22 Desember 2016 By admin hi

Peningkatan Kapasitas Perempuan dalam Sistem Manajemen Bencana

Ketika Merapi meletus November 2010 lalu, Bu Jaka dan ratusan ibu-ibu yang lain terpaksa mengungsi selama sebulan lebih di Stadion Maguwoharjo, Sleman. Bu Jaka adalah satu dari sedikit orang yang tetap selamat meski bertahan di dalam rumah ketika status Awas belum dicabut. Di tengah situasi yang tidak pasti, menganggur di pengungsian menjadi beban lain yang makin menambah depresi. Menurut Bu Jaka, kebosanan ini yang membuat banyak warga memilih kembali ke rumahnya meski situasi belum cukup aman. Kelalaian warga inilah yang menjadi salah satu alasan banyaknya korban jatuh pada erupsi enam tahun lalu.

Berangkat dari isu ini, POHA UGM yang bekerjasama dengan Osaka University memiliki inisiatif untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam proses pengurangan risiko bencana. Proses pelatihan dilakukan pada November 2016 dengan panduan dari Buku Pengurangan Dampak Risiko Bencana terbitan YAKKUM Emergency Center. Tim POHA UGM memilih Desa Argomulyo sebagai tempat pelaksanaan program karena letaknya yang tak jauh dari puncak Merapi. Selain itu, Desa Argomulyo menjadi desa dengan kerusakan terparah dan jumlah korban jiwa terbanyak yaitu sebanyak 69 jiwa.

Sebelumnya Desa Argomulyo telah mendapatkan pelatihan seputar bencana dari BPBD DIY. Desa ini juga memiliki dua komunitas pemuda serta akses pada radio komunitas yang  menjadi garda terdepan dalam antisipasi bencana. Sayangnya, inisiatif warga dalam membentuk Desa Tangguh Bencana tidak cukup melibatkan perempuan. Perempuan masih dianggap sebagai aktor yang pasif dan cenderung dilihat sebatas sebagai korban. Pa–dahal, perempuan khususnya seorang ibu, memiliki peran yang besar dalam proses penanggulangan bencana. Untuk itulah, POHA memilih tema Peningkatan Kapasistas Perempuan dalam Proses Manajemen Bencana sebagai upaya melengkapi fungsi pemerintah dalam menyiapkan Desa Tangguh Bencana.

Selama ini, perempuan hanya ditugaskan untuk memenuhi keperluan domestik rumah tangga. Seringkali peran domestik inilah yang membuat perempuan ada di posisi terbawah. POHA bermaksud memberi kesadaran bagi para perempuan khususnya Desa Argomulyo bahwa fungsi domestik yang dilakukan sehari-hari sangat diperlukan di ranah publik –khususnya ketika bicara soal manajemen bencana. Untuk itu, POHA berusaha untuk mengkonstruksi kembali wacana tentang perempuan dan perannya dalam manajemen bencana. Selama ini publik termasuk perempuan itu sendiri melihat pekerjaan dapur sebagai tugas rendah yang boleh dipandang sebelah mata. Tapi bagaimana jika anggapan ini dibalik dengan mengatakan bahwa bahwa tanpa ada perempuan yang memasak di dapur umum, maka semua pengungsi akan kelaparan. Contoh-contoh seperti ini dirasa perlu untuk menggagas partisipasi perempuan dalam sistem manajemen bencana.

Dalam pelatihan yang dilakukan POHA tempo hari, ibu-ibu Desa Argomulyo berhasil menginventarisasi berbagai kegiatan domestik yang dapat ditarik ke ranah publik, khususnya ketika bicara soal proses manajemen bencana. Publik yang semula memandang remeh tugas perempuan seperti memasak, merawat anak atau mengelola keuangan rumah tangga menjadi makin menghargai fungsi ini. POHA berhasil memfasilitasi para ibu untuk menemukan berbagai pelayanan publik yang berangkat dari fungsi domestik perempuan seperti; menginisiasi sekolah darurat bagi anak-anak korban bencana, memberikan pelayanan khusus bagi kelompok rentan (balita, difabel dan lansia), serta menyiapkan tabungan bencana. Tabungan bencana sendiri merupakan sebuah program yang didesain untuk masyarakat rawan bencana dimana tiap keluarga diwajibkan mengisi tabungan dengan nominal tertentu tiap bulannya. Tabungan ini akan dikembalikan ketika bencana terjadi pada keluarga yang membutuhkan biaya untuk revitalisasi pasca bencana. Sistem tabungan bencana tidak jauh berbeda dengan asuransi, hanya saja tabungan bencana dikelola secara mandiri oleh warga dan proses pengelolaannya sesuai dengan kesepakatan bersama.

Menjadi penting untuk ditekankan bagi para ibu bahwa keterlibatan dalam sistem manajemen bencana tidak harus dengan menjadi tim SAR atau informan radio. Sebaliknya, berpartisipasi lewat cara-cara yang feminin pun ternyata tidak kalah pentingnya. Akhirnya, peningkatan kapasitas perempuan harus dimulai dari kesadaran dan kebanggaan perempuan akan fungsi dan perannya di ranah domestik. Selanjutnya barulah peran pihak terkait untuk memberi ruang yang mewadahi kapasitas perempuan.