31 Agustus 2018 By admin hi

Dr. Nur Rachmat Yuliantoro: Jangan pernah sekali-kali melakukan plagiarisme!

Dr. Nur Rachmat Yuliantoro: Jangan pernah sekali-kali melakukan plagiarisme!

“Jangan pernah sekali-kali melakukan plagiarisme!”, begitulah pesan Dr. Nur Rachmat Yuliantoro dalam kegiatan Research Toolkit Traning (RT2) bertajuk Etika Akademik: Anti-Plagiarisme yang diselenggarakan oleh Departemen Ilmu Hubungan Internasional (31/08). Kegiatan yang rutin diselenggarakan DIHI di setiap bulannya ini berlangsung selama 2 jam yang dihadiri 32 peserta dari berbagai disiplin ilmu.

Dewasa ini, informasi sangat mudah ditemukan melalui internet. Hal ini menyebabkan banyak kecenderungan orang terdorong untuk melakukan plagiarisme. Umumnya, plagiarisme dipahami sebagai tindak pencurian karya, ide, hasil penelitian, maupun tulisan orang lain. Dr. Nur Rachmat menyebutkan bahwa plagiarisme adalah dosa besar dalam dunia akademik.

Pencurian ide atau opini menjadi sangat rentan dilakukan orang lain. Padahal, tindakan plagiarisme dalam dunia akademik ini bisa menyebabkan hukuman seperti pencabutan gelar, ijazah, denda, hingga penjara. Di Indonesia, hingga kini belum ada pelanggar yang diberikan hukuman denda atau penjara, namun pernah terjadi bahwa akademisi yang terbukti melakukan aksi plagiarisme kemudian gelar akademik dan ijazahnya dicabut.

Dalam kesempatan ini, Dr. Nur Rachmat berbagi pengalaman selama menjadi pengajar DIHI. Setidaknya ada tiga alasan mengapa mahasiswa melakukan kegiatan plagiarisme. Pertama, aksi plagiarisme biasanya dijadikan jalan pintas oleh mahasiswa. Banyak mahasiswa yang mengerjakan tugas tepat sehari sebelum dikumpulkan, dan akibat keterbatasan waktu, mahasiswa kemudian mengaku karya orang lain sebagai miliknya. Hal seperti ini bahkan pernah dilakukan tak hanya oleh mahasiswa S1, tetapi juga mahasiswa S2.

Kedua, aksi plagiarisme juga dapat dilakukan oleh mahasiswa yang memang memiliki kecenderungan untuk bersikap malas. Hal ini biasanya sudah terlihat dari aktivitas yang dilakukan mahasiswa sehari-hari misalnya jarang masuk kelas, tidak mengumpulkan tugas, dan lain-lain. Mahasiswa seperti ini, meskipun tidak semuanya, rentan melakukan tindakan plagiarisme.

Ketiga, mahasiswa luput untuk menuliskan sitasi secara lengkap. Sebagai contoh, mahasiswa menyebutkan nama si penulis, tetapi tidak menuliskan tahun penulisan. Kurang lengkapnya pemberian referensi bisa juga dianggap sebagai aksi plagiat. Plagiarisme pada dasarnya bisa dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menghindari aksi plagiarisme, misalnya parafrase maupun dengan menuliskan kutipan. Selain itu, beberapa aplikasi seperti Turnitin dan Plagium juga menyediakan platform untuk mengecek apakah ada indikasi plagiat dalam sebuah tulisan.

Di akhir kegiatan Dr. Nur Rachmat Yuliantoro menjelaskan perkembangan terbaru dalam dunia kutip-mengutip. Dahulu, orang hanya terbiasa mengutip buku, artikel, koran, maupun produk cetak lainnya. Sejalan dengan perkembangan teknologi, kini akademisi bisa mengutip video daring, surel, hingga cuitan dalam twitter seseorang.

_____

Penulis: Jelita Sari Wiedoko

Editor: Novi Dwi Asrianti