17 Oktober 2018 By Publikasi IIS

Melawan Hoaks, Menyemai Damai

Melawan Hoaks, Menyemai Damai

Budaya lisan masyarakat Indonesia yang mengakar sejak lama membentuk kebiasaan menyebarkan informasi tanpa melalui proses pencarian dan klarifikasi menyeluruh, apalagi ketika berita tersebut bersifat bombastis dan aktual. Budaya lisan ini kemudian ikut mempengaruhi penggunaan media sosial, sebuah medium yang menguasai lebih dari 80% laju penggunaan internet Indonesia.

Tanpa dibarengi peningkatan budaya membaca yang menjadi landasan untuk verifikasi satu informasi, tidak mengherankan jika kemudian hoaks atau berita palsu laku di tengah masyarakat Indonesia. Bagai jamur di tengah musim hujan, hoaks semakin menyebar ketika keinginan untuk menjadi yang pertama tahu dilakukan tanpa proses klarifikasi.

Hal ini bertambah parah ketika hoaks diamplifikasi secara deras dan terus menerus oleh orang-orang berpengaruh yang secara umum diyakini kredibilitasnya. Terlebih ketika berita palsu melibatkan objek yang berhubungan dengan isu-isu sensitif terutama berkaitan dengan identitas  serta kepercayaan yang sering menjadi bahan provokasi.

Untuk melawan penyebaran hoaks, tindakan-tindakan kuratif seperti pemberlakuan UU ITE dan tindakan represif berupa Internet Sehat tidaklah cukup. Langkah preventif melalui pendidikan yang mendorong eksplorasi mandiri dalam batas-batas yang jelas tetap diperlukan. Dalam hal ini pemuda adalah sasaran yang utama dan strategis. Terutama karena sepertiga populasi Indonesia adalah pemuda-pemudi berusia 15-39 tahun.

Institute of International Studies UGM meyakini bahwa dengan jumlahnya yang mendominasi penggunaan internet di Indonesia, pemuda semakin berperan penting dalam melawan hoaks. Salah satu upaya yang telah dibangun adalah lewat lokakarya Make Peace Not Hate in Social Media yang diselenggarakan bersama Center for Digital Society (CfDS) UGM pada Sabtu (13/10) yang lalu.

Lokakarya ini diikuti oleh pelajar SMA di Kota Yogyakarta bersama dengan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Departemen-Unit-Kegiatan Mahasiswa di Fisipol UGM. Lewat paparan beserta diskusi yang dipandu oleh Cut Intan (IIS) dan Fedryno Geza (CfDS), para peserta kemudian dapat memahami bentuk hoaks dan ujaran kebencian. Selain itu, hal-hal positif dari penggunaan media sosial juga turut dieksplor supaya dapat dipraktekkan oleh pemuda.

Di akhir acara, antusiasme terasa dari peserta untuk mengisi media sosial dengan konten yang menolak berita palsu dan juga menyebarkan pesan-pesan perdamaian.


Penulis: Wilibrordus Bintang Hartono
Editor: Imas Indra Hapsari