23 Desember 2017 By Publikasi IIS

IIS UGM Berpartisipasi dalam Workshop Tahunan Komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa

IIS UGM Berpartisipasi dalam Workshop Tahunan Komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa

Pada Rabu, 20 Desember 2017, Institute of International Studies (IIS) Departemen Ilmu Hubungan Internasional (DIHI) Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi dalam Workshop tahunan Komunitas Indonesia untuk Kajian Eropa (KIKE) yang diselenggarakan Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Islam Indonesia (UII). Selain UGM dan UII, juga  berpartisipasi universitas-universitas lain yang tergabung dalam KIKE, diantaranya Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Bosowa, Universitas Budi Luhur (UBL), Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Universitas Jendral Soedirman (UNSOED), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), serta Universitas Parahyangan (UNPAR). Mewakili DIHI UGM, hadir Muhadi Sugiono, MA dan Dr. Siti Muti’ah Setiawati selaku pengajar studi Eropa serta staf dan peneliti IIS UGM.

Pada sesi pertama mengenai “Eropa Saat Ini: Agenda dan Tantangan”, para pengajar dari berbagai universitas menyampaikan mengenai materi-materi dalam kajian Eropa yang mereka ajarkan di kelas. Mayoritas mata kuliah Eropa di universitas-universitas anggota KIKE menitikberatkan pada topik regionalisme dan dinamika Uni Eropa yang dianggap representatif untuk menjawab bagaimana kondisi Eropa. UGM dan UNSOED juga menyediakan mata kuliah Eropa Timur dan Rusia karena pembahasan mengenai Uni Eropa dianggap terlalu fokus pada kawasan Eropa Barat. Adapun BINUS dan UII mencoba membuat kajian Eropa menjadi mata kuliah interdisipliner, yakni dengan mengkombinasikannya dengan ilmu-ilmu Teknologi Informasi dan Bisnis di BINUS. Dan memasukkan topik Hukum Bisnis oleh UII. Adapun Muhadi Sugiono sedang mengembangkan kajian untuk memaknai tata kelola Uni Eropa melalui evolusi trakta-traktat yang dihasilkan. Dan diharapkan kedepannya dapat menjadi bahan ajar atau bahkan buku akademik.

Sesi kedua membahas apa saja yang telah dilakukan dan dicapai oleh anggota-anggota KIKE selama kurun waktu 2017 terkait perkembangan kajian Eropa. Di tahun ini, UMY merupakan satu dari dua universitas – yang lain adalah Universitas Kristen Indonesia – yang berhasil mendapatkan grant dari Jean Monnet Activities untuk mengembangkan modul akademik berjudul “Pengajaran Uni Eropa untuk Meningkatkan Pemahaman Masyarakat Indonesia”. Sebagai bagian dari rencana grant, UMY juga mengembangkan situs untuk mengunggah konten-konten akademik mengenai kajian Eropa. Saat ini UMY juga sedang menyusun bahan ajar berjudul “Supranasionalisme Uni Eropa: Institusi, Kebijakan, dan Hubungan Internasional”. UMY berharap anggota-anggota KIKE dapat berperan aktif untuk membantu mengembangkan situs dan bahan ajar ini.

Sementara perwakilan BINUS, Paramitaningrum, Ph.D. menyampaikan di tahun 2017 ia menulis satu artikel jurnal berjudul “The Role of the EU Development Assistance to Address Deforestation Issue in Indonesia” yang dimuat dalam Asia-Pacific Journal of EU Studies. Saat ini, Departemen Ilmu Hubungan Internasional BINUS sedang mengembangkan kerjasama dengan Kementrian Luar Negeri Polandia, menyusul gencarnya kebijakan negara-negara Eropa Timur yang memfokuskan diri dengan negara-negara ASEAN. Sementara Muhadi Sugiono menyampaikan pelaksanaan dua Ambassadorial Lecture mengenai EU-Indonesia Update yang mendatangkan Duta Besar Indonesia untuk Uni Eropa dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Indonesia. Ia juga berkesempatan menghadiri pertemuan tahunan European Union Studies Association (EUSA) di Tokyo. Menurut Muhadi Sugiono, EUSA berpotensi menjadi mitra strategis KIKE kedepannya. Namun untuk mencapai hal tersebut, struktur KIKE harus memiliki sertifikasi berbadan hukum.

Pembahasan mengenai perlu tidaknya KIKE ditransformasikan sebagai asosiasi berbadan hukum atau mempertahankan bentuknya sebagai komunitas menjadi topik pembuka pada sesi ketiga yang membicarakan rencana KIKE di tahun 2018. Berdasarkan pembicaraan dalam forum, apabila KIKE menjadi asosiasi berbadan hukum maka akan mudah untuk menjalin kerjasama dengan mitra-mitra strategis utamanya dengan EUSA. Namun, hal ini juga dirasa dapat menyulitkan relasi KIKE yang selama ini masuk dalam struktur Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII). Dimana AIHII sendiri merupakan asosiasi berbadan hukum. Karenanya, forum memutuskan untuk menunda pengambilan keputusan mengenai transformasi KIKE dan akan mempertimbangkannya terlebih dahulu.

Adapun hasil sesi ketiga ini, di tahun 2018 KIKE akan menjalankan aktivitas sebagai berikut: (i) Mengadakan Konvensi Eropa Dwi-Tahunan dengan Universitas Bosowa sebagai tuan rumah pada bulan Juli-Agustus 2018; (ii) Lokakarya kurikulum kajian Eropa akan dilaksanakan bersamaan dengan Konvensi AIHII 2018 di bulan Desember 2018; (iii) KIKE akan berfokus untuk menghasilkan policy brief dan artikel opini secara intensif mengenai kemitraan Indonesia-Uni Eropa kontemporer; (iv) Agenda riset KIKE 2018 akan menyoal topik “Forest Law Enforcement, Governance and Trade and Voluntary Partnership Agreement” (FLEGT-VPA) dengan Muhadi Sugiono sebagai ketua tim; (v) UGM menjadi pelaksana Massive Open Online-Course (MOOC) mata kuliah Hubungan Internasional di Eropa yang juga melibatkan mahasiswa dan pengajar UBL dan Universitas Paramadina; (vi) Menetapkan Muhadi Sugiono sebagai Koordinator KIKE untuk kepengurusan di tahun 2018. Workshop Tahunan KIKE 2018 ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta. [ARY]