16 April 2018 By Publikasi IIS

Mempelajari Selatan: Terminologi dan Perubahan Kekuatan Politik

Mempelajari Selatan: Terminologi dan Perubahan Kekuatan Politik

Institute of International Studies Universitas Gadjah Mada (IIS UGM) menyelenggarakan diskusi bulanan bertajuk “Mempelajari Selatan: Konsep dan Perdebatan” pada Jumat, 13 April 2018 di ruang BA 503. Kegiatan ini menghadirkan dua peneliti IIS-UGM, Rizky Alif Alvian dan Husna Yuni Wulansari sebagai pemapar. Turut hadir pula dalam acara ini, Prof. Mohtar Mas’oed atau yang akrab disapa Pak Mochtar, Guru Besar DIHI-UGM selaku pembahas.

Penggunaan istilah “Global South” atau yang kemudian diterjemahkan sebagai Selatan dalam satu dekade terakhir meraih popularitas di kalangan akademisi, aktivis, praktisi pembangunan, maupun organisasi-organisasi internasional. Terminologi ini dianggap menggantikan – atau setidaknya mendominasi – penggunaan istilah terdahulu seperti “negara berkembang” (developing countries), “Dunia Ketiga” (Third World), “negara kurang berkembang” (less developed countries), atau negara miskin (poor countries). Penggunaan istilah ‘baru’ tersebut menciptakan pertanyaan baru yang perlu untuk direfleksikan, “apa sebetulnya yang dimaksud sebagai Selatan?” Melalui diskusi yang didasarkan pada draf naskah akademik tersebut, Rizky Alif dan Husna berusaha mendedah apakah dominasi terma Selatan sekedar pergeseran istilah atau justru menawarkan kebaruan konseptual dalam menganalisa situasi politik internasional. Mengingat istilah Selatan dewasa kini disematkan dalam berbagai fungsi mulai kajian akademik hingga kerangka kerjasama antar negara.

Rizky Alif mengawali sesi diskusi dengan memaparkan temuannya mengenai sejarah penggunnaan istilah Selatan. Istilah tersebut mulai dipergunakan dalam tulisan-tulisan akademik di tahun 2004 dan termuat dalam 19 artikel ilmiah. Pada tahun 2013, penggunaan terminologi Selatan meningkat pesat dengan publikasi sebanyak 148 artikel ilmiah.

Di sisi lain, Husna mengamati bahwa terdapat dua arus pemikiran utama dalam pendefinisian Selatan. Arus pertama menganggap Selatan sebagai istilah peralihan terma-terma sebelumnya seperti Dunia Ketiga atau negara berkembang yang populer pada dekade 1980-an. Dengan demikian, Selatan merujuk pada negara-negara pasca-kolonial yang secara geografis mayoritas berada di belahan bumi Selatan. Arus pemikiran kedua menganggap unit analisis kajian Selatan tidak hanya berfokus pada negara, tetapi juga aktor dalam konstelasi politik global. Selatan merujuk pada aktor-aktor yang mengalami ketimpangan relasi kuasa sehingga menjadi mereka lebih subordinat ketimbang “Utara”. Dalam pemikiran kedua, Selatan tidak hanya merujuk pada aktor negara, tetapi juga masyarakat yang mengalami marginalisasi oleh neoliberalisme atau pun kapitalisme.

Kedua arus pemikiran utama ini kemudian memiliki persamaan dan perbedaan. Persamaan keduanya terletak pada narasi ketimpangan relasi kuasa dalam politik global yang menyebabkan aktor-aktor Selatan terpinggirkan. Persamaan lainnya adalah bagaimana kedua arus pemikiran tersebut melihat semangat solidaritas dan kerjasama egaliter sebagai strategi perlawanan. Adapun perbedaan keduanya dapat dilihat dari aktor mana saja yang dapat dikategorikan sebagai Selatan. Arus pertama cenderung bersifat negara-sentris. Sementara, arus kedua lebih melihat masyarakat sebagai simbol Selatan itu sendiri. Hal tersebut berimplikasi pada perbedaan kedua yakni, arus pertama yang menerjemahkan Selatan secara literal sehingga beranggapan bahwa terminologi tersebut merujuk pada aktor yang berada di belahan bumi Selatan. Di sisi lain, arus kedua beranggapan dikotomi geografis tersebut sudah tidak relevan. Dengan begitu, Selatan bisa saja berada di Utara dan sebaliknya, Utara bisa jadi juga terdapat di Selatan. Rizky Alif mengakhiri pemaparannya dengan menyimpulkan bahwa mempelajari Selatan dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa dalam setiap periode, akan selalu muncul aspirasi politis baik oleh negara maupun masyarakat di tingkat global dalam memperjuangkan keseteraan melalui solidaritas bersama.

Pada akhir sesi, Mochtar Mas’oed mengapresiasi usaha kedua pemapar dalam menghasilkan kajian akademis yang berguna bagi disiplin ilmu Hubungan Internasional. Akan tetapi, Mochtar juga mengingatkan bahwa studi yang dilakukan juga harus sensitif pada kondisi sosio-historis atas terminologi Selatan. Ia mencontohkan bahwa istilah tersebut tidak hanya dipergunakan oleh akademisi, tetapi juga oleh pemerintah, organisasi internasional, dan bahkan kalangan bisnis. Istilah-istilah terdahulu seperti “less developed countries”, “new emerging forces”, atau BRICS adalah beberapa istilah yang tidak dicetuskan kalangan akademisi. Mochtar berharap naskah akademik  “Mempelajari Selatan” dapat dikembangkan tidak hanya melalui pendekatan filsafat politik, tetapi juga sosiologi historis.

Simak video lengkap diskusi “Mempelajari Selatan: Konsep dan Perdebatan” melalui tautan berikut: https://www.facebook.com/IISUGM/videos/1782285928477347/ 


Penulis: Alifiandi Rahman Yusuf
Penyunting: Imas Indra Hapsari