditujukan agar Indonesia tidak mengulang kesalahan negara-negara Utara yang cenderung mendikte dan mengintervensi negara-negara Selatan melalui skema bantuan internasionalnya. KSST Indonesia tidak boleh sekadar meraup manfaat secara sepihak, tetapi juga memberikan manfaat bagi mitranya supaya kerja sama yang saling menguntungkan dapat terus bergulir.

Kedua, KSST penting untuk membangun pengaruh dan kesan positif Indonesia di kancah internasional. KSST dapat menjadi sarana untuk mengakomodasi isu-isu strategis politik luar negeri Indonesia. Fikry Cassidy, Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Multilateral Kementerian Luar Negeri (BPPK Kemlu) sekaligus perwakilan Tim Koordinasi Nasional KSS, mencontohkan bahwa Indonesia dapat menggalang dukungan internasional terkait isu kedaulatan nasional melalui program KSST. Kisah tersebut menunjukkan bahwa film yang dihasilkan dari pelatihan penyiaran MMTC membantu Indonesia untuk membangun kesan positifnya di mata komunitas global. Tidak hanya itu, berbagai pelatihan untuk peserta dari negara-negara Afrika dan Asia Pasifik dapat mendiseminasikan kinerja yang dicapai Indonesia sekaligus meluruskan anggapan negatif tentang Indonesia yang beredar di berbagai media internasional.

Langkah Selanjutnya

Masih banyak tugas yang harus dilakukan Indonesia untuk mengembangkan keunggulan komparatif KSS-nya agar menjadi keunggulan kompetitif. Lantas, apa yang dibutuhkan agar Indonesia dapat memperkuat peran dan kepemimpinannya dalam KSST? Menurut kajian akademik yang dilakukan oleh tim Dr. Poppy di Departemen Hubungan Internasional UGM, Indonesia perlu membangun dukungan politik domestik dari berbagai pemangku kepentingan. Dukungan domestik ini dapat diperoleh dengan menggandeng masyarakat luas dan menjalin komunikasi strategis. Program KSST Indonesia tidak akan cukup apabila hanya berorientasi ke luar. Maka dari itu, kapasitas domestik dan dampak bagi pemangku kepentingan di dalam negeri juga harus diperhatikan.

Fikry Cassidy menyepakati penilaian tersebut dan menekankan bahwa Kementerian Luar Negeri serta Tim Koordinasi Nasional KSS Indonesia sedang mengupayakan diplomasi publik dan peningkatan strategi komunikasi yang efektif. Upaya ini berfungsi membangun kesadaran dan kebanggaan masyarakat terhadap kiprah Indonesia di KSS.

Penguatan KSST Indonesia memerlukan peran aktif seluruh kementerian dan pemangku kepentingan non-pemerintah seperti LSM, akademisi, dan pelaku sektor swasta secara sinergis dan terkoordinasi. Terkait program KSS, Indonesia telah menganggarkan dana sumbangan sebesar 1 Triliun Rupiah. Dana tersebut dialokasikan untuk bantuan internasional yang diprioritaskan bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan peningkatan kapasitas dan bantuan kemanusiaan. Peran aktif berbagai pemangku kepentingan akan diperlukan dalam proses implementasi program hingga monitoring dan evaluasi KSST. Seluruh komponen masyarakat, apapun latar belakang dan bidang profesinya, dapat berkontribusi untuk menyukseskan KSST Indonesia melalui keahliannya masing-masing. Mengutip pernyataan penutup dari Profesor Gati, “Ayo, kita bekerja sama dalam menunjukkan kehebatan negara-negara Selatan. Barangkali suatu saat nanti kita dapat mengubah kerja sama Utara-Selatan menjadi Selatan-Utara.” Aspirasi Indonesia untuk memimpin KSST harus selalu mempertimbangkan dampak bagi pihak di luar maupun dalam negeri demi tercapainya kesejahteraan global yang setara.


Penulis: Husna Yuni Wulansari
Penyunting: Imas Indra Hapsari