27 Maret 2018 By Publikasi IIS

Kuliah Umum Go Hungary – Go Indonesia: Resep Pemulihan Ekonomi ala Hungaria

Kuliah Umum Go Hungary – Go Indonesia: Resep Pemulihan Ekonomi ala Hungaria

Runtuhnya Uni Soviet membawa pengaruh dalam pembangunan ekonomi di kawasan Eropa Timur. Negara-negara di Eropa Timur, terutama negara-negara bekas Uni Soviet, harus mengalami satu fase dimana keterbukaan ekonomi menjadi tren yang harus diikuti. Meskipun begitu, keterbukaan ekonomi belum dapat memaksimalkan potensi ekonomi di negara-negara Eropa Timur, sehingga berbagai macam preskripsi pun dicoba agar masing-masing negara memiliki kekuatan untuk bertahan hidup.

Satu dari negara-negara Eropa Timur yang mencoba untuk tetap bertahan hidup di era keterbukaan ekonomi adalah Hungaria. Hungaria telah menunjukkan kepada dunia bahwa ia adalah negara Eropa Timur yang perkembangannya paling cepat, namun perkembangannya belum mampu menyaingi negara-negara Eropa Barat. Hal ini karena kekuatan Uni Soviet di masa lalu seolah-olah mengkungkung Hungaria untuk berkembang lebih jauh. Modernisasi dan perdagangan pun sulit diterimanya. Akibatnya, Hungaria hanya mampu menghasilkan produk-produk murah dengan proses yang lebih sedikit dibandingkan produk-produk dari Eropa Barat, seperti bahan mentah dan makanan.

Tidak mau berlarut-larut dalam kungkungan sistem ekonomi ala Uni Soviet, Hungaria mengembangkan berbagai macam preskripsi untuk mengubah sistem ekonominya. Professor Tamás Novák dari Budapest Business School mendedahnya dalam kuliah umum bertajuk “GO HUNGARY – GO INDONESIA: The Restructuring of External Economic Relations from Eastern European Perspective” yang diselenggarakan Institute of International Studies, Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada (DIHI-UGM) dan Kedutaan Besar Hungaria di Jakarta pada Jumat, 23 Maret 2018. Kuliah umum dimoderatori oleh Aldoreza Prandana, Koodinator Kerjasama Internasional DIHI UGM yang juga alumni beasiswa nasional Hungaria tersebut.

Professor Novák menyatakan bahwa ada dua preskripsi yang telah dilakukan oleh Hungaria: The Washington Consensus  dan gradualisme. Preskripsi Washington Consensus dipilih dengan asumsi bahwa negara akan berkembang secara spontan. Preskripsi ini dinilai sebagai cara yang paling efisien. Untuk mencapai efisiensi tersebut, preskripsi ini menyarankan adanya keterbukaan perdagangan internasional dan akses pasar untuk semua produk dari seluruh dunia. Dengan demikian, kompetisi antar produsen dapat terjadi dan memungkinkan setiap produsen untuk meningkatkan daya saingnya. Setelah itu, ekonomi nasional perlu distabilisasi, dan semua perusahaan negara perlu diprivatisasi.

Preskripsi kedua, yaitu gradualisme. Gradualisme merupakan sistem yang bersifat evolusioner. Artinya, transformasi ekonomi harus dilakukan secara bertahap, termasuk dalam hal liberalisasi dan privatisasi. Dengan melakukan transformasi ekonomi secara bertahap, Hungaria berharap transformasi ekonomi berhasil dilaksanakan.

Sayangnya, kedua preskripsi tersebut belum mampu membawa perubahan ekonomi ke arah yang lebih baik. Ekspor Hungaria menurun drastis, sehingga pendapatannya pun juga berkurang sebesar 18% dari pendapatan sebelumnya. Pertumbuhan ekonominya pun hanya 1-1,5% pada awal tahun 90-an. Hal ini membuat Hungaria mencoba mengubah ekonomi dan politiknya secara lebih mendalam pada tahun 1990-an. Perubahan itu dilakukan dengan mereformasi sistem pendidikan, meningkatkan arus masuk investasi, dan meningkatkan ekspor dengan negara-negara Barat, seperti Amerika Serikat. Hasilnya, perlahan ekonomi Hungaria mulai membaik. Pada tahun 2004, Hungaria pun bergabung dengan Uni Eropa. Hal ini memungkinkan perdagangan eksternal Hungaria dengan negara-negara Eropa Barat semakin meningkat.

Go Hungary Go Indonesia IIS UGM

Pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Hungaria juga didukung dengan serangkaian kebijakan moneter oleh Bank Sentral Hungaria (MNB). Terlebih lagi setelah terjadinya krisis ekonomi tahun 2008, dimana Hungaria juga menerima dampaknya. Pembicara kedua, Professor István Ábel, membahas mengenai apa saja langkah-langkah yang dilakukan oleh Bank Sentral Hungaria  (MNB) untuk memperbaiki dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi pasca krisis. Dalam kuliahnya, Profesor Ábel mengungkapkan bahwa permasalahan kebijakan moneter diatasi dengan beberapa kebijakan perpajakan, yakni dengan mengganti sistem pajak dari pajak buruh ke pajak konsumsi. Keadaan ini mengakibatkan penyerapan tenaga kerja meningkat signifikan dan utang publik menurun.

Kebijakan moneter MNB lainnya, adalah pembuatan kerangka kebijakan moneter baru.Setelah terjadinya krisis, MNB mencoba untuk membuat kebijakan-kebijakan moneter ekspansionaris. Salah satu di antaranya, MNB meminjamkan dana melalui Skema Pertumbuhan Pendanaan (Funding Growth Scheme) dimulai dari Juli 2013 hingga Maret 2017, dengan bunga hanya sebesar 2,5% per tahun dan menargetkan UKM. Dengan bunga yang kecil tersebut, tentunya akan mendorong SME untuk lebih mudah mendapatkan pendanaan dan meningkatkan produktivitasnya.

Kebijakan moneter yang cenderung sangat longgar tersebut memberi dampak positif terhadap kondisi keuangan Hungaria. Tidak hanya itu, kebijakan moneter yang longgar juga mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi. Rasio utang publik menurun, begitu pula dengan utang luar negeri. Berbagai macam program yang dibiayai sendiri pun diniali sukses. Meskipun begitu, ada beberapa tantangan yang harus dilalui, salah satunya mengenai masalah kependudukan dimana Hungaria sedang menghadapi tekanan yang tinggi dengan meningkatnya populasi masyarakat berusia lanjut lebih besar daripada yang berusia produktif dan muda.

Pada akhir presentasi, Professor Novák dan Professor Ábel menutup dengan sebuah pernyataan bahwa transformasi ekonomi yang terjadi di Hungaria, terutama pasca krisis ekonomi 2008 memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi di Indonesia pasca krisis ekonomi 1997. Kesamaan ini membut Hungaria merasa perlu belajar dari kisah Indonesia saat itu. Di samping itu, saat ini pemerintah Hungaria juga sedang mempererat hubungan perdagangan dan investasi dengan Indonesia yang harapannya dapat terus ditingkatkan, mengingat Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di Asia Tenggara.


Penulis: Shofi Fatihatun Sholihah
Penyunting: Alifiandi Rahman Yusuf