13 Mei 2018 By Publikasi IIS

Membidik Peluang Dagang di Negara Anggota Mercosur

Membidik Peluang Dagang di Negara Anggota Mercosur

Institute of International Studies (IIS), Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada (DIHI-UGM) bekerja sama dengan Pusat Pengembangan dan Kajian Kawasann (P2K2) Amerika dan Eropa, Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK), Kementrian Luar Negeri RI menyelenggarakan Forum Kajian Kebijakan Luar Negeri (FKKLN) pada  Jumat, 11 Mei 2018. Acara bertema “Pengembangan Hubungan Ekonomi dan  Perdagangan Indonesia-Mercosur: Perspektif Ekonomi Politik Internasional” tersebut diadakan di Ruang Seminar Timur, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM. Kegiatan ini turut digawangi oleh Sociedad Indonesia para America Latina (SIpAL), unit kegiatan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM yang memiliki ketertarikan pada isu-isu Amerika Latin.

FKKLN membahas peluang dan tantangan kerjasama Indonesia dengan Argentina, Brazil, Paraguay, dan Uruguay yang tergabung dalam Mercado Común del Sur (Mercosur). Forum tersebut turut menghadirkan pemangku kebijakan, akademisi, hingga pelaku bisnis. Acara dibuka oleh Dr. Nur Rahmat Yuliantoro selaku Ketua Program Studi Ilmu Hubungan Internasional UGM. Forum dimoderatori oleh Leonard F. Hutabarat, Ph. D. selaku Kepala P2K2 Amerika dan Eropa Kementrian Luar Negeri.

Dr. Riza Noer Arfani, dosen DIHI-UGM , menyatakan bahwa potensi strategis Mercosur sebagai mitra dagang Indonesia masih bisa ditingkatkan. Karena kerja sama yang terjalin selama ini masih dianggap berdampak kurang signifikan bagi kedua pihak. Pakar kajian Amerika Latin dan Ekonomi Politik ini mengatakan bahwa kolaborasi pemerintah perlu pelaku usaha menjadi krusial untuk membentuk kebijakan yang saling menguntungkan dua pihak. Dengan begitu, peningkatan produksi di sektor garmen, agrikultur, maupun komoditi tradisional bisa berjalan dengan lebih baik. Di sisi lain, pelaku usaha juga perlu didorong untuk bergabung ke dalam jaringan global.

Pembicara kedua adalah Virdiana Ririen Hapsari dari Direktorat Kerja Sama Intra-kawasan dan Antar-kawasan Amerika dan Eropa, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Disampaikan bahwa pemerintah optimis kerja sama antara Indonesia dan Mercosur. Pemerintah sendiri telah melakukan upaya sosialisasi dan promosi produk Indonesia melalui pameran bisnis di luar negeri. Hal tersebut dilakukan sebagai salah satu cara mengetahui minat konsumen terhadap produk Indonesia. Selain itu, Kemenlu juga melakukan kunjungan luar negeri dan forum ekonomi dan bisnis internasional untuk kepentingan business matchmaking. Di luar upaya-upaya yang pemerintah lakukan, masih diperlukan keterlibatan pelaku usaha, akademisi, dan dukungan dari masyarakat mengembangkan kerja sama yang lebih menguntungkan antara Indonesia dan Mercosur.

Sesi ketiga diisi oleh Ir. Sri Nastiti Budianti, M.Si. , Kepala Pusat Pengkajian Kerja Sama Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia. Sri menyatakan bahwa analisis biaya dan manfaat harus dilakukan sebelum kerja sama disepakati. Perlu adanya lobi dan negosiasi yang lebih dalam terkait kesepakatan mengenai tariff komoditi ekspor – impor antara Indonesia dengan Brazil. Selama ini Indonesia memberlakukan tariff sebesar 0% terhadap komoditi impor dari Mercosur. Namun hanya 6,1% komoditi ekspor Indonesia ke Mercosur yang bebas tariff. Perlu adanya liberalisasi perdagangan dengan menghapuskan tariff dan pengurangan Non – Tariff Measures jika ingin meningkatkan volume ekspor Indonesia ke Mercosur.

Dalam rangka menyambut kegiatan FKKLN, SIpAL menggelar rangkaian acara pemutaran dan diskusi film “The Year My Parents Went on Vacation” (judul asli: O Ano em Que Meus Pais Saíram de Férias) dan pameran bertema “The Colors of Brazil” pada hari Rabu, 9 Mei 2018. Film yang diproduksi tahun 2006 tersebut memotret situasi sosial-politik Brazil pada dekade 1970-an. Dekade dimana banyak terjadi penculikan aktivis oleh pemerintahan militer yang otoriter.


Penulis: Alifiandi Rahman Yusuf, Ika Rizky Fauziah Abdullah, Alifa Ardhyasavitri
Penyunting: Imas Indra Hapsari