01 November 2017 By Publikasi IIS

Memahami Gelombang Populisme Agama yang Menerjang Amerika Serikat dan Indonesia

Memahami Gelombang Populisme Agama yang Menerjang Amerika Serikat dan Indonesia

Perbincangan mengenai populisme kembali menghangat di Amerika Serikat (AS) dan Indonesia. Di AS, terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden negara adidaya tersebut mengejutkan banyak pihak karena dalam kampanyenya, ia sering memainkan retorika anti-imigran Muslim. Di sisi lain, “Aksi Bela Islam 212” di Jakarta, Indonesia sukses menurunkan Gubernur Basuki ‘Ahok” Purnama yang merupakan seorang Kristiani keturunan Tionghoa. Apa yang terjadi sejatinya hanyalah pengolangan pola lama yang menguat kembali, yang berupa demonstrasi terhadap sosok yang dikonstruksikan ‘anti-Islam’ di Indonesia dan permainan retorika “Axis of Evil” yang diwariskan Presiden Bush di AS. Populisme dengan basis identitas agama ini kemudian perlu ditelaah lebih dalam mengingat berlangsung dalam cakupan global.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, Institute of International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada bekerjasama dengan Institut Dialog Antar Iman di Indonesia (DIAN/Interfidei) menyelenggarakan diskusi bulanan yang bertajuk “Religious Populism in the United States and Indonesia” yang menghadirkan Robert W. Hefner, Direktur Center for Culture, Religion, and World Affairs (CURA), Boston University. Acara ini berlangsung pada Jumat (27/10) bertempat di Ruang BA501 FISIPOL UGM. Diskusi yang dihadiri sekitar 75 peserta ini dimoderatori oleh Atmaezer Hariara Simanjuntak dari DIAN/Interfidei.

Dalam pemaparannya, Pak Bob (sapaan akrab Robert W. Hefner) mendefinisikan populisme muncul akibat adanya krisis kewarganegaraan model Barat yang menitikberatkan pada hak-hak individual. Krisis tersebut mendorong munculnya gerakan alternatif yang salah satunya berbentuk populisme agama. Merebaknya populisme agama menurut Pak Bob mencerminkan perubahan model kewarganegaraan Barat ke arah yang lebih inklusif dan lebih mudah diadaptasi di level lokal. Ciri khas populisme agama dapat ditandai dari pengkonstruksian demos atau rakyat sebagai identitas ideal yang seharusnya menjunjung moralitas dan otentik secara kultural atau sering dikenal dengan istilah ‘pribumi’. Berlawanan dengan kalangan elit yang dilabel sebagai korup, asing, dan karenanya, mengancam keberlangsungan hidup rakyat. Pelabelan tersebut sukses digunakan Trump dalam menggambarkan Hillary Clinton, lawan politiknya di Pemilu AS, sebagai bagian dari golongan elit yang mengancam keberlangsungan American way-of-life. Di Indonesia, aksi protes untuk menjatuhkan Ahok juga kental dengan narasi penggambaran gubernur tersebut sebagai ‘antek asing’ yang membahayakan gaya hidup masyarakat Muslim ibukota. Pada akhirnya, pemimpin yang dibayangkan dalam populisme agama adalah mereka yang bukan golongan elit, serta memiliki power untuk meneggakkan standar moralitas tertentu di seluruh lapisan masyarakat.

Pertanyaannya kemudian adalah, mengapa populisme agama kini menjangkiti banyak negara? Pak Bob merujuk argumen Vedi Hadiz mengenai alur faktor pendorong terciptanya gelombang populisme agama di berbagai negara. Diawali dengan kejadian krisis ekonomi global yang khususnya mendera negara-negara Uni Eropa, serta Amerika Serikat dan negara-negara Asia lainnya yang turut terkena dampaknya. Krisis ekonomi global 2008 memperlihatkan bagaimana kebijakan neoliberal tidak mampu meningkatkan kesejahteraan kelas menengah dan kelas bawah yang tinggal di kawasan urban. Pada akhirnya, kelompok ini mencari alternatif sistem sosial politik yang dibayangkan dapat mengembalikkan kesejahteraan mereka. Salah satunya seperti masyarakat urban Indonesia melihat ideologi Islamisasi sebagai opsi tersebut. Namun menurut Pak Bob, argumen Hadiz terlalu menitikberatkan pada aspek ekonomi, dan kurang dalam melihat globalisasi kapitalisme berdampak pada identitas kultural dan nilai politik.

Di akhir sesi kuliahnya, Pak Bob menyebut ada beberapa cara untuk mengurangi dampak populisme agama. Yakni memperkuat identitas masyarakat pada sesuatu yang lebih luas seperti identitas nasional atau bahkan identitas global sebagai manusia itu sendiri. Sehingga, sikap saling menghormati atas asas kemanusiaan menjadi lebih mudah dihadirkan. Pak Bob juga memberi perhatian kepada media sosial dan aktivitas digital masyarakat. Sebab menurutnya, karateristik populisme agama dewasa kini khususnya di Amerika Serikat dan Indonesia, adalah mobilisasi massa melalui platform digital khususnya sosial media. Hal tersebut menjadikan upaya pemobilisasian massa sulit dilacak perkembangannya dan seringkali muncul sebagai aksi yang skalanya mengejutkan. [ARY]