04 Desember 2018 By Publikasi IIS

Climatalk #3: Peran Hutan Adat dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Climatalk #3: Peran Hutan Adat dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Institute of International Studies menyelenggarakan seri ketiga Climatalk (22/11) di Ruang BA301 FISIPOL UGM. Dalam diskusinya, Climatalk kali ini mengundang Yuli Prasetyo Nugroho – Kepala Subdirektorat Pengakuan Hutan Adat dan Perlindungan Karifan Lokal, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Repubik Indonesia – untuk membahas hubungan dan manfaat perlindungan Masyarakat Hutan Adat (MHA) dalam proses mitigasi lingkungan.

Yuli Nugroho memulai diskusi dengan menjelaskan tentang pengakuan dan keberadaan masyarakat hutan adat di Indonesia. Menurutnya, masyarakat hutan adat adalah kelompok yang secara turun-temurun berada disuatu tempat tertentu dan memiliki hubungan leluhur yang cukup kuat. Berbeda halnya dengan dengan masyarakat lokal.

“Mereka (Red: masyarakat adat) kan itu sebetulnya identitas bangsa ini. Mereka ini harus menjadi bagian dari upaya perlindungan”, jelas Yuli.

Masyarakat adat biasanya rentan. Tepatnya, mereka rentan dalam aspek ekonomi, sosial dan politik. Perlindungan terhadap masyarakat adat menjadi relavan ketika dihubungkan dengan mitigasi perubahan iklim. Apalagi mengingat masyarakat adat sendirilah yang memanfaatkan hasil hutan dan memiliki pengaruh langsung dalam pelestariannya.

Kekuatan politik yang relatif lemah, menyebabkan mereka mendapat sedikit perhatian terutama dalam pengakuan dan perlindungan hak oleh pemerintah. Disebutkan Yuli, bahwa sampai saat ini jumlah pemerintah daerah yang memberikan perlindungan kepada masyarakat hutan adat tidak sampai 5%.

Di sisi lain, pelibatan banyak dalam pengelolaan hutan juga ikut merusak hutan baik secara langsung dan tidak langsung. Keberadaan korporasi-korporasi yang berorientasi pada profit, contohnya, sering kali mengesampingkan nilai-nilai pelestarian alam yang dijunjung oleh masyarakat hutan adat.

Yuli mencontohkan, ada masyarakat hutan adat di beberapa daerah yang tidak mau mengambil madu dan udang di daerah mereka tinggal. Hal tersebut dilakukan demi menjaga kelestarian dan keseimbangan alam. Apabila madu diambil, lebah yang merupakan hewan penyebukan alami akan terganggu. Udang juga tidak di ambil karena udang dijadikan penanda tingkat kebersihan air sungai.

Pandangan-pandangan hidup seperti inilah yang menjadikan hutan adat lebih unggul dalam aspek mitigasi lingkungan. Masyarakat hutan adat memanfaatkan hutan dengan mengutamakan nilai-nilai pelestarian lingkungan hidup ditengah-tengah maraknya korporasi yang memanfaatkan dan merusak kelestarian hutan.

Sebuah riset yang dilakukan pada tahun 2014 oleh World Resource Institute and Right and Resources Initiatives mengenai Securing Rights, Combatting Climate Change yang dilakukan di 14 negara berhutan di Amerika Latin, Afrika dan Asia, menunjukan bahwa Negara yang memberikan hak hukum kepemilikan hutannya kepada Masyarakat hutan adat dapat mengendalikan deforestasi secara lebih baik. Dengan banyaknya jumlah masyarakat hutan adat dan luas hutan di Indonesia, hal ini menjadi aspek yang patut untuk diperhitungkan dalam mendukung proses mitigasi perubahan iklim.


Penulis: Novrisa Briliantina
Editor: Imas Indra Hapsari