13 April 2017 By admin hi

Kerja Sama dengan Denmark jadi Titik Tumpu bagi Energi Hijau di Indonesia

Kerja Sama dengan Denmark jadi Titik Tumpu bagi Energi Hijau di Indonesia

Seri Diskusi Bulanan kali ini (13/4) menghadirkan Datu Damarjiwo (DIHI 2015), pemenang #Ambassador1Day tahun 2017. Di kesempatan diskusi, Datu mempresentasikan esai yang telah mengantarkannya menjadi Duta Besar Denmark dalam sehari. Datu membahas kerja sama antara Denmark dan pemerintah Indonesia untuk memajukan perkembangan energi hijau di Indonesia di bawah tajuk diskusi “Denmark-Indonesia Energy Cooperation for a Green Future”. Presentasi tersebut menunjukkan bahwa Denmark sebagai perintis energi terbarukan dapat menjadi penuntun yang tepat bagi Indonesia untuk menanggalkan ketergantungan terhadap energi fosil dan mulai melirik penggunaan teknologi energi yang lebih ramah lingkungan. Diramaikan oleh 10 orang peserta yang masing-masing datang dari beragam latar belakang, diskusi energi ini berhasil menyatukan bermacam perspektif mengenai wacana kerja sama energi lintas negara.

Mengawali presentasinya, terlebih dahulu Datu menceritakan program #Ambassador1Day yang ia ikuti. Program ini adalah bagian dari diplomasi publik pemerintah Denmark yang ditujukan bagi mahasiswa di Indonesia. Selain ajang diplomasi, program ini datang sebagai demistifikasi atas kegiatan diplomasi itu sendiri pada publik–yang seringkali dianggap sebagai aktivitas tingkat tinggi yang penuh kerahasiaan. Dalam kesempatan yang diberikan oleh Kedutaan Besar Denmark di Indonesia tersebut, Datu menggantikan Casper Klynge sebagai duta besar selama seharian penuh, ia bertemu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan mantan presiden B.J. Habibie. Selain “menjabat” sebagai duta besar, #Ambassador1Day memberangkatkan Datu ke Denmark untuk melakukan studi singkat selama dua minggu berkaitan ke situs-situs yang berkaitan dengan tema tahun ini, energy and development.

Denmark dan Indonesia berangkat dari titik awal yang jauh berbeda, dilihat secara geografis dua negara ini menduduki bagian dunia yang berbeda iklim. Begitu pula sisi demografisnya, Denmark memiliki 5,6 juta penduduk yang tumbuh sekitar 0,4% tiap tahunnya, sedangkan Indonesia yang berpredikat sebagai salah satu negara paling padat di dunia memiliki 250 juta penduduk yang tumbuh 1,2% per tahun. Tentu dua faktor di atas saja dapat mempengaruhi tantangan dan peluang yang dimiliki kedua negara. Denmark, dengan populasi dan persentase pertumbuhan yang kecil berbanding lurus dengan rendahnya permintaan energi di negara tersebut, berhasil mengubah arah kebijakan serta budaya konsumsi energi masyarakatnya sehingga diperkirakan pada tahun 2050 negara ini telah secara total mampu merdeka dari energi berbahan dasar fosil. Keberhasilan Denmark merintis energi terbarukan bisa dilihat melalui “anomali” yang dijuluki The Danish Decoupling Story, ketika trajektori pertumbuhan PDB, konsumsi energi, dan tingkat emisi memiliki ujung yang berbeda. Pertumbuhan PDB yang meningkat tidak diikuti oleh konsumsi energi dan emisi CO2.

Sedangkan kasus di Indonesia dan kaitannya dengan energi hijau ini agaknya lebih rumit. Pertumbuhan populasi yang kian meningkat tiap tahunnya menyebabkan permintaan energi yang juga makin besar. Permintaan tersebut terus tumbuh sekita 8,5% pertahun dengan energi fosil sebagai primadona, sebanyak 94% energi di Indonesia disuplai dari sumber-sumber fosil yang tidak terbarukan. Selain itu, penggunaan energi di Indonesia dipandang masih belum efisien dan berbahaya bagi lingkungan serta kesehatan. Diperparah oleh tidak meratanya pembangunan di seluruh negeri, Indonesia seakan makin jauh dari target untuk mengubah pola konsumsi energinya menjadi berkelanjutan. Terlepas dari hal-hal yang ditemui di lapangan, Indonesia termasuk negara yang aktif dalam perjanjian internasional terkait lingkungan hidup. Tahun 2015, Indonesia berpartisipasi dalam Konferensi Perubahan Iklim di Paris (COP21) yang juga bermitra dengan PBB yang bertujuan untuk menghasilkan perjanjian universal yang mengikat secara hukum bagi terkait isu perubahan iklim dan pemanasan global. Sebagai konsekuensi perjanjian internasional tersebut, Indonesia harus secara masif mengurangi emisi karbon sebesar 41% sebelum tahun 2030.

Dari dua latar belakang dua negara tersebut, Datu berpendapat bahwa kerja sama keduanya perlu dilakukan. Dari sisi Indonesia, negara dapat terbantu dengan teknologi dan kebijakan yang telah berhasil tumbuh di Denmark. Selain itu, menurut Datu masalah sustainability yang mengganjal development–begitu pula sebaliknya–di Indonesia dapat teratasi dengan bantuan teknologi dari Denmark, daripada harus memulainya dari awal dan masih harus menyeimbangkan masalah lingkungan dan pertumbuhan ekonomi. Di pihak Denmark sendiri, kerja sama ini mampu menjadi pintu gerbang bagi pasar teknologi yang besar di kawasan Asia Tenggara. Vestas, perusahan Denmark manufaktur turbin angin telah menandatangani perjanjian dengan PLN Indonesia pada tahun 2016 terkait proyek pembangunan pembangkit listrik tenaga angin di Sulawesi Selatan. Selain dengan pihak swasta, kerja sama Denmark dan Indonesia merambah level antarpemerintah. Dengan strategi kemitraan G2G, dua negara melalui 3 pendekatan kerja sama, antara lain perencanaan, integrasi, dan improvisasi.

Presentasi dilanjutkan oleh sesi tanya jawab, dalam sesi ini dibahas mengenai penyebab lambatnya konversi energi terbarukan di Indonesia apabila dibandingkan dengan Denmark. Berbeda dengan Indonesia, Denmark tidak memiliki perusahaan tambang maupun penyedia energi fosil lain yang mampu ambil bagian jadi kekuatan politik. Di Indonesia, yang memang memiliki tanah yang kaya akan sumber energi, kebijakannya dipengaruhi oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan dalam sektor tersebut, sehingga politik hijau jauh dari prioritas. Selain itu, kesadaran dari masyarakat Indonesia atas kebutuhan beralih ke energi hijau masih sangat kurang. Ketidakmerataan pembangunan dan fasilitas pemerintah atas riset-riset yang berkaitan dengan energi yang masih terbatas juga dinilai sebagai penyebab stagnansi Indonesia dalam perkembangan energi hijau. [AN]