08 September 2018 By Publikasi IIS

Haul Rizal Panggabean: Memahami Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia

Haul Rizal Panggabean: Memahami Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia

Pada masa transisi demokrasi, kekerasan etnis terjadi di beberapa kota di Indonesia tetapi tidak di kota-kota lain.

Samsu Rizal Panggabean melihat teka-teki ini dan menelisik mengapa kekerasan anti-Cina bisa terjadi di Surakarta tetapi tidak di Yogyakarta. Begitu juga kerusuhan Islam-Kristen, terjadi di Ambon tetapi tidak di Manado. Pertanyaan ini kemudian diangkat menjadi tema disertasi Rizal dan diolah kembali dalam bentuk buku.

Dr. Diah Kusumaningrum—staf pengajar Departemen Ilmu Hubungan Internasional dan peneliti Institute of International Studies UGM—dalam acara peluncuran dan diskusi Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia (7/9) menyatakan pentingnya buku ini untuk dibaca khalayak luas.

Metode penelitian yang memasangkan dua kasus berhasil menggarisbawahi mengapa satu kondisi bisa menjadi insiden, tetapi tidak di tempat lainnya. Pemilihan studi kasus pun dilakukan dengan mempertimbangkan kemiripan demografi dan kondisi sosial. Itu mengapa Solo dipasangkan dengan Yogyakarta, sedangkan Ambon dengan Manado.

Buku ini menyimpulkan bahwa perubahan sentimen antirezim Orde Baru ke sentimen anti-Cina berhasil melahirkan kekerasan di Surakarta. Hal ini juga terjadi karena diiringi penarikan perlindungan dari aparat keamanan. Di sisi lain, Yogyakarta merespons sentimen tersebut dengan metode nirkekerasan dan pelibatan berbagai kalangan dalam  pengelolaan konflik serta koordinasi yang lebih lancar.

Di kasus lain, Ambon mengalami ambruknya kehidupan sehari-hari yang diperparah dengan kegagalan dalam menurunkan tensi konflik sehingga terjadi kekerasan Islam-Kristen. Sedangkan di Manado, tekanan direspons dengan nirkekerasan, yaitu dengan pengendalian batas dan koordinasi antarumat beragama.

Dikotomi antara Pribumi dan Cina serta Islam dan Kristen memang nyata, tetapi bukan menjadi penyebab kekerasan. Justru setelah kekerasan dipakai dalam konflik, dikotomi  antaridentitas muncul sebagai dampak.

“Buku ini melengkapi puzzle dalam mozaik utuh konflik,” ucap Pdt. Jacky Manuputty, Asisten Urusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerjasama Antariman dan Antarperdamaian.

Sembari  mengamini pendekatan afirmatif yang dilakukan bersama Rizal selama proses binadamai pascakonflik Poso, ia menggarisbawahi peran buku ini sebagai pemberi harapan kehidupan Indonesia yang lebih damai.

Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional UGM, Prof. Dr. Mochtar Mas’oed, selaku dosen pembimbing disertasi, menceritakan bahwa ia hanya kerap mengingatkan bahwa konflik selalu melalui proses mobilisasi.  Selebihnya Rizal-lah yang menginisiasi segala gagasan.

Sekiranya dengan diterbitkannya buku Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia, Rizal menjawab bagaimana variasi pada hubungan dan interaksi menjadi penting untuk memahami konflik. Penting juga untuk memperluas horizon penelitian tidak hanya konflik, tetapi juga pada kasus damai.

Hal ini tepat terwakili dengan salah satu ucapan beliau yang sering dikutip oleh orang-orang sekitarnya, “Jika ingin damai, belajarlah tentang damai. Bukan perang.”

Peluncuran dan diskusi buku Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia dilaksanakan Institute of International Studies bersama MPRK UGM, PUSAD Paramadina, Alvabet, dan CRCS UGM. Acara ini sekaligus memperingati setahun wafat Dr. Samsu Rizal Panggabean (1961–2017).


Penulis: Nabila Auliani Ruray
Penyunting: Imas Indra Hapsari