03 Agustus 2018 By Publikasi IIS

Keluarga dan Pemerintah Berperan Krusial dalam Disengagement Jihadis di Indonesia

Keluarga dan Pemerintah Berperan Krusial dalam Disengagement Jihadis di Indonesia

Pendekatan kemanusiaan perlu dikedepankan dalam penanganan aksi teror di Indonesia—baik dalam tahap pencegahan maupun pascateror. Menimbang, cara-cara kekerasan justru memotivasi jihadis untuk melakukan aksi teror yang lebih besar.

Guna membahas pendekatan yang dimaksud, Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian dan Institute of International Studies UGM mengundang Julie Chernov Hwang—penulis buku Why Terrorist Quit: The Disengagement of Indonesian Jihadist—untuk mendiskusikan bukunya (3/8). Dalam karyanya, Associate Professor dari Goucher College Amerika Serikat ini menceritakan lima kisah mantan jihadis yang telah keluar dari gerakan.

“Dari 33 kasus yang saya pelajari, saya memperhatikan bahwa keluarga dan pemerintah memiliki andil besar dalam disengagement,” ungkap Julie dalam sesi diskusi di Ruang BA 101, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM.

Keluarga bisa memengaruhi jihadis atau simpatisan jihadis untuk mengubah sikap dan pikirannya terhadap paham radikal. Ini ditunjukkan dalam satu kasus mantan anggota Jama’ah Islamiyah, yang menyerahkan diri ke polisi atas dukungan dan pengaruh dari ibunya.

Sejumlah kasus juga menunjukkan kecenderungan serupa; seperti kelahiran anak, dukungan moral saat dipenjara, dan kedekatan dengan teman-teman baru. Ini semua mendorong jihadis untuk melepaskan diri dari nilai kekerasan.

Setelah itu, keluarga juga membuka jalan agar mantan jihadis dapat kembali ke masyarakat. Meski begitu, sikap dan kebijakan pemerintah akan sangat mempengaruhi keberhasilan disengagement.

“Pemerintah harus menyediakan pelatihan keterampilan dan lapangan pekerjaan bagi mantan jihadis untuk melanjutkan hidup. Namun, jauh sebelum itu, pemerintah juga harus memanusiakan tahanan yang ada di penjara,” jelas Julie. “Jangan sampai mereka merasa marah karena tidak dimanusiakan, yang justru akan mempersulit upaya disengagement,” tambahnya.

Ketika upaya pemerintah dan lingkungan terdekat eksjihadis sudah berjalan beriringan, perlu diingat bahwa upaya tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Seperti halnya proses radikalisasi yang perlahan-lahan, perlu waktu yang tidak sebentar pula supaya jihadis dan simpatisan jihadis meninggalkan pola pikirnya.

Najib Azca—Direktur Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian UGM—menyatakan bahwa karya tulis Julie adalah pencapaian yang luar biasa.

“Sebagai peneliti perempuan, Julie bisa masuk ke ‘dunia laki-laki’ dan mendapatkan data primer yang sangat sulit diakses. Penelitian semacam ini tidak mungkin dilakukan jika peneliti tidak bisa mendapat kepercayaan dari informannya,” jelas Najib Azca di sela-sela sesi diskusi buku.

Melalui buku yang diterbitkan tahun 2018 ini, Julie telah berkonstribusi dalam merumuskan pola-pola yang terjadi dalam proses disengagement. Ia juga berhasil menyertakan aspek kultural dan emosional yang sering kali diabaikan dalam penelitian ilmu sosial dan politik.


Kompilasi pemberitaan di media massa


Penulis: Imas Indra Hapsari
Penyuting: Nurhawira Gigih Pramono