27 Mei 2017 By admin hi

Human Harvest: Cerita Kekejaman Perdagangan Organ Ilegal di Cina

Human Harvest: Cerita Kekejaman Perdagangan Organ Ilegal di Cina

IIS UGM mengadakan Seri Diskusi Bulanan ke-5 dengan format berbeda, kali ini diskusi diawali dengan pemutaran film sebelum uraian materi. Kegiatan pada tanggal 26 Mei 2017 pukul 13.00 – 14.30 WIB ini bertempat di Ruang BA502, FISIPOL UGM dan dihadiri oleh 12 peserta dari berbagai latar belakang. IIS UGM menjadi tuan rumah bagi Hendrini Renola, M.A., alumni program Master of Arts in International Relations (MAIR) di Departemen Ilmu Hubungan Internasional UGM, untuk memaparkan tesis hasil studinya yang bertema “Memahami Perdagangan Organ di Cina”. Guna melengkapi pemaparannya, Renola memilih film dokumenter investigasi berjudul “Human Harvest: China’s Organ Trafficking” yang disusun dari hasil investigasi aktivis HAM David Kilgour dan David Matas.

Film “Human Harvest” diproduksi di Kanada oleh sutradara Leon Lee pada tahun 2014. Berkat film ini, Leon Lee mendapat penghargaan bergengsi bagi para pegiat media elektronik Peabody Awards pada gelaran ke-74 tahun 2015 lalu. Awalnya, Lee mempelajari kasus ini dari laporan berjudul Bloody Harvest oleh David Kilgour dan David Matas yang diterbitkan tahun 2006. “Human Harvest” menyingkap praktik transplantasi organ ilegal di banyak rumah sakit negeri di Cina yang diduga berasal dari puluhan ribu terdakwa hukuman mati, utamanya terdakwa yang berasal dari kelompok spiritual Falun Gong.

Credit: Faculty Secretary FISIPOL UGM

Film ini dilengkapi oleh kesaksian pasien, keluarga pasien, dan mantan dokter yang pernah terlibat dalam praktik transplantasi. Kecurigaan saksi bertolak dari fakta bahwa ketersediaan organ dalam di Cina begitu besarnya. Apabila biasanya pasien memerlukan waktu tunggu berkisar mulai dua hingga tiga tahun, di rumah sakit-rumah sakit Cina hanya perlu menunggu paling lama tiga bulan. Selain kesaksian dari pihak yang terlibat dalam praktek transplantasi, kesaksian dari kelompok Falun Gong juga dihadirkan dalam film. Falun Gong, sebagai kelompok gerakan meditasi spiritual memiliki banyak pengikut hingga berjumlah jutaan orang dianggap mengancam bagi rezim otoritarian di Cina. Kemunculan serikat dengan jumlah sebanyak itu dikhawatirkan akan mengurangi legitimasi pemerintah di masyarakat. Beberapa kelompok masyarakat sipil lain pernah merasakan tangan besi pemerintah Cina, namun karena kepopuleran filosofi gerakan dan aktivitas meditasinya, keanggotaan Falun Gong meroket dan dinilai lebih mengancam.

Dalam sesi diskusi, Renola menambahkan bahwa pemerintah Cina sangat diuntungkan dengan industri transplantasi organ ini. Departemen Kesehatan, khususnya pada unit transplantasi organ menyumbang ratusan juta yuan setiap tahunnya. Bahkan, menurut data dari Laogai Research Foundation, untuk tahun 2006 saja The Oriental Organ Transplant Center Tianjin berhasil meraup 100 juta yuan (sekitar 190 miliar rupiah) pertahun hanya dari unit transplantasi liver. Apabila dirunut dari sejarahnya, pemerintah Cina telah memberlakukan “Aturan Pemanfaatan Mayat dan Organ dari Tahanan Eksekusi” pada tahun 1984. Sejak saat itu, hukuman mati bagi tahanan politik dapat dilangsungkan melalui “pemanenan organ”. Ketika ajaran Falun Gong mulai muncul pada tahun 1992 dan mulai dianggap meresahkan oleh pemerintah, praktik penangkapan besar-besaran pengikut kelompok ini pun dicanangkan. Puncaknya, pada sepanjang tahun 1999-2000 pemerintah mengeluarkan instruksi resmi untuk membubarkan kelompok Falun Gong hingga ke akar-akarnya.

“Pengambilan organ dari anggota kelompok tertentu tadi adalah revolusi atau bentuk lanjut dari metode penganiayaan massal yang dikoordinasi langsung oleh pemerintah Cina,” ujar Renola. Ia menelaah fenomena ini sebagai peristiwa yang tentu saja tidak mungkin terlaksana tanpa campur tangan rezim. Renola menyatakan bahwa keputusan pemerintah untuk mengkomersialisasi sektor kesehatan menjadi industri “pariwisata medis” raksasa adalah pendorong banyaknya korban jatuh akibat perdagangan organ ilegal di Cina. Unit transplantasi organ dijadikan primadona lantaran banyak menghasilkan keuntungan yang berdampak langsung pada PDB nasional. Selain itu, tidak adanya instrumen hukum internasional yang cukup untuk mengatur perihal ini juga menjadi faktor langgengnya praktik perdagangan organ ilegal di Cina. Kecaman dari komunitas internasional, seperti PBB, Amnesty International, dan Human Rights Watch belum bisa berdampak banyak pada penghentian kasus ini.[AN]